Kamis, 16 April 2009

INFERTILITAS PADA WANITA

Memiliki keturunan adalah dambaan bagi pasangan yang telah menikah. Dalam agama di sebutkan bahwa salah satu tujuan pasangan melangsungkan pernikahan adalah melahirkan dan membina generasi baru yang tangguh dalam menegakkan syariat Islam di bumi. Generasi penerus yang akan memakmurkan bumi. Anak yang shalih dan shalihah yang mendoakan kedua orang tuanya adalah amal jariyah yang tiada putus pahalanya dari Allah SWT.
Fertilitas atau kesuburan adalah kemampuan pasangan menjadikan kahamilan dan kelahiran seorang anak hidup. Sedangkan infertilitas atau ketidaksuburan merupakan ketidakmampuan pasangan untuk menjadikan kehamilan dan kelahiran anak. Kasus infertilitas ini menjadi sangat sensitif bagi pasangan, yang pada sebagian kasus akan mengakibatkan keretakan rumah tangga.
Infertilitas merupakan masalah kompleks. Penyebab infertilitas dari pihak wanita sekitar 40%, dari pihak pria sekitar 40%, dan faktor keduanya sekitar 20%. Pada tulisan ini akan dibahas infertilitas pada wanita yang dirangkum secara komprehensif.
Menurut Dr. Abdurrahman Laqif, SpOG dalam sebuah simposium An Update Management of Infertility yang diadakan oleh Himpunan Mahasiswa DIV Kebidanan memberikan penjelasan lebih jauh mengenai infertilitas pada wanita.
BAGAIMANA FUNGSI SISTEM REPRODUKSI WANITA?
Organ utama dalam sistem reproduksi wanita adalah:
1. Uterus ( rahim)
2. Endometrium, yang merupakan lapisan di dalam ronggan uterus yang selama kehamilan menebal dan berisi banyak pembuluh darah yang berfungsi untuk tempat hidup dan mensupport kehidupan janin. Bila tidak ada kehamilan maka lapisan ini akan luruh secara periodik pada saat menstuasi.
3. Serviks Uteri ( leher rahim)
4. Tuba Fallopi ( saluran tempat terjadinya fertilisasi atau pembuahan )
5. Ovarium ( indung telur ) yang mempunyai 200.000-400.000 folikel paa saat pubertas juga memproduksi hormon esterogen, progesteron, dan testosteron atas perintah FSH dan LH
6. Hipotalamus yang memproduksi gonadotropin-releasing hormone (GnRH)
7. Hipofise ( pituitari) yang memicu follicle stimulating hormone FSH dan luteinizing hormone LH karena dipicu oleh GnRH
Ovulasi merupakan proses yang rumit tetapi penting dalam fertilisasi. Tergantung pada sistem organ dan sistem hormon. Fertilisasi terjadi sebagai berikut : sperma yang telah dikeluarkan dapat bertahan sampai tiga hari bila sampai tuba fallopi. Sedangkan sel telur dapat bertahan hingga 24 jam, kecuali bila dibuahi, biasanya di ampulla tuba. Bila sel telur (ovum) dibuahi maka akan terjadi pembelahan zigot dan akan dihantarkan dalam rahim dalam waktu 2-4 hari, kemudian menempel (berimplantasi) pada dinding endometrium pada hari ke 6-7.
APA SAJA FAKTOR RESIKO INFERTILITAS PADA WANITA
Penyebab terjadinya infertilitas antara lain : gangguan ovulasi, penyakit tuba/pelvis, faktor pria, dan faktor lain yang tak dapat dijielaskan. Anovulasi merupakan penyebab infertilitas sekitar 30% dari wanita, faktor rahim atau tuba bertanggung jawab atas 20%, faktor pria kira-kira 40 %, faktor kelainan anatomi kira-kira 5%, faktor serviks atau faktor imunologi merupakan sisa dari kasus tanpa kelainan yang spesifik (unexplained infertility).
Faktor gaya hidup dan lingkungan memberikaan kontribusi besar pada kejadian infertilitas.
