Health is a worth thing. It is main modal to do all activities. We have to be healthy to work, to read, to study, to fight on our way whatever it is.
Nowadays, cost to keep our health is very expensive. We need much money to see the doctor, then we have to buy drugs that is not cheap. Then it will be so much expensive when we have to get intesive care in a hospital. Millions rupiah be spent to pay for it.
For some people spending much money to get good health is not a problem. But not for another people. Some of middle end people don't have much money to reach public health service when they are sick. So if sick they don't go to the doctor but they just buy free drugs in a drugstore that is not good because the consumption is not based on doctor's recipe.
Due to that problem, we think that it will be better to prevent then to cure. It cost more cheap and easy to apply every day. One of preventive method that is very important is washing hand before eat, preparing food, giving food for another,and after go to the toilet. The behavior of live clean and healty should be socialize so that they know how to stay healty by preventing not curing.
Ssc bem fkuns ìs being called to take part in this situation. We wanna give a little contribution to make a good health people around us. We hope that GRIYA SEHAT SSC BEM FKUNS can approach closer to people. Our goals is the progressive people health status especially in Mojosongo, Surakarta.
We are planning to give free curing service and health promotion.
The service is about curing by doctor, phsycology consultance, antenatal care or pregnancy examination. We will also give health promotion about keeping health of environment.
Now alhamdulilah we have held second time of free curing service. And alhamdulilah mojosongo people interested. Listed +-80 people got free curing in the first time. Then only +-20 people who got free curing. it is because of heavy rain so only few people went to the masjid-place where the activities was held. We hope to Allah to give us strength to do all the plans well.
Jumat, 27 Februari 2009
Rabu, 25 Februari 2009
studi kasus : kehamilan ektopik terganggu
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami masih diberikan kesehatan, kekuatan lahir dan batin sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang kami beri judul “ KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU dan ASUHAN KEBIDANANNYA“.
Dapat selesainya makalah ini tidak lepas dari bantuan semua pihak baik secara moril maupun material. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.dr. Widiyanto, SpOG selaku dokter pembimbing
2.Ibu Siti Syamsiah, Amd. Keb selaku kepala ruang VK/Shinta
3.Seluruh bidan, perawat, serta karyawan RS Medika Mulya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pembuatan makalah ini, maka kami mengharap kritik dan saran yang membangun sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini kearah sempurna.
Demikian kata pengantar yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wonogiri, Januari 2009
Penulis
LANDASAN TEORI
KEHAMILAN EKTOPIK
DEFINISI
Kehamilan ektopik merupakan salah satu komplikasi kehamilan dimana ovum yg sudah dibuahi menempel dijaringan yang bukan dinding rahim. Kehamilan ektopik terjadi bila sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sama dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi pada tuba, sangat jarang terjadi implantasi pada ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus rudimenter, dan diventrikel pada uterus. Berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan pars interstisialis tuba, kehamilan pars ismika tuba, kehamilan pars ampularis tuba, dan kehamilan infundibulum tuba. Implantasi telur bersifat columner ialah pada puncak lipatan selaput tuba atau intercolumner ialah antara lipatan selaput lendir. Setelah telur menembus epitel, maka pada implantasi intercolumner telur masuk ke dalam lapisan otot tuba karena tidak ada desidua ; pada implantasi columner telur terletak pada lipatan selaput lendir.
Walaupun kehamilan terjadi diluar rahim, rahim membesar juga karena hipertrofi dari otot-ototnya yang disebabkan pengaruh hormon-hormon yang dihasilkan trofoblas, begitu pula endometriumnya berubah menjadi desidua vera. Setelah janin mati, desidua ini mengalami degenerasi dan dikeluarkan sepotong demi sepotong, tapi kadang-kadang lahir secara keseluruhan hingga merupakan cetakan dari cavum uteri. Pelepasan desidua ini disertai dengan perdarahan dan kejadian ini menerangkan gejala perdarahan pervaginam pada kehamilan ektopik yang terganggu.
Perkembangan kehamilan tuba biasanya tidak dapat mencapai cukup bulan, biasanya berakhir pada minggu ke-6 sampai minggu ke-12, yang paling sering antara minggu ke-6 sampai minggu ke-8.
Kehamilan di luar tuba ialah kehamilan ovarial, kehamilan intraligamenter, kehamilan servikal, dan kehamilan abdominal primer atau sekunder. Kehamilan intrautein dapat ditemukan bersamaan dengan kehamilan ekstrauterin. Dalam hal ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu combined ectopic pregnancy dimana kehamilan intrauterine terdapat pada waktu yang sama dengan kehamilan ekstrauterin dan compound ectopic pregnancy yang merupakan kehamilan intrauterine pada wanita dengan kehamilan ekstrauterine lebih dahulu dengan janin yang sudah mati menjadi litopedion.
FREKUENSI
Dalam kepustakaan frekuensi kehamilan ektopik dilaporkan antara 1 : 28 sampai 1 : 329 tiap kehamilan. Kejadian kehamilan tuba sebesar 95 % dari kehamilan ektopik. (Helen varney, 2002 )
Gejala kehamilan ektopik terganggu yang dini tidak selalu jelas, sehingga tidak dibuat diagnosisnya. Tidak semua kehamilan ektopik berakhir dengan abortus dalam tuba atau rupture tuba. Sebagian hasil konsepsi mati dan pada umur muda kehamilan diresorbsi. Pada hal yang terakhir ini penderita hanya mengeluh haidnya terlambat untuk beberapa hari.
Pemakaian antibiotika dapat meningkatkan frekuensi terjadinya kehamilan ektopik. Antibiotic dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi, tetapi perlekatan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltis tuba terganggu dan menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampulla ke rahim sehingga implantasi terjadi pada tuba.
Kontrasepsi juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadap jumlah kelahiran di rumah sakit atau masyarakat. Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa factor predisposisi untuk kehamilan ektopik membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah kelahiran turun, dan frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relative meningkat. Selain itu IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterine tetapi tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
Sebagian besar wanita yang menga lami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0-14,6 %.
1.Kehamilan Tuba
ETIOLOGI
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan sel telur di bagian ampulla tuba, dan dalam perjalanan ke uterus, telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba, atau nidasinya di tuba dipermudah.
Factor-faktor yang mempengaruhi ialah sebagai berikut.
1.Factor dalam lumen tuba
a.Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu
b.Pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering disertai gangguan fungsi silia endosalping
c.Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit
2.Factor pada dinding tuba
a.Endometriosis tuba dapat mempermudah implantasi telur yang dibuahi dalam tuba
b.Divertikel tuba congenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang telah dibuahi
3.Factor diluar dinding tuba
a.Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan sel telur
b.Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba
4.faktor lain
a.migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri- atau sebaliknya- dapat memperpanjang perjalanan sel telur yang dibuahi ke uterus, pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature
b.fertilisasi in vitro
PATOLOGI
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian diresorbsi. Pada nidasi interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang kadang tidak tampak, dengan mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormone esterogen dan progesterone dari korpus luteum graviditatis dan trofoblas, uterus menkjadi besar dan lembek; endometrium dapat pula berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan perubahan yang terjadi pada endometrium yang di sebut fenomena Aries-Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan tersebut hanya ditemukan pada kehamilan ektopik. Setelah janin mati, desidua dalam uterus bernidasi dan kemudian dikeluarkan berkeping-keping, tapi kadang kadang dilepaskan secara utuh. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus bdan disebabkan oleh pelepasan desidua yang degeneratife.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan. Karena tuba bukan tempat untuk pertubbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin bertumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6-10 minggu.
1.Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yag dibuahi cepat mati karena vaskularisasi dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini tidak mengeluh apa apa, hanya haid terlambat untuk beberapa hari.
2.Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yag terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh vili korialis pada dinding tuba oleh tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut bersama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya, tergantung pada derajat perdarahan yang timbul. Bila pelepasan menyeluruh mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dann kemudian di dorong oleh darah ke arah ostium tuba abdominale. Frekuensi abortus dalam tuba tergantung pada implantasi telir yang dibuahi. Abortus ke lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars ampullaris, sedangkan penembusan dinding tuba oleh vili korialis kea rah peritoneum biasanya terjadi pada kehamilan pars ismika. Perbedaan ini disebabkan karena pars ampularis lebih luas, sehingga dapat menghikuti lebih mudah pertumbuhan hasil konsepsi dibandingkan deangan bagian ismus dengan lumen sempit.
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tak sempurna pada abortus, perdarahan akan terus berlangsung, dari sedikit sedikit oleh darah, sehingga berubah menjadi mola kruenta. Perdarahan yang berlangsung terus menyebabkan tuba membesar dan kebiru-biruan (hematosalping), dan selanjunya darah mengalir ke rongga perut melalui ostium tuba. Darah ini akan berkumpul di kavum Douglas dan akan ,berkumpul membentuk hematokel retrouterina.
3.Ruptur dinding tuba
Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstisialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabakan ruptur adalah penembusan vili koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur dapat terjadi secara spontan, atau karena trauma ringan seperti koitus atau pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadan g banyak sampai menimbulkan kematian. Bila pseudokapsularis ikut pecah, maka terjadi pula perdarahan dalam lumen tuba. Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba abdominale.
Bila pada abortus dalam tuba ostium tuba tersumbat, ruptur sekunder dapat terjadi. Dalam hal ini dinding tuba, yang telah menipis oleh invasi trofioblas, pecah karena tekanan darah dalam tuba. Kadang-kadang ruptur terjadi di arah ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter antar a 2 lapisan ligamentum itu. Janin hidup terus, terdapat kehamilan intraligamenter.
Pada ruptur ke rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi robekan tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Bila penderita tidak dioperasi dan tidak meninggal karena perdarahan, nasib janin tergantung pada kerusakan yang diderita dan tuanya kehamilan. Bila janin mati dan masih kecil, dapat diresirbsi seluruhnya; bila besar, kelak dapat berubah menjadi litopedion.
Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan dengan plasenta ,masih utuh, kemungkinan rongga perut, sehingga akan terjadi kehamilan abdominal sekunder. Untuk mencukupi kebutuhan makanan bagi janin, plasenta dari tuba akan meluaskan implementasinya ke jaringan sekitarnya, misalnya ke sebagian uterus, ligamentum latum, dasar panggul, dan uterus.
Gambaran klinik
Gambaran klinik kehamilan tuba yang belum terganggu tidak khas, dan penderita maupun dokternya biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan, sampai terjadinya abortus tuba atau rupture tuba. Karena biasanya kehamilan ektopik memberikan gejala-gejala yang jelas dan khas kalau sudah terganggu. Pada umumnya penderita menunjukkan gejala-gejala kehamilan muda, dan mungkin merasa nyeri sedikit diperut bagian bawah yang tidak seberapa dihiraukan. Pada pemeriksaan vaginal uterus membesar dan lembek, walaupun mungkin tidak sebesar tuanya kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar diraba pada pemeriksaan bimanual.
Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda-beda, dari perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosisnya. Gejala dan tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau rupture tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi, dan keadaan umum penderita sebelum hamil.
Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Pada rupture tuba nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk kedalam syok. Biasanya pada abortus tuba nyeri tidak seberapa hebat dan tidak terus-menerus. Rasa nyeri mula-mula terdapat pada satu sisi; tetapi, setelah darah masuk kedalam rongga perut, rasa nyeri menjalar kebagian tengah atau ke seluruh perut bawah. Darah dalam rongga perut dapat merangsang diafragma, sehingga menyebabkan nyeri bahu dan bila membentuk hematokel retrouterine, menyebabkan defekasi nyeri.
Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu. Hal ini menunjukan kematian janin, dan berasal dari kavum uteri karena pelepasan desisua. Perdarahan yang berasal dari uterus biasanya tidak banyak dan berwarna coklat tua. Frekuensi perdarahan dikemukakandari 51 hingga 93 %. Perdarahan berarti gangguan pembentukan human chorioniuc gonadotropin. Jika plasenta mati, desidua dapat dikeluarkan seluruhnya.
Amenorea juga merupakan tanda penting pada kehamilan ektopik. Lamanya amenorea tergantung pada kehidupan janin, sehingga dapat bervariasi. Sebagian penderita tidak mengalami penderita amenorea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya. Hal ini menyebabkan frekuensi amenorea yang dikemukakan berbagai penulis sekitar 23-97 %.
Pada kehamilan ektopik terganggu ditemukan pada pemeriksaan vaginal bahwa usaha menggerakan serviks uteri menimbulkan rasa nyeri, demikian pula kavum douglas menonjol dan nyeri pada perabaan. Pada abortus tuba biasanya teraba dengan jelas suatu tumor di samping uterus dalam berbagai ukuran dengan konsistensi agak lunak. Hematokel retrouterina dapat diraba sebagai tumor dikavum douglas. Pada rupture tuba dengan perdarahan banyak tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat; perdarahan lebih banyak lagi dan menimbulkan syok.
Kehamilan ektopik terganggu sangat bervariasi, dari yang klasik dengan gejala perdarahan mendadak dalam rongga perut dan ditandai oleh abdomen akut sampai gejala –gejala yang samar-samar, sehingga sukar membuat diagnosis.
a.Gambaran gangguan mendadak
Peristiwa ini tidak sering ditemukan. Penderita, setelah mengalami amenorea dengan tiba-tiba, menderita rasa nyeri yang hebat didaerah perut bagian bawah dan sering muntah-muntah. Nyeri dapat demikian hebatnya, sehingga penderita jatuh pingsan. Penderita tak lama kemudian masuk dalam keadaan syok akibat perdarahan dengan tekanan darah menurun, nadi kecil dan cepat, ujung ekstremitas basah, pucat, dan dingin. Seluruh perut agak membesar, nyeri tekan, dan tanda-tanda cairan intraperitoneal mudah ditemukan. Pada pemeriksaan vaginal forniks posterior menonjol dan nyeri raba, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Kadang-kadang uterus teraba sedikit membesar dengan disebelahnya suatu adnex tumor, tetapi biasanya sulit karena dinding abdomen tegang.
b.Gambaran gangguan tidak mendadak
Abortus tuba atau yang terjadi perlahan-lahan
Rasa nyeri yang tidak terus menerus diperut bagian bawah; kadang-kadang rasa nyeri itu hebat pula
Darah dalam rongga perut, rasa nyeri menetap
Anemia terjadi karena perdarahan berulang
Disebelah uterus terdapat tumor (hematosalping)=kadang menjadi satu dengan hematokel retrouterina=kavum douglas sangat menonjol dan nyeri raba
Pergerakan serviks nyeri
Rasa penuh didaerah rectum dan merasa tenesmus
c.Gambaran gangguan atipik
Pada keadaan ini pasien biasanya diobati untuk obat infeksi pelvic selama beberapa minggu sebelum keadaan sebenarnya diketahui. Hal ini dikarenakan gambaran klinik kadang-kadang tidak begitu jelas, sehingga diagnose tidak dibuat.
Jadi, gejala-gejala kehamilan ektopik yang terpenting dapat disimpulkan sebagai berikut:
Nyeri perut
Amenorrhea
Perdarahan pervaginam
Shock hipovolemik
Nyeri bahu dan leher ( iritasi diafragma )
Nyeri pada palpasi
Nyeri pada toucher
Pembesaran uterus
Tumor dalam rongga panggul
Gangguan kencing
Perubahan darah
Diagnosis
Pada kehamilan ektopik belum terganggu cenderung sukar menegakkan diagnose, sehingga sebagian besar penderita mengalami abortus tuba atau rupture tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Alat bantu yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnose yaitu :
Ultrasonografi, laparoskopi, kuldoskopi
Anamnesa
Pada wanita reproduktis yang mengalami amenorea dengan keluhan nyeri perut bagian bawah atau kelainan haid serta kadang-kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda, kemungkinan kehamilan ektopik dapat dipikirkan.
Pemeriksaan umum
Penderita Nampak kesakitan dan pucat.
Pemeriksaan ginekologi
Tampak tanda-tanda kehamilan muda, pada perabaan uterus teraba membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus, cavum douglas menonjol dan nyeri raba ( menunjukkan hematokel retro uterine ), nyeri pergerakan cervik, kadang suhu naik.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan hemoglobin, biasanya ditemukan anemia
Pemeriksaan jumlah sel darah merah membantu menegakkan diagnose terutama bila terjadi perdarahan dalam rongga perut
Pemeriksaan leukosit, bila leukosit meningkat hal ini menunjukkan adanya perdarahan. Tetapi jumlah leukosit tidak lebih dari 20.000, karena hal ini menunjukkan keadaan infeksi pelvic.
PP test, pada kehamilan ektopik tidak selalu hasil test kehamilan menunjukkan positif. Karena kemungkinan pada saat dilakukan PP test telah terjadi kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas yang menyebabkan penurunan kadar human chorionic gonadotropin menurun sehingga menyababkan hasil test negative. Pada Kehamilan ektopik kadar hCG rendah untuk usia gestasi.
Reaksi galli mainini, kalau positif maka ada kehamilan. Reaksi yang negative tidak berarti
Douglas punksi, jarum besar yang dihubungkan dengan spuit ditusukkan kedalam cavum douglas di tempat cavum douglas menonjol kedalam fornix posterior. Jika terhisap darah ada 2 kemungkinan, yaitu adanya darah dalam cavum douglas jadi ada perdarahan dalam rongga perut ; tertusuknya vena dan terhisapnya daerah vena dari daerah tersebut. Maka untuk mengatakan douglas punksi positif, darah yang dihisap mempunyai sifat sebagai berikut ; berwarna merah tua, tidak membeku setelah dihisap, biasanya di dalamnya terdapat gumpalan-gumpalan darah yang kecil.
Kuldosintesis
Untuk mengetahui apakah pada cavum douglas terdapat darah.
Ultrasonografi
Diagnosis pasti ialah apabila terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya di luar cavum uteri, namun gambaran ini hanya dijumpai pada 5-10 % kasus. Sebagian besar kehamilan ektopik tidak memberikan gambaran yang spesifik. Besar uterus kemungkinan normal atau mengalami sedikit pembesaran yang tidak sesuai dengan usia kehamilan. Cavum uteri sering berisi cairan eksudat yang diproduksi oleh sel-sel desidua, yang pada pemeriksaan terlihat sebagai struktur cincin anekhoik yang disebut kantong gestasi palsu ( pseudogestational sac). Perdarahan intraabdominal yang terjadi pada kehamilan ektopik terganggu juga tidak memberikan gambaran spesifik, tergantung dari banyak dan lamanya proses perdarahan. Gambaranyya dapat berupa massa anekhoik di cavum douglas yang mungkin meluas sampai ke bagian atas abdomen. Bila sudah terjadi bekuan darah, gambarannya berupa massa ekhogenik yang tidak homogen.
Laparoskopi
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostic terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostic yang lain meragukan.
Diagnosis diferensial
Infeksi pelvic
Gejala yang menyertai infeksi pelvic biasanya timbul waktu haid dan jarang setelah mengalami amenorea. Nyeri perut bawah dan tahanan yang dapat diraba pada pemeriksaan vaginal pada umumnya bilateral. Perbedaan suhu rectal dan axilla melebihi 0,5 °C. leukositosis lebih tinggi dari kehamilan ektopik, tes kehamilan negative.
Abortus imminens atau insipiens
Perdarahan lebih banyak dan lebih merah sesudah amenorea, rasa nyeri yang yang lebih kurang berlokasi di daerah median dan bersifat mules. Tidak teraba tahanan di samping atau dibelakang uterus, gerakan serviks tidak menimbulkan nyeri.
Rupture korpus luteum
Biasanya terjadi pada pertengahan siklus haid. Perdarahan pervaginam tidak ada dan tes kehamilan negative.
Torsi kista ovarium dan appendicitis
Gejala dan tanda kehamilan muda, amenorea, biasanya tidak ada perdarahan pervaginam. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat daripada kehamilan ektopik. Nyeri perut bawah pada appendicitis terletak pada titik McBurney.
Penanganan
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pembedahan membutuhkan anastesi umum ( general anastesi ). Dalam tindakan pembedahan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
Kondisi penderita
Keinginan penderita akan fungsi reproduksinya
Lokasi kehamilan ektopik
Kondisi anatomic organ pelvic
Kemampuan bedah mikro dokter operator
Kemampuan teknologi fertilitas invitro setempat
Hasil pertimbangan tersebut menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi pada kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedakan konservatif dalam arti hanya dilakukan salpingostomi atau renastomosis tuba. Apabila kondisi pasien syok, lebih baik dilakukan salpingektomia.
Pada kasus kehamilan ektopik di pars ampularis tuba yang belum pecah pernah dicoba ditangani dengan menggunakan kemoterapi untuk menghindari tindakan pembedahan. Criteria kasus yang diobati dengan cara ini adalah :
Kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah
Diameter kantung gestasi ≤ 4 cm
Perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100 ml
Tanda vital baik dan stabil
Obat yang digunakan adalah ialah methotrexate 1 mg/kg IV dan citrovorum factor 0,1 mg/kg IM berselang-seling setiap hari selama 8 hari.
Implikasi keperawatan pada kehamilan ektopik, yaitu :
Kaji segera status hemodinamik pasien untuk menentukan banyaknya darah yang hilang
Dapatkan kadar hemoglobin, tipe, dan cocok silang
Dapatkan kadar hCG serum untuk menegaskan kehamilan
Berikan cairan pengganti secara intra vena
Siapkan pasien untuk menjalani laparotomi guna meligasi perdarahan dan memperbaiki tuba yang rusak
Berikan RH0 globulin imun (RHIG) sebagai perlindungan isoimunisasi bagi pasian yang darahnya RH negative
Jika tuba tidak rupture, antisipasi pemakaian methotrexate oral diikuti dengan leucovorin sampai diperoleh titer hCG negative
Tawarkan dukungan emosional pada pasien dan pasangannya, beri kesempatan pada merika untuk berduka atas diakirinya kehamilan dan kemungkinan diangkatnya tuba falopi, beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalah kehilangan dan usia subur dimasa mendatang secara verbal.
Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Tetapi bila pertolongan terlambat, angka kematian dapat tinggi. Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik, atau dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain.
2. Kehamilan Interstisiil
Implantasi telur terjadi dalam pars Interstisialis tuba. Karena lapisan miometrium disini lebih tebal maka rupture terjadi lebih lambat, kira-kira pada bulan ke-3 atau ke-4. Kalau rupture maka akan terjadi perdarahan hebat karena tempat ini banyak pembuluh darahnya sehingga dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kematian. Terapi yaitu histerektomi.
4.Kehamilan Ovarial
Jarang terjadi dan biasanya berakhir dengan rupture pada hamil muda. Perdarahan pada ovarium ini dapat disebabkan bukan saja oleh pecahnya kehamilan ovarium, tetapi bias oleh rupture kista korpus luteum, torsi dan endometriosis. Gejala-gejalanya sama dengan kehamilan tuba. Stux membagi kehamilan ovarial menjadi 3, yaitu : intra folikular (nidasi pada folikel), superficial (implantasi pada permukaan ovarium), interstisial (pada pars interstisialis ovarium). Untuk mendiagnosa kehamilan ovarial harus dipenuhi criteria dari speigelberg.
