Sejak pertemuan terakhir di pagi itu aku tak pernah bertemu dia lagi. Kami hanya saling mengirim sms. Aku mendapatkan nomor hp dari temannya. Dan saat iseng aku sms dia. Ternyata sms itu berlanjut. Aku hanya berniat untuk berteman saja. Pada awalnya sebuah kekaguman yang aku salutkan padanya. Selama ini aku tau bahwa dia juga pegiat Islam. Kami sering sharing tentang kegiatan sehari-hari. Saling memberikan dukungan dan nasihat saat ada yang mengalami masalah.
Affan adalah mahasiswa MIPA Fisika yang sangat rendah hati. Dari pembicaraannya tak pernah ada kalimat yang mengunggulkan siapa dirinya. Aku mengetahui siapa sebenarnya dia bukan dari dia tapi dari penuturan teman-temannya. Pernah juga suatu saat aku mendapat surprise tak terduga saat aku tahu dia adalah ketua dari UKM yang baru saja aku ikuti. Dia juga seorang ketua himpunan mahasiswa jurusan yang punya banyak teman. Namun jika aku tanya dia aktif dimana, pasti dia jawab “pelayan masyarakat”.
Selama berteman ini aku mulai mengenal bahwa dia adalah pekerja keras. Dia punya mimpi besar dan target-target yang harus diraihnya. Kadang dia juga berbisnis, aku sendiri tak tahu bisnis apa. Gaya hidupnya biasa, tapi apa yang dilakukannya luar biasa.
Hari hari berlalu, aku menyadari bahwa ada yang salah dalam hubungan kami. Hubungan kami tak hanya sekedar memberi sms motivasi tapi juga mulai mengarah ke perasaan yang lebih dari itu. Suatu ketika dia pernah panik saat jaringan telepon bermasalah sehingga sms yang dia kirimkan pending semua. Keesokan paginya sms yang sempat tertahan di awang-awang itu baru bisa terkirim ke hp-ku. Ada 14 sms darinya. Semua mempertanyakan kenapa aku tidak membalas smsnya. Dia juga mengatakan dalam smsnya bahwa dia mencoba menghubungiku lewat telepon sejak subuh, tapi tidak bisa. Dia mulai menyerah dan mengatakan dalam smsnya untuk pergi dari hidupku.
Aku sendiri kaget membaca smsnya. Aku merasa tak punya masalah apa-apa. Dari semalam memang tak ada sms apapun darinya. Siangnya dia meneleponku. Dia menanyakan kenapa sejak semalam aku tidak membalas smsnya. Aku katakan bahwa jaringan sedang trouble sehingga tak ada sms yang masuk. Ya, hanya itu yang dia tanyakan.
Sms berikutnya membuat aku lebih kaget lagi. Sms itu dikirim tiga jam yang lalu tapi baru masuk.
“Maafin aku, aku sayang kamu karena Allah”.
Ada degup yang tak beraturan dalam dadaku. Kaget, heran, seneng, ragu, bingung. Seperti ada gelombang tsunami dahsyat yang menghantam perasaanku. Aduh, aku terperosok juga!!
Setelah saat itu aku menyadari bahwa hubungan kami sudah tidak selayaknya. Aku ingin melepaskan diri dari situasi ini sebelum semua bertambah parah. Aku menyadari kesalahan ini dan aku ingin berhenti. Aku mulai membaca buku untuk menjawab problem yang aku hadapi. Aku diamkan dia.
Lalu dia mencoba meyakinkan aku bahwa perasaannya tulus dia rasakan sejak awal pertemuan. Dia mengatakan akan membuktikan kata-katanya bahwa dia akan berusaha untuk lulus dan menginginkan untuk menikahiku dengan proses yang baik. Aku semakin dihantam gelombang keras. Aku tidak ingin dia banyak berjanji karena semua berjalan atas kehendak-Nya. Aku pun menjadi protective terhadap hatiku. Aku mengatakan padanya bahwa hal paling logis yang dapat kami lakukan sekarang hanyalah berusaha meraih cita-cita dulu. Dia pun sangat mendukung kata-kataku. Kami berdua sama-sama berprinsip tidak pacaran.
Lebih jauh aku menyadari bahwa aku mulai tidak konsentrasi pada kuliahku. Virus merah jambu ini kadang melemahkan semangat. Memang benar apa kata orang bahwa virus merah jambu semakin didekati maka semakin menjadi. Tak ada yang mampu mengontrol diri jika sudah seperti ini. Dia terlalu baik. Namun aku harus bisa melepaskan diriku. Meskipun dia seperti Fahri-nya Kang Abik tapi aku tetap harus melepasnya. Berat tapi lama-lama pasti terbiasa. Aku yakin itu.