1. Merokok
Nikotin dan unsur-unsurnya seperti nikotin memiliki efek tak diinginkan pada banyak mekansme biologi yang diperlukan untuk mekanisme reproduksi manusia dan hewan percobaan. Wanita yang merokok memilki kadar esterogen yang bersirkulasi lebih rendah an lebih cepat mengalami menopause. Ini bisa disebabkan adanya atresia oosit. Merokok memperlamawaktu konsepsi dan terjadiny abortus spontan. Merokok juga menurunkan jumlah dan kualitas sperma.
2. Alkohol, zat aditif dan kafein
Konsumsi alkohol dalam jumlah besar dapat mengurangi kesuburan dan berwfwk buruk terhadap organ reproduksi. Wilcox, et al melaporkan bahwa wanita yang menikah yang minum kopi lebih dari empat cangkir perhat=ri memlliki kesempatan hamil 81% persilkus dari wanita yang tidak minum kopi. Grodstein, et al juga melaporkan bahwa konsumsi kafein lebih dari 7 gran perbulan meningkatnkan resiko faktor tubal, endometriosis dan infertilitas karena faktor serviks. Mueller, et al melaporkan bahwa ganja meningkatkan resiko infertil karena faktor ovulatory terutama pada pemakaian saat pregnancy. Mekanisme anovulasi terjadi karena penekanan pada sekresi GnRH dan gonadotropin.



3. Faktor lingkungan
Polusi udara, zat kimia yang terkandung pada tempat makanan yang terbuat dari plastik, pestisida, paparan yang kuat terhadap gelombang elektromagnetik microwave dan emisi mikrowave.

4. Stress
Stress bisa menyebabkan gangguan menstruasi terutama amenore (tidak menstruasi) dan meningkatkan kejadian abortus (keguguran).
PENYEBAB INFERTILITAS PADA WANITA
1. Disfungsional ovulasi
Pasien-pasien ini dapat dibagi menjadi 3 kategori berdasar pada kondisi hormonal mereka. Pertama termasuk pasien dengan hypoesterogenic hypogonadism. Pasien ini memiliki kadar estrogen seperti wanita postmenopausal, denagn kadar FSH normal sampai rendah. Dengan kadar PRL normal. Kelompok ini termasuk pasien-pasien amenorea hipotalamik, anoreksia nervosa, amenorea karena latihan latihan berat/penurunan berat badan berlebihan, dan sindrom Kallman.
Kelompok kedua meliputi kelopmpok pasien denagn kadar essterogen dan FSH normal. Sindrom ovaria Polikistik merupakan contoh kelompok ini.
Kelompok yang ketiga ditandai dengan adanya hipogonadisme hipergonadotropic. Pasien-pasien ini kadar FSH meningkat dan kadar estrogen rendah (seperti wanita post menopause), termasuk kegagalan ovaian prematur.
2. Kegagalan ovarium prematur (menopause terlalu awal)
Sindrom ovariaum polikistik ( Policystic Ovarian Syindrom / PCOS) adanya temuan obesitas yang patologis, amenorea tidak menstruasi) / oligomenorea (siklus menstruasi panjang) dan hirsutisme pertama digambarkan oleh Stein dan Leventhal dalam 1935. PCOS merupakan penyebab anovulasi kerena faktor ovarium yang paling banyak. Dikenal sebagai suatu sindrom dari anovulation dan hyperandrogenism yang kronis. Ini adalah salah satu yang paling banyak menyebabkan gangguan kesehatan, seperti obesitas, peningkatan resiko penyakit kardiovaskuler, noninsulin dependent DM, dan kanker endometrium.
3. Kelainan fungsi tiroid
Hipertiroidisme dan hipotiroidisme bisa mengakibatkan gangguan haid karena terjadinya anovulasi. Mekanisme terjadinya gangguan haid muncul karena terjadi perubahan metabolisme androgen dan estrogen. Tingkat dari gangguan bervariasi dari amenorea ke perdarahan uterus disfungsional. Kecuali pada kasus-kasus berat, kebanyakan pasien-pasien hipertiroid masih mengalami ovulasi dan subur. Oleh karena itu adanya kehamilan tetap herus dipertimbangkan pada pasien amenorea yang menderita hipertiroid.