5.Kehamilan Cervikal
Kehamilan cervical jarang sekali terjadi, nidasi terjadi dalam selaput lendir cervik, dengan tumbuhnya telur servik mengembung. Kehamilan cervik biasanya berakir pada kehamilan muda karena menimbulkan perdarahan hebat yang memaksa pengguguran. Placenta sukar dilepaskan dan pelepasan placenta menimbulkan perdarahan hebat hingga servik perlu ditampon atau kalau ini tidak menolong dilakukan histerektomi.
DISUSUN OLEH TEMAN TEMAN SEPERJUANGAN
ANGESTI NUGRAHENI
ESTININGTYAS
IRSALINA RAHMA
SETIYA H
ANISSAUL K
ARVA R
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami masih diberikan kesehatan, kekuatan lahir dan batin sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang kami beri judul “ KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU dan ASUHAN KEBIDANANNYA“.
Dapat selesainya makalah ini tidak lepas dari bantuan semua pihak baik secara moril maupun material. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.dr. Widiyanto, SpOG selaku dokter pembimbing
2.Ibu Siti Syamsiah, Amd. Keb selaku kepala ruang VK/Shinta
3.Seluruh bidan, perawat, serta karyawan RS Medika Mulya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pembuatan makalah ini, maka kami mengharap kritik dan saran yang membangun sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini kearah sempurna.
Demikian kata pengantar yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wonogiri, Januari 2009
Penulis
LANDASAN TEORI
KEHAMILAN EKTOPIK
DEFINISI
Kehamilan ektopik merupakan salah satu komplikasi kehamilan dimana ovum yg sudah dibuahi menempel dijaringan yang bukan dinding rahim. Kehamilan ektopik terjadi bila sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sama dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi pada tuba, sangat jarang terjadi implantasi pada ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus rudimenter, dan diventrikel pada uterus. Berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan pars interstisialis tuba, kehamilan pars ismika tuba, kehamilan pars ampularis tuba, dan kehamilan infundibulum tuba. Implantasi telur bersifat columner ialah pada puncak lipatan selaput tuba atau intercolumner ialah antara lipatan selaput lendir. Setelah telur menembus epitel, maka pada implantasi intercolumner telur masuk ke dalam lapisan otot tuba karena tidak ada desidua ; pada implantasi columner telur terletak pada lipatan selaput lendir.
Walaupun kehamilan terjadi diluar rahim, rahim membesar juga karena hipertrofi dari otot-ototnya yang disebabkan pengaruh hormon-hormon yang dihasilkan trofoblas, begitu pula endometriumnya berubah menjadi desidua vera. Setelah janin mati, desidua ini mengalami degenerasi dan dikeluarkan sepotong demi sepotong, tapi kadang-kadang lahir secara keseluruhan hingga merupakan cetakan dari cavum uteri. Pelepasan desidua ini disertai dengan perdarahan dan kejadian ini menerangkan gejala perdarahan pervaginam pada kehamilan ektopik yang terganggu.
Perkembangan kehamilan tuba biasanya tidak dapat mencapai cukup bulan, biasanya berakhir pada minggu ke-6 sampai minggu ke-12, yang paling sering antara minggu ke-6 sampai minggu ke-8.
Kehamilan di luar tuba ialah kehamilan ovarial, kehamilan intraligamenter, kehamilan servikal, dan kehamilan abdominal primer atau sekunder. Kehamilan intrautein dapat ditemukan bersamaan dengan kehamilan ekstrauterin. Dalam hal ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu combined ectopic pregnancy dimana kehamilan intrauterine terdapat pada waktu yang sama dengan kehamilan ekstrauterin dan compound ectopic pregnancy yang merupakan kehamilan intrauterine pada wanita dengan kehamilan ekstrauterine lebih dahulu dengan janin yang sudah mati menjadi litopedion.
FREKUENSI
Dalam kepustakaan frekuensi kehamilan ektopik dilaporkan antara 1 : 28 sampai 1 : 329 tiap kehamilan. Kejadian kehamilan tuba sebesar 95 % dari kehamilan ektopik. (Helen varney, 2002 )
Gejala kehamilan ektopik terganggu yang dini tidak selalu jelas, sehingga tidak dibuat diagnosisnya. Tidak semua kehamilan ektopik berakhir dengan abortus dalam tuba atau rupture tuba. Sebagian hasil konsepsi mati dan pada umur muda kehamilan diresorbsi. Pada hal yang terakhir ini penderita hanya mengeluh haidnya terlambat untuk beberapa hari.
Pemakaian antibiotika dapat meningkatkan frekuensi terjadinya kehamilan ektopik. Antibiotic dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi, tetapi perlekatan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltis tuba terganggu dan menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampulla ke rahim sehingga implantasi terjadi pada tuba.
Kontrasepsi juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadap jumlah kelahiran di rumah sakit atau masyarakat. Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa factor predisposisi untuk kehamilan ektopik membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah kelahiran turun, dan frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relative meningkat. Selain itu IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterine tetapi tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
Sebagian besar wanita yang menga lami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0-14,6 %.
1.Kehamilan Tuba
ETIOLOGI
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan sel telur di bagian ampulla tuba, dan dalam perjalanan ke uterus, telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba, atau nidasinya di tuba dipermudah.
Factor-faktor yang mempengaruhi ialah sebagai berikut.
1.Factor dalam lumen tuba
a.Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu
b.Pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering disertai gangguan fungsi silia endosalping
c.Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit
2.Factor pada dinding tuba
a.Endometriosis tuba dapat mempermudah implantasi telur yang dibuahi dalam tuba
b.Divertikel tuba congenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang telah dibuahi
3.Factor diluar dinding tuba
a.Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan sel telur
b.Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba
4.faktor lain
a.migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri- atau sebaliknya- dapat memperpanjang perjalanan sel telur yang dibuahi ke uterus, pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature
b.fertilisasi in vitro
PATOLOGI
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian diresorbsi. Pada nidasi interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang kadang tidak tampak, dengan mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormone esterogen dan progesterone dari korpus luteum graviditatis dan trofoblas, uterus menkjadi besar dan lembek; endometrium dapat pula berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan perubahan yang terjadi pada endometrium yang di sebut fenomena Aries-Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan tersebut hanya ditemukan pada kehamilan ektopik. Setelah janin mati, desidua dalam uterus bernidasi dan kemudian dikeluarkan berkeping-keping, tapi kadang kadang dilepaskan secara utuh. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus bdan disebabkan oleh pelepasan desidua yang degeneratife.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan. Karena tuba bukan tempat untuk pertubbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin bertumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6-10 minggu.
1.Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yag dibuahi cepat mati karena vaskularisasi dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini tidak mengeluh apa apa, hanya haid terlambat untuk beberapa hari.
2.Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yag terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh vili korialis pada dinding tuba oleh tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut bersama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya, tergantung pada derajat perdarahan yang timbul. Bila pelepasan menyeluruh mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dann kemudian di dorong oleh darah ke arah ostium tuba abdominale. Frekuensi abortus dalam tuba tergantung pada implantasi telir yang dibuahi. Abortus ke lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars ampullaris, sedangkan penembusan dinding tuba oleh vili korialis kea rah peritoneum biasanya terjadi pada kehamilan pars ismika. Perbedaan ini disebabkan karena pars ampularis lebih luas, sehingga dapat menghikuti lebih mudah pertumbuhan hasil konsepsi dibandingkan deangan bagian ismus dengan lumen sempit.
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tak sempurna pada abortus, perdarahan akan terus berlangsung, dari sedikit sedikit oleh darah, sehingga berubah menjadi mola kruenta. Perdarahan yang berlangsung terus menyebabkan tuba membesar dan kebiru-biruan (hematosalping), dan selanjunya darah mengalir ke rongga perut melalui ostium tuba. Darah ini akan berkumpul di kavum Douglas dan akan ,berkumpul membentuk hematokel retrouterina.
3.Ruptur dinding tuba
Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstisialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabakan ruptur adalah penembusan vili koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur dapat terjadi secara spontan, atau karena trauma ringan seperti koitus atau pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadan g banyak sampai menimbulkan kematian. Bila pseudokapsularis ikut pecah, maka terjadi pula perdarahan dalam lumen tuba. Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba abdominale.
Bila pada abortus dalam tuba ostium tuba tersumbat, ruptur sekunder dapat terjadi. Dalam hal ini dinding tuba, yang telah menipis oleh invasi trofioblas, pecah karena tekanan darah dalam tuba. Kadang-kadang ruptur terjadi di arah ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter antar a 2 lapisan ligamentum itu. Janin hidup terus, terdapat kehamilan intraligamenter.
Pada ruptur ke rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi robekan tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Bila penderita tidak dioperasi dan tidak meninggal karena perdarahan, nasib janin tergantung pada kerusakan yang diderita dan tuanya kehamilan. Bila janin mati dan masih kecil, dapat diresirbsi seluruhnya; bila besar, kelak dapat berubah menjadi litopedion.
Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan dengan plasenta ,masih utuh, kemungkinan rongga perut, sehingga akan terjadi kehamilan abdominal sekunder. Untuk mencukupi kebutuhan makanan bagi janin, plasenta dari tuba akan meluaskan implementasinya ke jaringan sekitarnya, misalnya ke sebagian uterus, ligamentum latum, dasar panggul, dan uterus.
Gambaran klinik
Gambaran klinik kehamilan tuba yang belum terganggu tidak khas, dan penderita maupun dokternya biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan, sampai terjadinya abortus tuba atau rupture tuba. Karena biasanya kehamilan ektopik memberikan gejala-gejala yang jelas dan khas kalau sudah terganggu. Pada umumnya penderita menunjukkan gejala-gejala kehamilan muda, dan mungkin merasa nyeri sedikit diperut bagian bawah yang tidak seberapa dihiraukan. Pada pemeriksaan vaginal uterus membesar dan lembek, walaupun mungkin tidak sebesar tuanya kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar diraba pada pemeriksaan bimanual.
Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda-beda, dari perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosisnya. Gejala dan tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau rupture tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi, dan keadaan umum penderita sebelum hamil.
Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Pada rupture tuba nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk kedalam syok. Biasanya pada abortus tuba nyeri tidak seberapa hebat dan tidak terus-menerus. Rasa nyeri mula-mula terdapat pada satu sisi; tetapi, setelah darah masuk kedalam rongga perut, rasa nyeri menjalar kebagian tengah atau ke seluruh perut bawah. Darah dalam rongga perut dapat merangsang diafragma, sehingga menyebabkan nyeri bahu dan bila membentuk hematokel retrouterine, menyebabkan defekasi nyeri.
Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu. Hal ini menunjukan kematian janin, dan berasal dari kavum uteri karena pelepasan desisua. Perdarahan yang berasal dari uterus biasanya tidak banyak dan berwarna coklat tua. Frekuensi perdarahan dikemukakandari 51 hingga 93 %. Perdarahan berarti gangguan pembentukan human chorioniuc gonadotropin. Jika plasenta mati, desidua dapat dikeluarkan seluruhnya.
Amenorea juga merupakan tanda penting pada kehamilan ektopik. Lamanya amenorea tergantung pada kehidupan janin, sehingga dapat bervariasi. Sebagian penderita tidak mengalami penderita amenorea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya. Hal ini menyebabkan frekuensi amenorea yang dikemukakan berbagai penulis sekitar 23-97 %.