Aku tak mungkin menyimpan rasa ini sendiri. Aku menceritakannya pada Yang Maha Mendengar. Berdoa pada Allah untuk memberikan jalan yang terbaik untuk kami. Agar dia melindungi kami dan meneguhkan kami di jalan Allah. Aku merasa sudah tidak khusyuk dalam ibadah karena ada bayangnya. Allah, aku malu pada-Mu. Aku ikhlas pada takdir-Mu.
Kini sudah 3 bulan kami tidak saling menghubungi. Akhirnya aku bisa fokus pada kuliah dan praktik klinik. Setelah berusaha keras pada bulan pertama. Sedih, tapi aku harus lebih kuat. Aku ingin membuktikan janji pada kedua orang tua agar bisa lulus tepat waktu dan menjadi anak kebanggaan kedua orang tuaku. Aku kembali bersemangat karena aku ingat bahwa ayahku sudah bekerja keras untuk membiayai kuliah yang tidak murah. Ibuku selalu menyebut namaku dalam lirih doanya. Beliau selalu memenuhi kebutuhanku demi proses pencapaian cita-citaku. Ibu dan ayahku yang mendambakan aku menjadi bidan muslimah yang bermanfaat untuk masyarakat. Dan aku bertanggung jawab untuk mewujudkan mimpi ayah dan ibu.
Keyakinanku akan kuasa Allah bahwa Dia lebih tahu apa yang terbaik. Dan aku panjatkan sebuah doa pada-Nya dan aku percaya suatu saat Allah akan menjawab doa itu. Kini aku harus menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang akan membuatku mengalihkan perhatian pada hal yang lebih penting. Kuliah.
“Ka, di langit bintangnya bagus yah. Cerah banget. Indah. Subhanallah...” Kirana membuyarkan lamunanku. Sejak dua jam yang lalu dia menemaniku duduk di atas balkon.
Aku menoleh dan tersenyum padanya.
“ Setiap malam, kerlipnya indah, Na. Subhanallah...” lirihku dalam hati.
Rabu, 25 November 2009
BUKAN CERITA FAHRI..... eps 2
Waktu berlalu. Tak terasa telah dua bulan berjalan dari pertemuan yang di Training EQM itu. Aku sekarang sedang menjalani praktek klinik di rumah sakit. Sebagai mahasiswa kebidanan aku sangat bersemangat menjalani every single day dalam hidupku. Karena aku mencintai duniaku sekarang. Aku mencintai dunia kebidanan. Menjadi bidan adalah salah satu profesi mulia karena bidan menolong ibu yang melahirkan. Dengan ijin Allah, seorang bidan menjadi perantara penolong dua nyawa. Itulah kata-kata ayahku yang selalu terngiang dalam benakku dan menjadi penyemangatku dalam setiap proses perkuliahan dan praktek yang aku tekuni. Sebenarnya bidang garap kebidanan tidak cuma menolong persalinan, tapi luas dari dari mulai bayi sampai lanjut usia.
Banyak kasus yang aku temukan di lapangan. Kasus normal maupun tidak normal. Semuanya membuat aku lebih yakin dan takjub pada kuasa Allah. Saat bayi lahir dari rahim ibunya, dia menangis. Dia adalah makhluk mungil yang dipelihara Allah selama 40 minggu dalam kandungan ibunya. Rasa haru selalu saja memenuhi dadaku saat ibu mulai menggendong dan menyusui bayinya. Indah.
Sms masuk ke hp-ku suatu malam setelah aku membantu menolong persalinan. Aku membukanya.
“ I wonder why, I can’t get u out of my mind.”
Aku tersenyum. Aku mengetik balasan untuknya,“I can say nothing”
Aku tunggu lama, tapi tak ada balasan lagi. Lalu dua jam kemudian ada sms masuk.
“ Kenapa kamu cuekin aku?”
Aku balas, ” sorry, aku ada pasien tadi.”
“ Dari tadi kamu ga respons,” balasnya.
Aku enggan membalasnya. Terlalu manja untuk seorang laki-laki. Aku juga tidak mau nantinya terlalu larut dalam kata-katanya.
Malam berikutnya aku baru pulang dari rumah sakit jam 21.30 malam. Inilah yang harus aku jalani tanpa keluh kesah. Memang tidak baik untuk seorang perempuan, tapi inilah yang harus aku jalani untuk menimba ilmu di lahan. Sebuah sms masuk dan aku membukanya.
“Sedang apa?”
“ Baru pulang dari rumah sakit, km?”tanyaku.