4. Hiperprolaktinemia
Prolaktin disekresi terutama oleh sel-sel lactotrophs hipofise dari posterolateral adenohipofisis, yang merupakan lokasi yang paling terjadi priolaktinoma. Prolaktin adalah suatu hormon peptida yang mempunyai struktur serupa denga hormon somatomamotropik termasuk hormon pertumbuhan dan human placental lactogen. Sekresi laktogen dipicu oleh bermacam substansi, seperti TRH, GnRH dan oksitosin. Mekanisme terjadinya anovulasi pada amenorea hiperprolaktinemia diperkrakan karena adanya hambatan pulsatilas GnRH oleh karena peningkatan kadar PRL . hiperprolaktinemia menyebabkan suatu kegagalan dari respon umpan balik positif yang diikuti oleh pengeluaran gonadotropin yang dipicu oleh estrogen. Sehingga pasien memperlihatkan kadar LH dan FSH yang rendah.
5. Faktor tuba dan panggul
Dinegara maju kejadian radang panggul pada wanita usia 15 sampai 39 tahun adalah 10-13 per 1000 wanita, pada kelompok umur 20-14 tahun kira-kira 20 per 1000 wanita. Timbulnya adang panggul sangat berhubungan denagn penyakit PMS (penyakit menular seksual) yaitu neisseria dan Chlamydia trachomatis. Resiko terjadinya PMS meningkat dengan banyaknya mitra seksual. Faktor resiko juga dihunbungkan dengan awal usia pertama kali hubungan seks,status perkawinan dan penggunaan obat. Penelitian Westrom menunjukkan bahwa radang panggul merupakan faktor risiko kuat terjadinya infertilitas karena faktor tuba atau kehamilan ektopik. Pemakaian alat kontrasepsi IUD dihubungkan dengan risiko peningkatan kejadian radang panggul dan infertilitas.
6. Endometriosis
Kejadian endometriosis dilaporkan lebih benyak terjadi pada wanita infertil daripada yang fertil. Verkauf membandingkan 143 wanita yang dilakukan laparoskopi diagnostik untuk infertilitas dengan 251 wanita subur yang menjalani ligasi tuba secara laparoskopik. Endometriosis ditemukan 38,5% dari pasien infertil dibandingkan 5,2% dari wanita subur. Mekanisme endometriosis menyebabkan infertilitas bervariasi. Perlengketan tuba fallopi dan indung telur dapat menyebaban gangguan mekanis dalam transfer telur ke fimbria. Endometriosis berat dapat menyebabkan obstruksi tuba. Telah dilaporkan adanya peningkatan prostaglandin pada cairan peritoneal pasien denagn enndometriosis. Ini bisa menghalangi motilitas tuba atau folliculogenesis dan fungsi kor[us luteum. Sebagai tambahan peningkatan jumlah makrofag peritoneal dan sitokinin-sitokinin juga dilaporkan pada wanita dengan endometriosis. Makrofag=makrofag ini dapat menyebabkan fagositosis dari spermatozoa.
7. Kelainan fase luteal (kagagalan implantasi)
Kelainan fase luteal disebabkan oleh kelemahan korpus luteum dalam memproduksi progesteron. Progesteron berfungsi untuk mempersiapkan endometrium selama implantasi dan pertumbuhan embrio di uterus. 25-60% wania mengalami infertilaiats karena kegagalan implantasi hasil konsepsi pada endometrium.
8. Mioma uteri
Mioma uteri terutama yang besar atau mioma submukosa dapat menyebabkan kelainan pada endometrium, penyumbatan tuba fallopii, atau kelainan rongga uterus, dan perubahan posisi serviks uteri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan tinggalkan jejak...