Pada kehamilan ektopik terganggu ditemukan pada pemeriksaan vaginal bahwa usaha menggerakan serviks uteri menimbulkan rasa nyeri, demikian pula kavum douglas menonjol dan nyeri pada perabaan. Pada abortus tuba biasanya teraba dengan jelas suatu tumor di samping uterus dalam berbagai ukuran dengan konsistensi agak lunak. Hematokel retrouterina dapat diraba sebagai tumor dikavum douglas. Pada rupture tuba dengan perdarahan banyak tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat; perdarahan lebih banyak lagi dan menimbulkan syok.
Kehamilan ektopik terganggu sangat bervariasi, dari yang klasik dengan gejala perdarahan mendadak dalam rongga perut dan ditandai oleh abdomen akut sampai gejala –gejala yang samar-samar, sehingga sukar membuat diagnosis.
a.Gambaran gangguan mendadak
Peristiwa ini tidak sering ditemukan. Penderita, setelah mengalami amenorea dengan tiba-tiba, menderita rasa nyeri yang hebat didaerah perut bagian bawah dan sering muntah-muntah. Nyeri dapat demikian hebatnya, sehingga penderita jatuh pingsan. Penderita tak lama kemudian masuk dalam keadaan syok akibat perdarahan dengan tekanan darah menurun, nadi kecil dan cepat, ujung ekstremitas basah, pucat, dan dingin. Seluruh perut agak membesar, nyeri tekan, dan tanda-tanda cairan intraperitoneal mudah ditemukan. Pada pemeriksaan vaginal forniks posterior menonjol dan nyeri raba, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Kadang-kadang uterus teraba sedikit membesar dengan disebelahnya suatu adnex tumor, tetapi biasanya sulit karena dinding abdomen tegang.
b.Gambaran gangguan tidak mendadak
Abortus tuba atau yang terjadi perlahan-lahan
Rasa nyeri yang tidak terus menerus diperut bagian bawah; kadang-kadang rasa nyeri itu hebat pula
Darah dalam rongga perut, rasa nyeri menetap
Anemia terjadi karena perdarahan berulang
Disebelah uterus terdapat tumor (hematosalping)=kadang menjadi satu dengan hematokel retrouterina=kavum douglas sangat menonjol dan nyeri raba
Pergerakan serviks nyeri
Rasa penuh didaerah rectum dan merasa tenesmus
c.Gambaran gangguan atipik
Pada keadaan ini pasien biasanya diobati untuk obat infeksi pelvic selama beberapa minggu sebelum keadaan sebenarnya diketahui. Hal ini dikarenakan gambaran klinik kadang-kadang tidak begitu jelas, sehingga diagnose tidak dibuat.
Jadi, gejala-gejala kehamilan ektopik yang terpenting dapat disimpulkan sebagai berikut:
Nyeri perut
Amenorrhea
Perdarahan pervaginam
Shock hipovolemik
Nyeri bahu dan leher ( iritasi diafragma )
Nyeri pada palpasi
Nyeri pada toucher
Pembesaran uterus
Tumor dalam rongga panggul
Gangguan kencing
Perubahan darah
Diagnosis
Pada kehamilan ektopik belum terganggu cenderung sukar menegakkan diagnose, sehingga sebagian besar penderita mengalami abortus tuba atau rupture tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Alat bantu yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnose yaitu :
Ultrasonografi, laparoskopi, kuldoskopi
Anamnesa
Pada wanita reproduktis yang mengalami amenorea dengan keluhan nyeri perut bagian bawah atau kelainan haid serta kadang-kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda, kemungkinan kehamilan ektopik dapat dipikirkan.
Pemeriksaan umum
Penderita Nampak kesakitan dan pucat.
Pemeriksaan ginekologi
Tampak tanda-tanda kehamilan muda, pada perabaan uterus teraba membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus, cavum douglas menonjol dan nyeri raba ( menunjukkan hematokel retro uterine ), nyeri pergerakan cervik, kadang suhu naik.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan hemoglobin, biasanya ditemukan anemia
Pemeriksaan jumlah sel darah merah membantu menegakkan diagnose terutama bila terjadi perdarahan dalam rongga perut
Pemeriksaan leukosit, bila leukosit meningkat hal ini menunjukkan adanya perdarahan. Tetapi jumlah leukosit tidak lebih dari 20.000, karena hal ini menunjukkan keadaan infeksi pelvic.
PP test, pada kehamilan ektopik tidak selalu hasil test kehamilan menunjukkan positif. Karena kemungkinan pada saat dilakukan PP test telah terjadi kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas yang menyebabkan penurunan kadar human chorionic gonadotropin menurun sehingga menyababkan hasil test negative. Pada Kehamilan ektopik kadar hCG rendah untuk usia gestasi.
Reaksi galli mainini, kalau positif maka ada kehamilan. Reaksi yang negative tidak berarti
Douglas punksi, jarum besar yang dihubungkan dengan spuit ditusukkan kedalam cavum douglas di tempat cavum douglas menonjol kedalam fornix posterior. Jika terhisap darah ada 2 kemungkinan, yaitu adanya darah dalam cavum douglas jadi ada perdarahan dalam rongga perut ; tertusuknya vena dan terhisapnya daerah vena dari daerah tersebut. Maka untuk mengatakan douglas punksi positif, darah yang dihisap mempunyai sifat sebagai berikut ; berwarna merah tua, tidak membeku setelah dihisap, biasanya di dalamnya terdapat gumpalan-gumpalan darah yang kecil.
Kuldosintesis
Untuk mengetahui apakah pada cavum douglas terdapat darah.
Ultrasonografi
Diagnosis pasti ialah apabila terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya di luar cavum uteri, namun gambaran ini hanya dijumpai pada 5-10 % kasus. Sebagian besar kehamilan ektopik tidak memberikan gambaran yang spesifik. Besar uterus kemungkinan normal atau mengalami sedikit pembesaran yang tidak sesuai dengan usia kehamilan. Cavum uteri sering berisi cairan eksudat yang diproduksi oleh sel-sel desidua, yang pada pemeriksaan terlihat sebagai struktur cincin anekhoik yang disebut kantong gestasi palsu ( pseudogestational sac). Perdarahan intraabdominal yang terjadi pada kehamilan ektopik terganggu juga tidak memberikan gambaran spesifik, tergantung dari banyak dan lamanya proses perdarahan. Gambaranyya dapat berupa massa anekhoik di cavum douglas yang mungkin meluas sampai ke bagian atas abdomen. Bila sudah terjadi bekuan darah, gambarannya berupa massa ekhogenik yang tidak homogen.
Laparoskopi
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostic terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostic yang lain meragukan.
Diagnosis diferensial
Infeksi pelvic
Gejala yang menyertai infeksi pelvic biasanya timbul waktu haid dan jarang setelah mengalami amenorea. Nyeri perut bawah dan tahanan yang dapat diraba pada pemeriksaan vaginal pada umumnya bilateral. Perbedaan suhu rectal dan axilla melebihi 0,5 °C. leukositosis lebih tinggi dari kehamilan ektopik, tes kehamilan negative.
Abortus imminens atau insipiens
Perdarahan lebih banyak dan lebih merah sesudah amenorea, rasa nyeri yang yang lebih kurang berlokasi di daerah median dan bersifat mules. Tidak teraba tahanan di samping atau dibelakang uterus, gerakan serviks tidak menimbulkan nyeri.
Rupture korpus luteum
Biasanya terjadi pada pertengahan siklus haid. Perdarahan pervaginam tidak ada dan tes kehamilan negative.
Torsi kista ovarium dan appendicitis
Gejala dan tanda kehamilan muda, amenorea, biasanya tidak ada perdarahan pervaginam. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat daripada kehamilan ektopik. Nyeri perut bawah pada appendicitis terletak pada titik McBurney.
Penanganan
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pembedahan membutuhkan anastesi umum ( general anastesi ). Dalam tindakan pembedahan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
Kondisi penderita
Keinginan penderita akan fungsi reproduksinya
Lokasi kehamilan ektopik
Kondisi anatomic organ pelvic
Kemampuan bedah mikro dokter operator
Kemampuan teknologi fertilitas invitro setempat
Hasil pertimbangan tersebut menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi pada kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedakan konservatif dalam arti hanya dilakukan salpingostomi atau renastomosis tuba. Apabila kondisi pasien syok, lebih baik dilakukan salpingektomia.
Pada kasus kehamilan ektopik di pars ampularis tuba yang belum pecah pernah dicoba ditangani dengan menggunakan kemoterapi untuk menghindari tindakan pembedahan. Criteria kasus yang diobati dengan cara ini adalah :
Kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah
Diameter kantung gestasi ≤ 4 cm
Perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100 ml
Tanda vital baik dan stabil
Obat yang digunakan adalah ialah methotrexate 1 mg/kg IV dan citrovorum factor 0,1 mg/kg IM berselang-seling setiap hari selama 8 hari.
Implikasi keperawatan pada kehamilan ektopik, yaitu :
Kaji segera status hemodinamik pasien untuk menentukan banyaknya darah yang hilang
Dapatkan kadar hemoglobin, tipe, dan cocok silang
Dapatkan kadar hCG serum untuk menegaskan kehamilan
Berikan cairan pengganti secara intra vena
Siapkan pasien untuk menjalani laparotomi guna meligasi perdarahan dan memperbaiki tuba yang rusak
Berikan RH0 globulin imun (RHIG) sebagai perlindungan isoimunisasi bagi pasian yang darahnya RH negative
Jika tuba tidak rupture, antisipasi pemakaian methotrexate oral diikuti dengan leucovorin sampai diperoleh titer hCG negative
Tawarkan dukungan emosional pada pasien dan pasangannya, beri kesempatan pada merika untuk berduka atas diakirinya kehamilan dan kemungkinan diangkatnya tuba falopi, beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalah kehilangan dan usia subur dimasa mendatang secara verbal.
Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Tetapi bila pertolongan terlambat, angka kematian dapat tinggi. Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik, atau dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain.
2. Kehamilan Interstisiil
Implantasi telur terjadi dalam pars Interstisialis tuba. Karena lapisan miometrium disini lebih tebal maka rupture terjadi lebih lambat, kira-kira pada bulan ke-3 atau ke-4. Kalau rupture maka akan terjadi perdarahan hebat karena tempat ini banyak pembuluh darahnya sehingga dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kematian. Terapi yaitu histerektomi.
4.Kehamilan Ovarial
Jarang terjadi dan biasanya berakhir dengan rupture pada hamil muda. Perdarahan pada ovarium ini dapat disebabkan bukan saja oleh pecahnya kehamilan ovarium, tetapi bias oleh rupture kista korpus luteum, torsi dan endometriosis. Gejala-gejalanya sama dengan kehamilan tuba. Stux membagi kehamilan ovarial menjadi 3, yaitu : intra folikular (nidasi pada folikel), superficial (implantasi pada permukaan ovarium), interstisial (pada pars interstisialis ovarium). Untuk mendiagnosa kehamilan ovarial harus dipenuhi criteria dari speigelberg.
5.Kehamilan Cervikal
Kehamilan cervical jarang sekali terjadi, nidasi terjadi dalam selaput lendir cervik, dengan tumbuhnya telur servik mengembung. Kehamilan cervik biasanya berakir pada kehamilan muda karena menimbulkan perdarahan hebat yang memaksa pengguguran. Placenta sukar dilepaskan dan pelepasan placenta menimbulkan perdarahan hebat hingga servik perlu ditampon atau kalau ini tidak menolong dilakukan histerektomi.