“ Kamu baru pulang?? Tadi ada temannya,kan? Aku lagi baca-baca.”
“ Iya ada temannya, Kirana namanya.”
“Ada sebuah cerita. Dulu waktu ketemu kamu di acara training aku ingin minta no hpmu. Tapi aku malu. Lalu aku berdoa semoga kita di pertemukan. Esok paginya kita bertemu lagi. Aku ga nyangka. Aku mau minta no hpmu, masih malu juga. Lalu aku pasrah, InsyaAllah diberikan jalan.”
Aku spontan kaget membaca sms itu. Apa maksudnya??? Seolah dia mengharapkan bertemu lagi. Untuk apa?? Sms Affan yang terakhir itu spontan membuat aku berpikir kenapa dia menceritakan itu. Aku bertanya padanya.
“ Apa yang kamu rasakan sekarang?”
“ Aku bersyukur ”, dia pandai berkata-kata. Kata-kata itu melukiskan senyum di bibirku.
Banyak kasus yang aku temukan di lapangan. Kasus normal maupun tidak normal. Semuanya membuat aku lebih yakin dan takjub pada kuasa Allah. Saat bayi lahir dari rahim ibunya, dia menangis. Dia adalah makhluk mungil yang dipelihara Allah selama 40 minggu dalam kandungan ibunya. Rasa haru selalu saja memenuhi dadaku saat ibu mulai menggendong dan menyusui bayinya. Indah.
Sms masuk ke hp-ku suatu malam setelah aku membantu menolong persalinan. Aku membukanya.
“ I wonder why, I can’t get u out of my mind.”
Aku tersenyum. Aku mengetik balasan untuknya,“I can say nothing”
Aku tunggu lama, tapi tak ada balasan lagi. Lalu dua jam kemudian ada sms masuk.
“ Kenapa kamu cuekin aku?”
Aku balas, ” sorry, aku ada pasien tadi.”
“ Dari tadi kamu ga respons,” balasnya.
Aku enggan membalasnya. Terlalu manja untuk seorang laki-laki. Aku juga tidak mau nantinya terlalu larut dalam kata-katanya.
Malam berikutnya aku baru pulang dari rumah sakit jam 21.30 malam. Inilah yang harus aku jalani tanpa keluh kesah. Memang tidak baik untuk seorang perempuan, tapi inilah yang harus aku jalani untuk menimba ilmu di lahan. Sebuah sms masuk dan aku membukanya.
“Sedang apa?”
“ Baru pulang dari rumah sakit, km?”tanyaku.
“ Kamu baru pulang?? Tadi ada temannya,kan? Aku lagi baca-baca.”
“ Iya ada temannya, Kirana namanya.”
“Ada sebuah cerita. Dulu waktu ketemu kamu di acara training aku ingin minta no hpmu. Tapi aku malu. Lalu aku berdoa semoga kita di pertemukan. Esok paginya kita bertemu lagi. Aku ga nyangka. Aku mau minta no hpmu, masih malu juga. Lalu aku pasrah, InsyaAllah diberikan jalan.”
Aku spontan kaget membaca sms itu. Apa maksudnya??? Seolah dia mengharapkan bertemu lagi. Untuk apa?? Sms Affan yang terakhir itu spontan membuat aku berpikir kenapa dia menceritakan itu. Aku bertanya padanya.
“ Apa yang kamu rasakan sekarang?”
“ Aku bersyukur ”, dia pandai berkata-kata. Kata-kata itu melukiskan senyum di bibirku.
Selasa, 24 November 2009
BUKAN CERITA FAHRI..... eps 1
Matahari di kota Solo terasa berbeda. Musim kemarau tahun ini lebih panas dari tahun lalu. Global warming telah merambah bumi yang kian padat ini. Perindustrian berkembang pesat di mana-mana. Kendaraan bermotor, pendingin udara, gas produk-produk pengharum yang mengandung CFC telah menjadi penyuplai gas rumah kaca yang terakumulasi dalam jumlah besar di atmosfer yang menghalangi panas matahari keluar dari atmosfer bumi. Perusakan hutan dan lingkungan oleh tangan-tangan jahil yang meraup keuntungan milyaran. Disempurnakan oleh lifestyle manusia yang tidak sesuai dengan prinsip ramah lingkungan semakin memperparah kerusakan alam. Ya,inilah pe-er yang harus dikerjakan oleh generasi muda bangsa ini, menyelamatkan bumi ini dari kerusakan dan sekaligus melestarikannya!
Kuliah farmakologi telah selesai. Dr. Sastroatmodjo keluar dari ruang kuliah disusul teman-teman lain yang sudah tidak sabar pengen pulang. Aku dan Kirana keluar paling akhir. Peluh sedikit membasahi dahi saat aku dan Kirana berjalan ke ruang BEM. Aku menyapu peluh dengan tissue yang aku pegang sejak kuliah tadi. Mataku langsung tertuju pada sebuah pamflet yang bertuliskan Training EQM di papan mading. Aku ingin sekali ikut. Karena di sini aku akan belajar mengontrol diri dan emosiku. Dan betapa beruntungnya, Mbak Niar mengajakku dan Kirana mengikuti acara itu sebagai wakil BEM. Ah....alhamdulillah. Langsung saja aku mendaftar ke nomor yang ada di pojok kiri bawah pamflet.
Besok paginya, tepat pukul 8.00 aku dan Kirana sudah ada di Aula MIPA. Masih sepi sekali. Sepertinya acara akan molor sampai jam 9.00. Jam karet sudah sedemikian membudaya negeri ini, terkenal sampai ke luar negeri. Predikat ini memang tak membanggakan. Waktu adalah kesempatan untuk berbuat, meningkatkan kualitas hidup. Tapi tak banyak yang memperhatikannya. Dan waktu berlalu untuk menunggu.
Aku antusias sekali mengikuti acara ini. Pak Budi, seorang dosen Fakultas Agama Islam UMS yang menjadi trainernya. Peserta dilatih untuk peka mengenal kepribadian diri sendiri dan orang lain sehingga peserta mampu berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan kepribadiannya.
Ada sesi dimana peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Seorang tutor telah mendatangi kelompokku, dia berperawakan sedang, berkulit cokelat dan tersenyum ramah.
“Kelompok 5 ya? Insyaallah saya akan menjadi pendamping di kelompok ini”.
“Iya, benar ini kelompok 5”, jawabku.
Sesaat kemudian teman sekelompokku membuat posisi melingkar. Kami terdiri dari enam orang plus pembimbing yang belum aku tahu namanya itu.
“ Assalamualaikum, nama saya Affan. Di kesempatan kali ini saya akan membantu teman-teman untuk diskusi bareng,” perkenalannya sangat singkat. Dia terlihat sopan, ramah, kalem, dan selalu tersenyum. Perkenalan itu diikuti dengan teman teman lain sekelompok. Kebetulan dia duduk tepat di hadapanku. Aduh, ini posisi yang sulit!
Ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan Mas Affan. Kami sekelompok diminta menulis jawabannya di kertas. Lalu nanti dibacakan bergiliran. Pertanyaan pertama, bagaimana sifat yang ada di diri kita. Buat aku ini bukan pertanyaan sulit. Langsung aku tuliskan di selembar kertas tentang sifat apa aja yang melekat padaku. Sekilas aku melirik ke teman-teman lain mereka terlihat masih berpikir. Menggigit pulpen dan pandangan matanya lurus ke lantai. Mungkin di situ ada jawabannya. Lebih lucunya lagi ada yang melirik jawaban temannya. Lalu senyum-senyum sendiri.
Mas Affan juga melihat tingkah kami. Dia nyeletuk, “ Kenapa kok pada diem? Mungkin belum pernah menganalisa sifat yang ada pada diri sendiri ya? Tapi Malika ini lancar banget nulisnya. Mungkin udah kenal karakter diri sendiri ya, Malika?”
Teman-teman yang tadinya melihat lantai, sekarang semua malihat padaku. “Iya... mungkin. Hehehe.. “ jawabku sekenanya.
Setelah makan siang ada satu sesi dimana setiap anak diberi kesempatan untuk saling memberi penilaian pada teman. Disana teman teman lain punya pasangan untuk berbicara. Sedangkan aku tak punya. Akhirnya aku ngobrol sama Mas Affan. Dan menyenangkan ngobrol bareng dia. Dia seorang pendengar yang baik dan memberikan feedback secara tepat.
Saat itu aku memang banyak ngobrol bareng dia, tapi aku tak berani menatap dia lama lama. Aku takut nanti bisa terjadi apa apa. Aku hanya menatapnya sekilas aja saat dia mulai pembicaraannya. Sampai salah satu temanku menganggap aku seorang yang pemalu karena selalu menunduk. Namun yang sebenarnya adalah ‘aku takut’.
Sore acara yang menyenangkan itu selesai. Sebelum pulang Mas Affan sempat menyapaku.
“Malika. Makasih yah. Sambil menelungkupkan tangan di depan dadanya.”
“ Sama-sama, mas”. Jawabku singkat, lalu aku pulang bareng Kirana.