DISUSUN OLEH TEMAN TEMAN SEPERJUANGAN
ANGESTI NUGRAHENI
ESTININGTYAS
IRSALINA RAHMA
SETIYA H
ANISSAUL K
ARVA R
Rabu, 18 Februari 2009
stress dan kadar Hb darah
Sudah banyak teori yang mengatakan bahwa pikiran qt akan berpengaruh besar pada kesehatan. Pikiran positif akan membawa dampak positif pada kondisi kesehatan seseorang. Sebaliknya,pikiran negatif akan memberi dampak buruk berupa penurunan kesehatan. It's true!
Pasalnya kemarin aku ikut donor darah yang diadain departemen sosial service center d Bem FKUNS. Sebelum donor selalu dilakukan prosedur cek golongan darah dan kadar Hb. Cek kadar Hb dilakukan dengan meneteskan darah pada larutan tertentu yang saya lupa tanyakan larutan apa itu. Jika tetesan darah tenggelam maka kadar Hb normal yaitu >12,5 g%. Jika terapung maka kurang dari 12,5 g%.
Ketika donor 3 bulan lalu cek Hb bagus-tetesan darah langsung tenggelam dengan cepat. Sedangkan kemarin cek Hb tetesan darah terapung dulu agak lama baru bisa tenggelam. Aku berpikir kenapa? Donor 3 bulan lalu aku sedang puasa,dengan tingkat kesibukan yang cukup padat. Malamnya pun aku hanya tidur 3-4 jam. Sedangkan kemarin aku juga puasa dengan tingkat kesibukan relatif ringan dan waktu istirahat malam yang cukup. Logikanya, kadar Hb lebih tinggi donk?! Tapi kenapa jadi lebih rendah?
Aku berfikir mungkin ini karena pikiran yang cenderung negatif beberapa hari ini. Banyak kekhawatiran dan kesedihan yg menyusup ke dalam hati dan pikiran. Jadi semangat melemah. Berbeda dengan donor sebelumnya yang diliputi semangat tinggi dan perasaan bahagia. Makanya, selalu berusaha berpikir positif dan berbahagia akan dengan mudah membuat kita jadi sehat. Karena energi yang dibutuhkan tubuh untuk berkembang dan mempertahankan kesehatan tidak dibuang sia-sia menghadapi stress. SO ALWAYS THINK POSITIF TO GET JOY AND GOOD HEALTH! Amin
Pasalnya kemarin aku ikut donor darah yang diadain departemen sosial service center d Bem FKUNS. Sebelum donor selalu dilakukan prosedur cek golongan darah dan kadar Hb. Cek kadar Hb dilakukan dengan meneteskan darah pada larutan tertentu yang saya lupa tanyakan larutan apa itu. Jika tetesan darah tenggelam maka kadar Hb normal yaitu >12,5 g%. Jika terapung maka kurang dari 12,5 g%.
Ketika donor 3 bulan lalu cek Hb bagus-tetesan darah langsung tenggelam dengan cepat. Sedangkan kemarin cek Hb tetesan darah terapung dulu agak lama baru bisa tenggelam. Aku berpikir kenapa? Donor 3 bulan lalu aku sedang puasa,dengan tingkat kesibukan yang cukup padat. Malamnya pun aku hanya tidur 3-4 jam. Sedangkan kemarin aku juga puasa dengan tingkat kesibukan relatif ringan dan waktu istirahat malam yang cukup. Logikanya, kadar Hb lebih tinggi donk?! Tapi kenapa jadi lebih rendah?
Aku berfikir mungkin ini karena pikiran yang cenderung negatif beberapa hari ini. Banyak kekhawatiran dan kesedihan yg menyusup ke dalam hati dan pikiran. Jadi semangat melemah. Berbeda dengan donor sebelumnya yang diliputi semangat tinggi dan perasaan bahagia. Makanya, selalu berusaha berpikir positif dan berbahagia akan dengan mudah membuat kita jadi sehat. Karena energi yang dibutuhkan tubuh untuk berkembang dan mempertahankan kesehatan tidak dibuang sia-sia menghadapi stress. SO ALWAYS THINK POSITIF TO GET JOY AND GOOD HEALTH! Amin
Senin, 16 Februari 2009
STUDI KASUS : KETUBAN PECAH DINI-PRESENTASI BOKONG
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami masih diberikan kesehatan, kekuatan lahir dan batin sehingga kami dapat menyeleseikan makalah yang kami beri judul “Asuhan Kebidanan ibu bersalin sectio caesaria pada Ny. P G1P0A0 atas indikasi ketuban pecah dini, presentasi bokong di RSU ASSALAM “. Makalah ini kami buat sebagai persyaratan menyeleseikan praktik klinik kebidanan II di RSU Assalam.
Dapat seleseinya makalah ini tidak lepas dari bantuan semua pihak baik secara moril maupun material. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
Dr. Ismail
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pembuatan makalah ini, maka kami mengharap kritik dan saran yang membangun sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini kearah sempurna.
Demikian kata pengantar yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
LANDASAN TEORI
KETUBAN PECAH DINI
Ketuban pecah dini atau spontaneous/early/premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Bila periode laten terlalu panjang dan air ketuban sudah pecah, maka dapat terjadi infeksi yang dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Untunglah karena adanya antibiotik spektrum luas maka hal ini dapat ditekan.
Sampai saat ini masih banyak pertentangan mengenai penatalaksanaan PROM yang bervariasi dari “doing nothing” samapai pada tindakan yang berlebih-lebihan. Menurut EASTMAN insidens PROM ini kira-kira 12% dari semua kehamilan.
Etiologi
Penyebab dari PROM tidak atau masih belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan dalam usaha menekan infeksi.
Patogenesis
TAYLOR dkk, telah menyelidiki hal ini, ternyata ada hubungannya dengan hal-hal berikut :
Adanya hipermortalitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, sevisitis, dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan hipermotalitas rahim
Selaput ketuban terlalu tipis
Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis)
Faktor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara, malposisi, disproporsi, cervix incompetent, dan lain-lain
Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi), dimana ketuban dipecahkan terlalu dini
Kadang kadang agak sulit atau meragukan kita apakah ketuban benar sudah pecah atau belum, apalagi bila pembukaan kanalis servikalis belum ada atau kecil. Cara menentukannya yaitu dengan :
Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium, verniks kaseosa, rambut lanugo, atau bila telah terinfeksi berbau
Inspekulo : lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keuar dari kanalis servikalis dan apakah ada bagian yang sudah pecah
Gunakan kertas lakmus : bila menjadi biru (basa) berarti air ketuban, bila menjadi merah (asam) berarti air kemih (urine)
Pemeriksaan pH forniks posterior pada PROM pH adalah basa (air ketuban )
Pemeriksaan histopatologi air ( ketuban )
Aborization dan sitologi air ketuban
PROM berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan disebut periode laten = LP = lag period. Makin muda umur kehamilan maka makin panjang LP-nya. Sedangkan lamanya persalinan lebih pendek dari biasa, yaitu primi 10 jam dan multi 6 jam.
Pengaruh PROM
Terhadap janin
Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dulu terjadi ( amnionitis, vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal.
Terhadap ibu
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi peurpuralis (nifas), peritonitis dan septikemia, serta dry-labour. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi. Hal-hal tersebut meninggikan angka kematian dan angka morbiditas pada ibu.
Prognosis
Ditentukan oleh cara penatalaksanaan dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul serta umur dari kehamilan.
Pimpinan Persalinan
Ada bermacam-macam pendapat mengenai penatalaksanaan dan pimpinan persalinan dalam menghadapi PROM. Beberapa institut menganjurkan penatalaksanaan untuk PROM kira-kira sebagai berikut :
Bila anak belum viable ( kurang dari 36 minggu ) penderita dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan berikan obat-obat antibiotika profilaksis, spasmolitika, dan roboransia dengan tujuan untuk mengundur waktu sampai anak viable.
Bila anak sudah viable ( lebih dari 36 minggu ) lakukan induksi partus 6-12 jam setelah lag phase dan berikan antibiotika profilaksis. Pada kasus-kasus tertentu dimana induksi partus dengan PGE2 dan atau drips sintosinon gagal, maka lakukanlah tindakan operatif.
Jadi pada PROM penyelesaian persalinan bias :
· Partus spontan
· Ekstraksi vakum
· Ekstraksi forsep
· Embriotomi bila anak sudah meninggal
· Sectio caesaria bila ada indikasi obtetrik
Komplikasi :
Pada anak
IUFD dan IPFD, asfiksia, dan prematuritas
Pada ibu
Partus lama dan infeksi, atonia uteri, perdarahan post partum, atau infeksi nifas.
PRESENTASI BOKONG MURNI
Pengertian
Presentasi bokong adalah letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas. Panggul janin merupakan kutub bawah. Penunjuknya adalah sacrum. Sacrum kanan depan (RSA = right sacrum anterior) adalah presenatsi bokong dengan sacrum janin ada di kuadran kanan depan panggul ibu, dan diameter bitrochanterica janin berada pada diameter oblique dextra panggul ibu.
Insidensi
Presentasi bokong dalam persalinan terdapat ± 3 % dari kehamilan. Letak sungsang dibagi menjadi :
Letak bokong murni (Frank breech) : bokong didepan, tungkai kaki lurus atas
Letak bokong kaki (complete breech) : samping bokong teraba kaki baik kedua kaki maupun satu
Letak lutut : presentasi lutut
Letak kaki : presentasi kaki
Dari letak-letak tersebut letak bokong murni paling sering dijmpai. Punggung biasanya terdapat kiri depan. Frekuensi letak sungsang > tinggi pada kehamilan muda daripada aterm dan > banyak multigravida daripada primigravida.
Etiologi
·1 Prematuritas
·2 Polyhidramnion
·3 Gemelli
·4 Placenta previa
·5 Panggul sempit
·6 Fibromyoma
·7 Hydrocephalus
·8 Janin besar
Faktor-faktor etiologi presbo adalah :
Implantasi placenta di fundus atau di cornu uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya presentasi bokong
Catatan :
Pasien merasakan gerakan nak diperut bagian bawah dan mungkin mengeluh rasa nyeri oleh karena janin menyepak-nyepak rectum.
Bokong masuk panggul sebelum persalinan mulai adalah tidak lazim. Jarang pasien mengalami lightening
Tidak sempurnanya bokong menutup panggul merupakan predisposisi ketuban pecah awal, dengan bahaya tali pusat menumbung. Apabila ketuban pecah sebaiknya diperiksa vaginal steril untuk menentukan keadaan cerviks dan pastikan ada tidaknya tali pusat menumbung.
Teoritis bokong adalah pembuka cerviks yang jelek disbanding kepala yang flexi sempurna. Persalinan, penurunan bagian terendah dan pembukaan cerviks diperkirakan akan makan waktu lebih lama.
Pada presentasi bokong murni tungkai bawah janin, yang flexi pada pinggul dan extensi pada lutut, terletak di depan dan dekat dengan perut janin yang mengakibatkan persalinan tak maju.
Salah satu bahaya pada janin dengan presentasi bokong adalah diameter terbesar dan terkeras dating terakhir.
Kepala bayi tidak sempat moulage krn kepala cepat melewati panggul
Caput (edema baian terbawah) terbentuk di bokong. Genitalia externa membengkak
Keluarnya meconium pada presbo bukan berarti ada gawat jann seperti pada presentasi kepala. Meconium keluar dari usus Karena uterus menekan bagian bawah tubuh janin terhadap panggul ibu.