Malamnya aku merasa ada yang sedang menyusup dalam hatiku. Sebuah perasaan yang sedikit demi sedikit mulai mengganggu. Kekaguman. Siang tadi teman-temannya memanggilnya Fahri. Kepribadiannya mungkin mirip Fahri, tokoh dalam buku Ayat-Ayat Cinta yang sangat berkesan. Sampai-sampai aku mengalirkan anak sungai air mata di pipiku saat membaca novel pembangun jiwa itu.
Aku shalat. Aku berdoa dalam sujudku agar Allah senantiasa melindungiku. Agar aku terlindung dari perasaan yang terlarang. Aku menangis karena aku takut aku akan menjadi lemah dengan pertemuan tadi siang. Hingga lama aku menangis, kuluapkan apa yang ingin aku ungkapkan pada Allah agar Dia menenangkan perasaan yang tak tentu ini. Dan Dia mengabulkannya. Dia Maha Menguasai Hati hambanya.
Kuliah farmakologi telah selesai. Dr. Sastroatmodjo keluar dari ruang kuliah disusul teman-teman lain yang sudah tidak sabar pengen pulang. Aku dan Kirana keluar paling akhir. Peluh sedikit membasahi dahi saat aku dan Kirana berjalan ke ruang BEM. Aku menyapu peluh dengan tissue yang aku pegang sejak kuliah tadi. Mataku langsung tertuju pada sebuah pamflet yang bertuliskan Training EQM di papan mading. Aku ingin sekali ikut. Karena di sini aku akan belajar mengontrol diri dan emosiku. Dan betapa beruntungnya, Mbak Niar mengajakku dan Kirana mengikuti acara itu sebagai wakil BEM. Ah....alhamdulillah. Langsung saja aku mendaftar ke nomor yang ada di pojok kiri bawah pamflet.
Besok paginya, tepat pukul 8.00 aku dan Kirana sudah ada di Aula MIPA. Masih sepi sekali. Sepertinya acara akan molor sampai jam 9.00. Jam karet sudah sedemikian membudaya negeri ini, terkenal sampai ke luar negeri. Predikat ini memang tak membanggakan. Waktu adalah kesempatan untuk berbuat, meningkatkan kualitas hidup. Tapi tak banyak yang memperhatikannya. Dan waktu berlalu untuk menunggu.
Aku antusias sekali mengikuti acara ini. Pak Budi, seorang dosen Fakultas Agama Islam UMS yang menjadi trainernya. Peserta dilatih untuk peka mengenal kepribadian diri sendiri dan orang lain sehingga peserta mampu berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan kepribadiannya.
Ada sesi dimana peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Seorang tutor telah mendatangi kelompokku, dia berperawakan sedang, berkulit cokelat dan tersenyum ramah.
“Kelompok 5 ya? Insyaallah saya akan menjadi pendamping di kelompok ini”.
“Iya, benar ini kelompok 5”, jawabku.
Sesaat kemudian teman sekelompokku membuat posisi melingkar. Kami terdiri dari enam orang plus pembimbing yang belum aku tahu namanya itu.
“ Assalamualaikum, nama saya Affan. Di kesempatan kali ini saya akan membantu teman-teman untuk diskusi bareng,” perkenalannya sangat singkat. Dia terlihat sopan, ramah, kalem, dan selalu tersenyum. Perkenalan itu diikuti dengan teman teman lain sekelompok. Kebetulan dia duduk tepat di hadapanku. Aduh, ini posisi yang sulit!
Ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan Mas Affan. Kami sekelompok diminta menulis jawabannya di kertas. Lalu nanti dibacakan bergiliran. Pertanyaan pertama, bagaimana sifat yang ada di diri kita. Buat aku ini bukan pertanyaan sulit. Langsung aku tuliskan di selembar kertas tentang sifat apa aja yang melekat padaku. Sekilas aku melirik ke teman-teman lain mereka terlihat masih berpikir. Menggigit pulpen dan pandangan matanya lurus ke lantai. Mungkin di situ ada jawabannya. Lebih lucunya lagi ada yang melirik jawaban temannya. Lalu senyum-senyum sendiri.
Mas Affan juga melihat tingkah kami. Dia nyeletuk, “ Kenapa kok pada diem? Mungkin belum pernah menganalisa sifat yang ada pada diri sendiri ya? Tapi Malika ini lancar banget nulisnya. Mungkin udah kenal karakter diri sendiri ya, Malika?”
Teman-teman yang tadinya melihat lantai, sekarang semua malihat padaku. “Iya... mungkin. Hehehe.. “ jawabku sekenanya.
Setelah makan siang ada satu sesi dimana setiap anak diberi kesempatan untuk saling memberi penilaian pada teman. Disana teman teman lain punya pasangan untuk berbicara. Sedangkan aku tak punya. Akhirnya aku ngobrol sama Mas Affan. Dan menyenangkan ngobrol bareng dia. Dia seorang pendengar yang baik dan memberikan feedback secara tepat.
Saat itu aku memang banyak ngobrol bareng dia, tapi aku tak berani menatap dia lama lama. Aku takut nanti bisa terjadi apa apa. Aku hanya menatapnya sekilas aja saat dia mulai pembicaraannya. Sampai salah satu temanku menganggap aku seorang yang pemalu karena selalu menunduk. Namun yang sebenarnya adalah ‘aku takut’.
Sore acara yang menyenangkan itu selesai. Sebelum pulang Mas Affan sempat menyapaku.
“Malika. Makasih yah. Sambil menelungkupkan tangan di depan dadanya.”
“ Sama-sama, mas”. Jawabku singkat, lalu aku pulang bareng Kirana.
Malamnya aku merasa ada yang sedang menyusup dalam hatiku. Sebuah perasaan yang sedikit demi sedikit mulai mengganggu. Kekaguman. Siang tadi teman-temannya memanggilnya Fahri. Kepribadiannya mungkin mirip Fahri, tokoh dalam buku Ayat-Ayat Cinta yang sangat berkesan. Sampai-sampai aku mengalirkan anak sungai air mata di pipiku saat membaca novel pembangun jiwa itu.
Aku shalat. Aku berdoa dalam sujudku agar Allah senantiasa melindungiku. Agar aku terlindung dari perasaan yang terlarang. Aku menangis karena aku takut aku akan menjadi lemah dengan pertemuan tadi siang. Hingga lama aku menangis, kuluapkan apa yang ingin aku ungkapkan pada Allah agar Dia menenangkan perasaan yang tak tentu ini. Dan Dia mengabulkannya. Dia Maha Menguasai Hati hambanya.
Kamis, 19 November 2009
mengunci target
hati ini mengaduh
retak karena terjatuh dari tangan yang tak mampu menjaganya dengan hati
lalu hati ini ingin kembali menggapai mimpi yang sempat tertunda
matahari terik mengeringkan air mata
menampar keras mukaku dan berkata nyaring
apa yang kau lakukan dengan waktumu hai gadis lemah???
sakit rasanya pipiku, hatiku...
menyadari tujuan yang terlewatkan begitu saja karena pendiriannya mulai rapuh
rapuh karena manis kata yang keluar dari bibir pendusta
aku tahu aku tak mungkin menunduk terlalu lama
aku harus membuka kembali mataku dan melihat duniaku
meresapi keadaan sekeliling dan mulai bekerja
menemukan tujuan hidup sejati yang tersimpan dalam ruang dan waktu
memaknai sebuah perjalanan ceritaku dan cerita mereka
yang membutuhkan aku untuk meringankan beban mereka
yang mengharapkan aku menjadi kebanggannya
yang berdoa dengan derai tangis dan tengadah kedua telapak tangannya
dan mereka yang menjerit dalam hampa
untuk mereka aku ada
retak karena terjatuh dari tangan yang tak mampu menjaganya dengan hati
lalu hati ini ingin kembali menggapai mimpi yang sempat tertunda
matahari terik mengeringkan air mata
menampar keras mukaku dan berkata nyaring
apa yang kau lakukan dengan waktumu hai gadis lemah???
sakit rasanya pipiku, hatiku...
menyadari tujuan yang terlewatkan begitu saja karena pendiriannya mulai rapuh
rapuh karena manis kata yang keluar dari bibir pendusta
aku tahu aku tak mungkin menunduk terlalu lama
aku harus membuka kembali mataku dan melihat duniaku
meresapi keadaan sekeliling dan mulai bekerja
menemukan tujuan hidup sejati yang tersimpan dalam ruang dan waktu
memaknai sebuah perjalanan ceritaku dan cerita mereka
yang membutuhkan aku untuk meringankan beban mereka
yang mengharapkan aku menjadi kebanggannya
yang berdoa dengan derai tangis dan tengadah kedua telapak tangannya
dan mereka yang menjerit dalam hampa
untuk mereka aku ada
Senin, 09 November 2009
Belajar dari pohon angsana
Ini adalah sebuah kisah yang telah aku dapatkan dari halaqoh bersama Mb Mega, Angesti, Siwi, Anin, Ina, Anyak pada hari selasa 3 November 2009 di mushola Asy-Syifa FK. Sebuah tausiyah yang memberkan kesan dalam. Dan menjadi cerminan untuk mengingatkan akan sebuah rasa syukur akan nikmat Allah SWT. Cerminan yang membuat aku melihat pada diriku sendiri. Apakah aku telah berusaha untuk bertindak seperti pohon angsana itu??