Diagnosis kedudukan
Pemeriksaan Abdominal
Letaknya adalah memanjang
Diatas panggul teraba masssa lunak, irreguler, dan tidak merasa kepala. Dicurigai bokong. Pada presbo murni otot-otot paha teregang diatas tulang-tulang dibawahnya. Memberikan gambaran keras menyerupai kepala dan menyebabkan kesalahan diagnostic.
Punggung ada disebelah kanan dekat garis tengah. Bagian-bagian kecil ada disebelah kiri, jauh dari garis tengah dan belakang.
Kepala akan teraba sebagai sesuatu yang keras, bundar, dan melenting pada fundus uteri.
Tonjolan kepala tidak ada dan bokong tidak dapat dipantulkan.
Bokong harus dibedakan dari muka karena pada letak muka jika caput succedaneum besar, muka dapat disangka bokong karena kedua tulang pipi dapat menyerupai tubera ossis ischii, dagu menyerupai ujung os sakrum, sedangkan mulut disangka anus. Yang menentukan ialah bentuk os sakrum yang mempunyai deretan prosesus spinosus yang disebut krista sakralis media.
Denyut jantung janin
Bunyi jantung terdengar pada punggung anak setinggi pusat. DJJ terdengar keras pada atau diatas umbilicus dan pada sisi yang sama dengan punggung. Pada RSA (Right Sacrum Anterior) DJJ terdengar paling keras di kuadran kanan atas perut ibu.
Pemerikasaan Vaginal
Bagian terendah teraba tinggi
Tidak teraba kepala yang keras, rata dan teratur dg garis-garis sutura dan frontanella
Bagian terendah teraba lunak dan irregular. Anus dan tuber ischiadicum terletak pada satu garis. Bokong dapat dikira muka
Jika pembukaan sudah besar, pada pemeriksaan dalam dapat teraba 3 tonjolan tulang, yaitu kedua tubera ossis ischii dan ujung os sakrum, sedangkan os sakrum dapat dikenal sebagi tulang yang meruncing dengan deretan prosesus ditengah-tengah tulang tersebut.
Kadang-kadang pada presbo murni sacrum tertarik kebawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa. Ia dapat dikelirukan dengan kepala oleh karena tulang yang keras.
Sacrum ada di kuadran kanan depan panggul, dan diameter bitrochanterica ada pada diameter obliqua kanan.
Kadang-kadang teraba kaki (kecuali presbo murni tdk teraba) dan harus dibedakan dengan tangan
Pemeriksaan sinar-X
Sinar-X berguna baik untuk menegakkan diagnosis maupun untuk memperkirakan ukuran dan konfigurasi panggul ibu. Pemeriksaan sinar-X harus dikerjakan pada semua primigravida dan pada multipara yang mempunyai riwayat persalinan sukar atau bayi-bayi yang dilahirkan sebelumnya kecil semua. Sinar-X menunjukkan dengan tepat sikap dan posisi janin, demikian pula kelainan-kelainan seperti hydrocephalus.
Prognosis PresBo
Ibu
Bila terjadi persalinan spontan prognosis ibu adalah baik. Laserasi tractus genitalis dan perdarahan dapat disebabkan oleh persalinan yang terlalu cepat dan dipaksakan melalui panggul yang terlampau kecil atau melalui bagian-bagian lunak yang belum cukup terbuka.
Janin
Mortalitas kasar janin anatar 10 dan 20 persen. Sebab utama kematian bayi adalah prematuritas (30 persen dibanding dengan 10 persen pada presentasi kepala). Kelainan kongenital dua kali lebih sering pada presbo dibandingkan presentasi kepala dan mempunyai andil dalam kematian janin.apalagi bila ditangani penolong yang belum berpengalaman maka risikonya lebih tinggi.
Sebab-sebab kematian atau perlukaan bayi :
Asphyxsia
Trauma pada tulang kepala dan otak
Kerusakan akibat pertolongan yang kasar pada persalinan
Ukuran bayi
Kelainan kongenital
Pecahnya ketuban (kematian perinatal bayi cukup bulan naik 3 X lipat bila jarak waktu pecahnya ketubang dengan kelahiran anak > dari 24 jam. Jika periode laten antara pcahnya ketuban dengan permulaan persalinan > dari 12 jam, kematian janin naik 3 X utk primigravida dan 5 X untuk multipara. Angka-angka ini tidak berlaku bagi bayi2 prematur)
Klasifikasi Kelahiran Bokong
1. Kelahiran per vaginam
· Persalinan bokong spontan : bayi dikeluarkan dengan tenaga alamiah ibu tanpa bantuan
· Persalinan bokong dengan pertolongan (ekstraksi bokong sebagian) ; bayi dilahirkan sampai pusat dengan tenaga alamiah ibu, bagian lain dikeluarkan oleh penolong
· Ekstraksi bokong total : seluruh badan bayi dikeluarkan oleh penolong
Syarat :
Tidak ada indikasi lain untuk bedah caesarea
Letak presbo sempurna
BB 2500-3800 gr oleh 2 pemeriksa
UK 36 mgg/ >
Tdk ada malformasi/ kemabar
Personalia medik memadai
Pelvimetri sinar X / klinis normal.
2. Sectio caesarea
Insidensinya sekitar 10 %. Dengan indikasi :
Letak bokong sempurna dengan perkiraan BB janin < dari 200 gr / > dari 3800 gr/ UK < dari 36 mgg
Kepala janin dalam sikap hiperekstensi
DM yg tergantung insulin
Bagian terbawah masih melayang
Kesempitan panggul
Riwayat persalinan sukar
Terdapat indikasi obstetrik lain untuk bedah caesarea
PERSALINAN CAESAR
Sebagian besar wanita merencanakan persalinan pervaginam atau normal, tetapi persalinan Caesar selalu menjadi suatu kemungkinan. Dengan bedah Caesar bayi dilahirkan melalui insisi yang dibuat pada dinding perut dan rahim ibu.
Alasan Bedah Caesar
Persalinan Bedah Caesar yang selanjutnya disebut SC, dilakukan karena banyak alasan. Alasan yang paling sering adalah persalinan SC sebelumnya. Akan tetapi beberapa wanita yang pernah menjalani SC dapat menjalani persalinan pervaginam setelah SC.
Terdapat beberapa risiko pada bekas operasi internal dari bedah Caesar sebelumnya yang dapat meregang dan terbuka selama sakit persalinan dan kelahiran berikutnya, dengan konsekuensi yang serius. Akan tetapi jika kehamilan dan sakit persalinan dimonitor dengan teliti, seorang wanita dapat menjalani persalinan pervaginam yang normal.
Persalinan SC diperlukan jika bayi anda terlalu besar untuk melalui jalan lahir. Keadaan ini disebut cephalo-pelvic disproportion (CPD). CPD mungkin diduga selama kehamilan, tetapi biasanya sakit persalinan harus diawali sebelum dapat ditegaskan.
Janin yang tertekan merupakan alasan lain untuk bedah SC. Para dokter menggunakan monitor janin selama sakit persalinan untuk mengamati DJJ dan responnya terhadap sakit persalinan. Jika DJJ mengindikasikan bayi mengalami masalah dengan kontraksi sakit persalinan, bedah SC diperlukan demi kesehatan bayi.
Jika tali pusat tertekan, bedah SC mungkin diperlukan. Tali pusat dapat keluar lebih dulu atau bayi dapat menekan bagian tali pusat. Ini keadaan yang membahayakan karena tali pusat yang tertekan dapat memotong persediaan darah pada bayi.
Tindakan SC diperlukan jika bayi dalam presentasi bokong (breech presentation), yang berarti kaki atau bokong bayi memasuki jalan lahir terlebih dahulu. Melahirkan bahu dan kepala setelah tubuh bayi dapat membahayakan kepala atau leher bayi khususnya pada persalinan anak pertama.
Abrupsi plasanta atau plasenta previa juga merupakan indikasi untuk dilakukannya tindakan SC. Jika plasenta terpisah dari rahim sebelum persalinan (abrupsi plasenta), bayi kehilangan persediaan oksigen dan zat gizi. Hal ini terdiagnosis saat seorang wanita mengalami perdarahan vaginal berat. Jika plasenta menutupi jalan lahir (placenta previa), bayi tidak dapat dilahirkan dengan cara lain.
Cara pembedahan cesar
Sebelum dilakukan pembedahan , pasien diberikan anestesi terlebih dahulu baik secara epidural atau spinal oleh ahli anestesi dan diberikan obat-obat yang diperlukan.
Dengan SC, insisi dibuat melalui kulit dinding perut hingga rahim. Dinding rahim dibedah, kemudian kantong amniotic yang mengandung bayi dan plasenta dibedah dan lahirkan bayi yang kemudian disertai dengan lahirnya plasenta. Rahim ditutup dalam lapisan dengan jahitan yang menyatu dengan kulit itu sendiri.
Sebagian persalinan cesar yang dilakukan sekarang adalah caesar bagian bawah cervik atau caesar transversal rendah.
Dulu, caesar sering dilakukan dengan insisi klasik, yaitu rahim dibedah pada pertengahan. Insisi ini tidak sembuh sebaik insisi serviks-bawah karena insisi ini dilakukan pada bagian otot rahim, sehingga cenderung terbuka karena kontraksi (dalam persalinan pervaginam setelah persalinan cesar) dapat menyebabkan perdarahan hebat dan membahayakan bayi. Jika ibu memiliki riwayat persalinan cesar klasik sebelumnya, maka persalinan cesar merupakan indikasi pula untuk persalinan selanjutnya.
Insisi-T adalah tipe insisi bedah cesar yang lain. Insisi ini membedah rahim seperti membentuk huruf T yang ditujukan untuk memberikan ruang lebih banyak untuk mengeluarkan bayi. Tapi insisi dengan tipe ini lebih mudah pecah daripada tipe insisi lainnya.
Keuntungan dan Kerugian SC
Keuntungan
Melahirkan bayi dengan sehat dan selamat
Menghindari rasa sakit pada proses persalinan normal atau persalinan pervaginam
Kerugian
Meningkatkan risiko terjadinya infeksi, perdarahan, syok hipovolemik
Kemungkinan pembekuan darah dan luka pada organ lain, seperti kandung kemih, atau rectum
Waktu pemulihan lebih lama daripada persalinan normal, untuk pemulihan total persalinan cesar dapat mencapai 4 hingga 6 mingggu
Untuk dapat mengetahui apakah tindakan SC diindikasikan dalam persalinan, maka hal yang penting untuk dilakukan bagi ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya secara teratur dan komprehensif, melakukan USG pada trimester akhir kehamilan jika memungkinkan, pada tenaga kesehatan yang berkompeten seperti bidan atau dokter ahli kandungan
ASUHAN KEBIDANAN
ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN SECTIO CAESARIA PADA NY. P G1P0A0 ATAS INDIKASI KETUBAN PECAH DINI, PRESENTASI BOKONG
DI RSU ASSALAM
Tanggal Masuk : 31 Desember 2008
Tempat : RSU Assalam
No. register : 027681
PENGKAJIAN
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.15 WIB
DATA SUBYEKTIF
1. Identitas
Nama ibu
Umur
Suku/bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat : Ny. P
: 25 tahun
: Jawa/Indonesia
: Islam
: SMP
: IRT
: kalegan RT 4 Gemolong Nama suami
Umur
Suku/bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat : Tn. D
: 26 tahun
: Jawa/Indonesia
: Islam
: SMP
: Swasta
: Kalegan RT 4
Gemolong
2. Keluhan utama pada waktu masuk :
Ibu mengatakan merasa kenceng-kenceng sejak pukul 02.00 dan keluar cairan dari vagina sejak pukul 01.00 WIB
3. Data Kebidanan
a. Riwayat menstruasi
Menarche : 15 tahun
Banyaknya : ± 3 kali ganti tela / hari
Siklus : 28 hari
Keluhan : tidak ada
Jenis dan warna : encer dan merah kehitaman
Lamanya : ± 6 hari
b. Status Perkawinan
Kawin / tidak kawin : kawin syah
Usia kawin pertama : 24 tahun
Lam perkawinan : 1 tahun
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No Kehamilan Umur
kehamilan Tanggal
partus Jenis
partus Tempat
partus Penolong Penyulit
– – – – – – – –
Keadaan anak dan nifas yang lalu
No. Anak Nifas
Jenis
kelamin BB (gram) PB (cm) Keadaan Laktasi Perdarahan Nifas (hari) Keterangan
– – – – – – – – –
d. Riwayat Kehamilan sekarang
HPMT : lupa
Keluhan : ibu mengatakan mengalami mual muntah di awal kehamilan
ANC : 7 kali, di bidan, TT : 2 kali
e. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menjadi akseptor KB jenis apapun
4. Data kesehatan
a. Data kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit DM, hipertensi, stroke, jantung, hepatitis B, asma, TBC, dll.
b. Data kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit DM, hipertensi, stroke, jantung, hepatitis B, asma, TBC, dll.
c. Data kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit DM, hipertensi, stroke, jantung, hepatitis B, asma, TBC, dll.
5. Data kebiasaan sehari-hari
No. Sebelum hamil Selama hamil
1. Nutrisi
- Makan
- Minum
- Jenis makanan
-Makanan pantang
- Alergi makanan
± 3 kali / hari
± 7-8 gelas / hari
Nasi, sayur, lauk-pauk, buah
Tidak ada
Tidak ada
± 3-4 kali / hari
± 7-8 gelas / hari
Nasi, sayur, lauk-pauk, buah, susu
Tidak ada
Tidak ada
2. Eliminasi
- BAK
Frekuensi
Warna
Bau
- BAB
Frekuensi
Konsistensi
± 4-5 kali / hari
Kuning jernih
Khas urine
± 1 kali / hari
lunak
± 5 kali / hari
Kuning jernih
Khas urine
± 1 kali / hari
lunak
3. Istirahat
- Tidur siang
- Tidur malam
- Keluhan
± 2 jam
± 6 jam
Tidak ada
± 3 jam
± 7 jam
Tidak ada
4. Personal hygiene
- Mandi
- Keramas
- Gosok gigi
- Ganti baju dan
pakaian dalam
2 kali / hari
3-4 kali / minggu
3 kali / hari
2 kali / hari
2-3 kali / hari
2-3 kali / minggu
3 kali / hari
2-3 kali / hari
5. Seksual
- Frekuensi
- Keluhan
± 2-3 kali / minggu
Tidak ada
± 1-2 kali / minggu
Tidak ada
6. Data psikososial dan agama
a. Hubungan ibu dengan keluarga
Ibu mengatakan hubungannya dengan keluarga baik, keluarganya harmonis.
b. Hubungan dengan masyarakat
Ibu mengatakan hubungannya dengan masyarakat baik, ibu aktif mengikuti kegiatan sosial di desanya.
c. Kegiatan ibadah
Ibu mengatakan bahwa ibu rajin sholat 5 waktu dan sering mengikuti pengajian di desanya.
Data Objektif
2. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Vital sign :
Tekanan darah: 120/80 mmHg Respirasi : 20 x/menit
Nadi : 84 x/menit Suhu : 36,5 oC
Tinggi badan : 157 cm
BB sekarang : 65 kg
BB sebelum hamil : 57 kg
LILA : 26 cm
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Rambut : hitam kemerahan, lurus, bersih, tidak berketombe
Muka : tidak oedem, tidak pucat
Mata : conjunctiva merah muda (tidak anemis), sklera putih (tidak ikterik)
Hidung : tidak ada polip, bersih
Telinga : simetris, tidak mengeluarkan serumen
b. Leher
Thyroid : tidak terdapat pembengkakan kelenjar thyroid
Kelenjar getah bening : tidak terdapat pembengkakan kelenjar getah bening
c. Dada
Mammae : simetris, puting susu menonjol, areola hiperpigmentasi
Axilla : tidak ada pembengkakan
d. Abdomen
1. Inspeksi
Pembesaran : memanjang, oblique
Linea alba / nigra : terdapat linea nigra
Striae albican / livide : terdapat striae livide
Bekas operasi : tidak ada bekas luka operasi
2. Palpasi
Kontraksi : kuat, durasi 30”-40”, frekuensi 2 kali / 10 menit
Leopold I : TFU 32 cm, pada fundus teraba bulat melenting (kepala)
Leopold II : dinding perut lateral kiri teraba bagian memanjang (puki)
Leopold III : bagian bawah rahim teraba bulat, lunak, tidak melenting
Leopold IV : bagian terbawah janin belum masuk panggul
3. Auskultasi
DJJ : frekuensi 136 x/menit, teratur ( dopler )
Punctum maximum terdengar jelas di kuadran kiri atas pusat
e. Genital
Pengeluaran : terdapat pengeluaran lendir darah, air ketuban
Inspekulo : tidak dilakukan
VT : Vulva tenang, portio tebal, pembukaan 3 cm, ketuban (-), presentasi bokong, bagian terendah di Hodge II, air ketuban (+)
f. Ekstremitas
Atas : tidak oedem
Bawah : tidak oedem, tidak ada varises
Data Penunjang
4. Laboratorium
Hasil:
Gol darah : A
HbSAg : (-)
HGB : 12,0 g/dL
RBC : 4,16 x 106 /uL
WBC : 8,9 x 103 /uL
HCT : 34,5 %
PLT : 257 x 103 /uL
MCH : 28,8 pg
MCV : 83 EL
MCHC : 34,7 g / dL
INTERPRETASI DATA
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.30 WIB
4. Diagnosa Kebidanan
Ny. P umur 25 tahun G1P0A0 hamil aterm, janin hidup intra uteri, presbo, bagian terendah janin di Hodge II, inpartu kala I fase laten dengan ketuban pecah dini
Dasar :
S :
§ Ibu mengatakan bahwa ini kehamilan yang pertama
§ Ibu mengatakan merasa kenceng-kenceng sejak tanggal 31 desember 2008 pukul 02.00 WIB
§ Ibu mengatakan bahwa air ketuban sudah merembes keluar sejak pukul 01.00 WIB
O :
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis
Vital sign :
Tekanan darah: 120/80 mmhg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 84 kali/menit Respirasi : 20 kali/menit
Palpasi :
Kontraksi : kuat, durasi 30-40 detik, frekuensi 2 kali/10 menit
Leopold I : TFU 32 cm, teraba kepala
Leopold II : puki
Leopold III : teraba bokong
Leopold IV : bagian terendah sudah masuk PAP
Auskultasi :
DJJ : 136 kali/ menit ( dopler )
Punctum maximum : kuadran kiri atas pusat
VT : Vulva tenang, portio tebal, pembukaan 3 jari, selaput ketuban (-), presbo, penurunan bagian terendah di Hodge II, lendir darah (+), air ketuban (+)
5. Masalah
Ibu merasa cemas dan kesakitan
DASAR :
Ibu khawatir terhadap kelainan yang terjadi pada kehamilannya
6. Kebutuhan
KIE tentang tindakan operatif yang akan dilakukan pada ibu
DASAR :
Ibu tidak mengetahui tentang bahaya yang akan terjadi pada dirinya serta bayi bila dilakukan persalinan secara spontan pervaginam
DIAGNOSA POTENSIAL
ACH ( after coming head )
ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Kolaborasi dengan DSOG untuk dilakukan tindakan SC
PERENCANAAN
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.45 WIB
7. Beritahu ibu dan keluarga tentang kondisi ibu dan janin
8. Inform consent
9. Kolaborasi dengan Dokter Spesialis Obsgyn dan Dokter Spesialis Anestesi
10. Persiapan pasien
11. Persiapan alat
12. Persiapan obat
13. Pelaksanaan tindakan sectio caesaria
IMPLEMENTASI
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.50 WIB
14. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa ibu mengalami kelainan pada presentasi janin dan ketuban telah pecah sehingga memerlukan tindakan SC
15. Meminta keluarga untuk menandatangani lembar inform consent sebagai bukti persetujuan dilakukan rawat inap serta tindakan SC
16. Melakukan kolaborasi dengan Dokter Sp OG dan Dokter SpAn untuk pemberian terapi serta tindakan SC
17. Melakukan persiapan pada pasien, yaitu :
o memasang infus RL 500 ml ( mengguyur ) sebanyak 2 plabot kemudian disambung 1 plabot infuse RL 20 tpm
o memberikan injeksi criax 1 gr/IV
o melakukan sceren ( cukur pubis ) pada ibu
o memasang DC yang disambung urine bag
o mengantar pasien ke kamar operasi
o mengganti baju pasien dengan baju operasi
o memberikan support psikologis pada ibu
18. Melakukan persiapan alat, yaitu :
§1 Operasi set
Incubator
Alat suction
Kain bersih 2 buah
Pembalut
Tempat placenta
Gurita ibu
Pakaian bayi
Underpad
Spuit 3 cc, 5 cc, 10 cc
Spinal needle
Masker
Handscone
Mes
HR 37 S
Kassa
Betadine
Alcohol
Saflon
19. Melakukan persiapan obat yang dibutuhkan, yaitu :
§1 SA
myloz
bucain 10 cc
O2
Myotonic
Induksin
Novalgin
Primperan
Meylon
Kalnex
Al-F
Salticin
Extrace
Xevolac
farnat
7. Melaksanakan SC oleh DSOG dan tim OK
VII. EVALUASI
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 09.15 WIB
Keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis
Vital sign :
Tekanan darah : 110/80 mmhg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 80 kali/menit Respirasi : 20 kali/menit
Perdarahan pervaginam berupa lokhea rubra, warna merah kecoklatan
Ibu dan keluarga telah mengetahui tentang kondisi ibu dan janin
Telah dilakukan inform consent dengan keluarga pasien
Telah dilakukan kolaborasi dengan Dokter Sp OG dan Dokter Sp An
Pasien telah disiapkan pre operasi, yaitu :
o terpasang infuse RL 500 ml
o telah diberikan injeksi criax 1 gr/IV
o telah dilakukan sceren
o terpasang duer cateter yang disambungkan dengan urine bag
o paseien telah dibawa ke ruang operasi
o baju pasien telah diganti dengan baju operasi
o ibu siap menjalani SC
Peralatan telah disiapkan
Obat-obatan telah disiapkan
Telah dilaksanakan SC pada tanggal 31 Desember 2008 jam 08.30-09.15 WIB
Telah lahir bayi dengan jenis kelamin laki-laki pada tanggal 31 Desember 2008 jam 08.45, BB 3200 gram, PB 49 cm, LK/LD : 34 cm/33 cm, A/S : 6, 8, 9. placenta lahir kesan lengkap pada jam 08.50 WIB bentuk cakram, panjang tali pusat ± 45 cm, insersi centralis, berat placenta ± 500 gram.