Mbak Mega, murabbi yang selalu memberikan pencerahan untuk lebih meningkatkan semangat beribadah. Memberikan tausiyah tentang pohon angsana di depan fakultas Pertanian yang mulai berkembang. Selama 2 minggu ini Solo diguyur hujan. Hujan sebagai berkah dari Allah untuk penghuni bumi. Hujan yang dirindukan tanaman sepanjang tengah tahun ini. tanaman yang menunggu karuniaNya dengan senatiasa bertasbih menyucikan namaNya.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS Al A’raaf : 44)
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan “ (QS An Nuur : 41).
Setelah dalam penantian panjang maka Allah mengirimkan awan di atas bumi. Dan khususnya di bumi Solo yang panas selama musim kemarau. Menurunkan hujan dari awan itu untuk menyejukkan bumi dan memberi kehidupan untuk tumbuh-tumbuhan.
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran “ (QS Al A’raaf ; 57).
Lalu setelah penantian itu terjawab. Pohon angsana segera bereaksi untuk menumbuhkan bunganya. Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia berupa hujan itu.
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu,...” (QS Ibrahim : 32).
Aku ingat kemarin ketika aku melewati jalan depan kampus pertanian aku melihat bunga angsana bermekaran. Bunga berwarna kuning cerah. Menghias pohonnya indah. Dan bunga-bunga mungil itu ikhlas berguguran diterpa angin. Menghujani sepanjang jalan dibawah pohon itu. Rasanya seperti suasana jepang dengan bunga sakuranya. Jika benar-benar diresapi, pemandangan itu akan mampu menenangkan perasaan untuk beberapa waktu.
Bunga angsana yang gugur juga jatuh di atas permukaan danau UNS. Menutup air danau untuk memberinya warna kuning cerah. Menjadi view yang indah untuk para pengagum alam. Belum lagi jika angin bertiup menggoyangkan dahannya dan menggugurkan bunga-bunga angsana dan aku berada di bawahnya, huf.... asyik sekali. Hujan bunga kuning.
Ketik turun karunia Allah, pohon angsana itu segera bereaksi menunjukkan rasa syukurnya lewat bunga yang memberikan keindahan untuk dirinya dan untuk manusia yang melihatnya. Saat itu UNS tak hanya hijau tapi juga ada sentuhan warna kuning yang cerah. Mengingatkan pada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menciptakan keindahan sesempurna itu.
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman” (QS Al An’aam : 99).
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Al Hadiid ; 1).
Dari pohon angsana itu kita ambil peajaran berharga. Sebuah pelajaran tentang rasa syukur dan upaya untuk memberikan kemanfaatan pada sesama. Pohon angsana menunjukkan rasa syukurnya pada Allah dengan menumbuhkan bunganya untuk mengindahkan dirinya dan selanjutnya mengindahkan lingkungannya. Keindahan yang pada akhirnya dinikmati oleh manusia. Upaya pohon untuk memberikan kemanfaatan dari dirinya untuk lingkungan dan manusia. Subhanallah....
Aku sendiri.. sekarang apa yang telah aku lakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan yang Allah berikan padaku. Kenikmatan yang tak mampu kuhitung jumlahnya.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An Nahl : 18).
Allah yang memenuhi segala keperluanku hingga sekarang. Mewujudkan apa yang aku minta dan mencukupkan kekuranganku.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS Ibrahim : 34).
Apakah aku telah berusaha mengindahkan apa yang ada pada diriku agar aku bisa mengindahkan kehidupan saudara-saudaraku seperti pohon itu? Ataukah aku hanya sibuk untuk mengindahkan diriku untuk aku sendiri? Apakah yang aku lakukan sekarang telah mendukung tujuan untuk mengindahkan diri dengan perbaikan ilmu dan amal yang nyata?
Aku merasa masih harus banyak belajar lagi. Banyak berlatih lagi. Banyak berpikir lagi. Tentang rasa syukur dan kemampuan memberi kemanfaatan. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa untuk meningkatkan pemahaman akan sesuatu.
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS.Al Jaatsiyah :13).
Pemahaman untuk berbuat lebih baik dan lebih bermakna. Berbuat lebih untuk mengindahkan diri sendiri untuk mengindahkan kehidupan orang lain. Sebuah kalimat yang menginspirasi : berikanlah kemanfaatan untuk sebanyak mungkin orang. Karena orang kecil hidup untuk dirinya sendiri dan orang besar hidup untuk umat.
Mbak Mega, murabbi yang selalu memberikan pencerahan untuk lebih meningkatkan semangat beribadah. Memberikan tausiyah tentang pohon angsana di depan fakultas Pertanian yang mulai berkembang. Selama 2 minggu ini Solo diguyur hujan. Hujan sebagai berkah dari Allah untuk penghuni bumi. Hujan yang dirindukan tanaman sepanjang tengah tahun ini. tanaman yang menunggu karuniaNya dengan senatiasa bertasbih menyucikan namaNya.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS Al A’raaf : 44)
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan “ (QS An Nuur : 41).
Setelah dalam penantian panjang maka Allah mengirimkan awan di atas bumi. Dan khususnya di bumi Solo yang panas selama musim kemarau. Menurunkan hujan dari awan itu untuk menyejukkan bumi dan memberi kehidupan untuk tumbuh-tumbuhan.
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran “ (QS Al A’raaf ; 57).
Lalu setelah penantian itu terjawab. Pohon angsana segera bereaksi untuk menumbuhkan bunganya. Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia berupa hujan itu.
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu,...” (QS Ibrahim : 32).
Aku ingat kemarin ketika aku melewati jalan depan kampus pertanian aku melihat bunga angsana bermekaran. Bunga berwarna kuning cerah. Menghias pohonnya indah. Dan bunga-bunga mungil itu ikhlas berguguran diterpa angin. Menghujani sepanjang jalan dibawah pohon itu. Rasanya seperti suasana jepang dengan bunga sakuranya. Jika benar-benar diresapi, pemandangan itu akan mampu menenangkan perasaan untuk beberapa waktu.
Bunga angsana yang gugur juga jatuh di atas permukaan danau UNS. Menutup air danau untuk memberinya warna kuning cerah. Menjadi view yang indah untuk para pengagum alam. Belum lagi jika angin bertiup menggoyangkan dahannya dan menggugurkan bunga-bunga angsana dan aku berada di bawahnya, huf.... asyik sekali. Hujan bunga kuning.
Ketik turun karunia Allah, pohon angsana itu segera bereaksi menunjukkan rasa syukurnya lewat bunga yang memberikan keindahan untuk dirinya dan untuk manusia yang melihatnya. Saat itu UNS tak hanya hijau tapi juga ada sentuhan warna kuning yang cerah. Mengingatkan pada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menciptakan keindahan sesempurna itu.
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman” (QS Al An’aam : 99).
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Al Hadiid ; 1).
Dari pohon angsana itu kita ambil peajaran berharga. Sebuah pelajaran tentang rasa syukur dan upaya untuk memberikan kemanfaatan pada sesama. Pohon angsana menunjukkan rasa syukurnya pada Allah dengan menumbuhkan bunganya untuk mengindahkan dirinya dan selanjutnya mengindahkan lingkungannya. Keindahan yang pada akhirnya dinikmati oleh manusia. Upaya pohon untuk memberikan kemanfaatan dari dirinya untuk lingkungan dan manusia. Subhanallah....
Aku sendiri.. sekarang apa yang telah aku lakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan yang Allah berikan padaku. Kenikmatan yang tak mampu kuhitung jumlahnya.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An Nahl : 18).
Allah yang memenuhi segala keperluanku hingga sekarang. Mewujudkan apa yang aku minta dan mencukupkan kekuranganku.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS Ibrahim : 34).
Apakah aku telah berusaha mengindahkan apa yang ada pada diriku agar aku bisa mengindahkan kehidupan saudara-saudaraku seperti pohon itu? Ataukah aku hanya sibuk untuk mengindahkan diriku untuk aku sendiri? Apakah yang aku lakukan sekarang telah mendukung tujuan untuk mengindahkan diri dengan perbaikan ilmu dan amal yang nyata?
Aku merasa masih harus banyak belajar lagi. Banyak berlatih lagi. Banyak berpikir lagi. Tentang rasa syukur dan kemampuan memberi kemanfaatan. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa untuk meningkatkan pemahaman akan sesuatu.
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS.Al Jaatsiyah :13).
Pemahaman untuk berbuat lebih baik dan lebih bermakna. Berbuat lebih untuk mengindahkan diri sendiri untuk mengindahkan kehidupan orang lain. Sebuah kalimat yang menginspirasi : berikanlah kemanfaatan untuk sebanyak mungkin orang. Karena orang kecil hidup untuk dirinya sendiri dan orang besar hidup untuk umat.
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)