DATA PERKEMBANGAN KALA IV
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 09.15 WIB
S :
Ibu mengatakan merasa kedinginan
Ibu mengatakan merasa nyeri pada luka post SC
Ibu mengatakan merasa lemas dan pusing
O :
keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis
Vital sign :
Tekanan darah : 110/80 mmhg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 80 kali/menit Respirasi : 20 kali/menit
Perdarahan pervaginam berupa lokhea rubra, warna merah kecoklatan
Telah lahir bayi dengan jenis kelamin laki-laki pada tanggal 31 Desember 2008 jam 08.45, BB 3200 gram, PB 49 cm, LK/LD : 34 cm/33 cm, A/S : 6, 8, 9. Placenta lahir kesan lengkap pada jam 08.50 bentuk cakram, panjang tali pusat ± 45 cm, insersi centralis, berat placenta ± 500 gram.
A : Ny. P umur 25 tahun P1A0 inpartu kala IV
P ; - Observasi KU dan VS
- Observasi perdarahan
- Informasikan tentang keadaan ibu
- KIE tentang nutrisi ibu
Evaluasi
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 11.15 WIB
Hasil observasi KU, vital sign dan perdarahan, yaitu :
No Waktu TD (mmhg) Nadi (x/mnt) Suhu
(ºC) TFU Kontraksi
uterus Kandung kemih Perdarahan
( cc )
09.30 110/80 80 2 jari ↓pusat keras 300 cc ± 50
09.45 110/80 80 2 jari ↓pusat keras 350 cc ± 30
10.00 120/80 84 2 jari ↓pusat keras 400 cc ± 25
10.15 120/70 80 2 jari ↓pusat keras 430 cc ± 20
10.45 120/70 84 2 jari ↓pusat keras 480 cc ± 10
11.15 120/70 84 2 jari ↓pusat keras 550 cc ± 10
Urine yang tertampung dalam urine bag pada pukul 11.15 sejumlah 550 cc.
Telah dijelaskan pada ibu bahwa rasa dingin dan pusing merupakan pengaruh dari obat anestesi/obat bius yang telah diberikan sebelum operasi
Ibu telah mengetahui kapan ibu boleh mulai minum yaitu ± 6 jam post partum dan ibu tidak merasa mual ataupun muntah.
DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Varney, Helen. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC
Stoppard, Miriam. 2009. Buku Pintar Kehamilan Minggu per Minggu. Jakarta : Mitra Media.
DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS PRESENTASI DI RSU ASSALAM
OLEH:
ANGESTI NUGRAHENI
ESTININGTYAS
IRSALINA RAHMA
SETIYA H
ANNISAUL KHOIRIYAH
ARVA R
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami masih diberikan kesehatan, kekuatan lahir dan batin sehingga kami dapat menyeleseikan makalah yang kami beri judul “Asuhan Kebidanan ibu bersalin sectio caesaria pada Ny. P G1P0A0 atas indikasi ketuban pecah dini, presentasi bokong di RSU ASSALAM “. Makalah ini kami buat sebagai persyaratan menyeleseikan praktik klinik kebidanan II di RSU Assalam.
Dapat seleseinya makalah ini tidak lepas dari bantuan semua pihak baik secara moril maupun material. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
Dr. Ismail
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pembuatan makalah ini, maka kami mengharap kritik dan saran yang membangun sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini kearah sempurna.
Demikian kata pengantar yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
LANDASAN TEORI
KETUBAN PECAH DINI
Ketuban pecah dini atau spontaneous/early/premature rupture of the membrane (PROM) adalah pecahnya ketuban sebelum inpartu, yaitu bila pembukaan pada primi kurang dari 3 cm dan pada multipara kurang dari 5 cm. Bila periode laten terlalu panjang dan air ketuban sudah pecah, maka dapat terjadi infeksi yang dapat meningkatkan angka kematian ibu dan anak. Untunglah karena adanya antibiotik spektrum luas maka hal ini dapat ditekan.
Sampai saat ini masih banyak pertentangan mengenai penatalaksanaan PROM yang bervariasi dari “doing nothing” samapai pada tindakan yang berlebih-lebihan. Menurut EASTMAN insidens PROM ini kira-kira 12% dari semua kehamilan.
Etiologi
Penyebab dari PROM tidak atau masih belum jelas, maka preventif tidak dapat dilakukan dalam usaha menekan infeksi.
Patogenesis
TAYLOR dkk, telah menyelidiki hal ini, ternyata ada hubungannya dengan hal-hal berikut :
Adanya hipermortalitas rahim yang sudah lama terjadi sebelum ketuban pecah. Penyakit-penyakit seperti pielonefritis, sistitis, sevisitis, dan vaginitis terdapat bersama-sama dengan hipermotalitas rahim
Selaput ketuban terlalu tipis
Infeksi (amnionitis atau korioamnionitis)
Faktor-faktor lain yang merupakan predisposisi ialah : multipara, malposisi, disproporsi, cervix incompetent, dan lain-lain
Ketuban pecah dini artificial ( amniotomi), dimana ketuban dipecahkan terlalu dini
Kadang kadang agak sulit atau meragukan kita apakah ketuban benar sudah pecah atau belum, apalagi bila pembukaan kanalis servikalis belum ada atau kecil. Cara menentukannya yaitu dengan :
Memeriksa adanya cairan yang berisi mekonium, verniks kaseosa, rambut lanugo, atau bila telah terinfeksi berbau
Inspekulo : lihat dan perhatikan apakah memang air ketuban keuar dari kanalis servikalis dan apakah ada bagian yang sudah pecah
Gunakan kertas lakmus : bila menjadi biru (basa) berarti air ketuban, bila menjadi merah (asam) berarti air kemih (urine)
Pemeriksaan pH forniks posterior pada PROM pH adalah basa (air ketuban )
Pemeriksaan histopatologi air ( ketuban )
Aborization dan sitologi air ketuban
PROM berpengaruh terhadap kehamilan dan persalinan. Jarak antara pecahnya ketuban dan permulaan dari persalinan disebut periode laten = LP = lag period. Makin muda umur kehamilan maka makin panjang LP-nya. Sedangkan lamanya persalinan lebih pendek dari biasa, yaitu primi 10 jam dan multi 6 jam.
Pengaruh PROM
Terhadap janin
Walaupun ibu belum menunjukkan gejala-gejala infeksi tetapi janin mungkin sudah terkena infeksi, karena infeksi intrauterin lebih dulu terjadi ( amnionitis, vaskulitis) sebelum gejala pada ibu dirasakan. Jadi akan meninggikan mortalitas dan morbiditas perinatal.
Terhadap ibu
Karena jalan telah terbuka, maka dapat terjadi infeksi intrapartal, apalagi bila terlalu sering diperiksa dalam. Selain itu juga dapat dijumpai infeksi peurpuralis (nifas), peritonitis dan septikemia, serta dry-labour. Ibu akan merasa lelah karena terbaring di tempat tidur, partus akan menjadi lama, maka suhu badan naik, nadi cepat dan nampaklah gejala-gejala infeksi. Hal-hal tersebut meninggikan angka kematian dan angka morbiditas pada ibu.
Prognosis
Ditentukan oleh cara penatalaksanaan dan komplikasi-komplikasi yang mungkin timbul serta umur dari kehamilan.
Pimpinan Persalinan
Ada bermacam-macam pendapat mengenai penatalaksanaan dan pimpinan persalinan dalam menghadapi PROM. Beberapa institut menganjurkan penatalaksanaan untuk PROM kira-kira sebagai berikut :
Bila anak belum viable ( kurang dari 36 minggu ) penderita dianjurkan untuk beristirahat di tempat tidur dan berikan obat-obat antibiotika profilaksis, spasmolitika, dan roboransia dengan tujuan untuk mengundur waktu sampai anak viable.
Bila anak sudah viable ( lebih dari 36 minggu ) lakukan induksi partus 6-12 jam setelah lag phase dan berikan antibiotika profilaksis. Pada kasus-kasus tertentu dimana induksi partus dengan PGE2 dan atau drips sintosinon gagal, maka lakukanlah tindakan operatif.
Jadi pada PROM penyelesaian persalinan bias :
· Partus spontan
· Ekstraksi vakum
· Ekstraksi forsep
· Embriotomi bila anak sudah meninggal
· Sectio caesaria bila ada indikasi obtetrik
Komplikasi :
Pada anak
IUFD dan IPFD, asfiksia, dan prematuritas
Pada ibu
Partus lama dan infeksi, atonia uteri, perdarahan post partum, atau infeksi nifas.
PRESENTASI BOKONG MURNI
Pengertian
Presentasi bokong adalah letak memanjang dengan kelainan dalam polaritas. Panggul janin merupakan kutub bawah. Penunjuknya adalah sacrum. Sacrum kanan depan (RSA = right sacrum anterior) adalah presenatsi bokong dengan sacrum janin ada di kuadran kanan depan panggul ibu, dan diameter bitrochanterica janin berada pada diameter oblique dextra panggul ibu.
Insidensi
Presentasi bokong dalam persalinan terdapat ± 3 % dari kehamilan. Letak sungsang dibagi menjadi :
Letak bokong murni (Frank breech) : bokong didepan, tungkai kaki lurus atas
Letak bokong kaki (complete breech) : samping bokong teraba kaki baik kedua kaki maupun satu
Letak lutut : presentasi lutut
Letak kaki : presentasi kaki
Dari letak-letak tersebut letak bokong murni paling sering dijmpai. Punggung biasanya terdapat kiri depan. Frekuensi letak sungsang > tinggi pada kehamilan muda daripada aterm dan > banyak multigravida daripada primigravida.
Etiologi
·1 Prematuritas
·2 Polyhidramnion
·3 Gemelli
·4 Placenta previa
·5 Panggul sempit
·6 Fibromyoma
·7 Hydrocephalus
·8 Janin besar
Faktor-faktor etiologi presbo adalah :
Implantasi placenta di fundus atau di cornu uteri cenderung untuk mempermudah terjadinya presentasi bokong
Catatan :
Pasien merasakan gerakan nak diperut bagian bawah dan mungkin mengeluh rasa nyeri oleh karena janin menyepak-nyepak rectum.
Bokong masuk panggul sebelum persalinan mulai adalah tidak lazim. Jarang pasien mengalami lightening
Tidak sempurnanya bokong menutup panggul merupakan predisposisi ketuban pecah awal, dengan bahaya tali pusat menumbung. Apabila ketuban pecah sebaiknya diperiksa vaginal steril untuk menentukan keadaan cerviks dan pastikan ada tidaknya tali pusat menumbung.
Teoritis bokong adalah pembuka cerviks yang jelek disbanding kepala yang flexi sempurna. Persalinan, penurunan bagian terendah dan pembukaan cerviks diperkirakan akan makan waktu lebih lama.
Pada presentasi bokong murni tungkai bawah janin, yang flexi pada pinggul dan extensi pada lutut, terletak di depan dan dekat dengan perut janin yang mengakibatkan persalinan tak maju.
Salah satu bahaya pada janin dengan presentasi bokong adalah diameter terbesar dan terkeras dating terakhir.
Kepala bayi tidak sempat moulage krn kepala cepat melewati panggul
Caput (edema baian terbawah) terbentuk di bokong. Genitalia externa membengkak
Keluarnya meconium pada presbo bukan berarti ada gawat jann seperti pada presentasi kepala. Meconium keluar dari usus Karena uterus menekan bagian bawah tubuh janin terhadap panggul ibu.
Diagnosis kedudukan
Pemeriksaan Abdominal
Letaknya adalah memanjang
Diatas panggul teraba masssa lunak, irreguler, dan tidak merasa kepala. Dicurigai bokong. Pada presbo murni otot-otot paha teregang diatas tulang-tulang dibawahnya. Memberikan gambaran keras menyerupai kepala dan menyebabkan kesalahan diagnostic.
Punggung ada disebelah kanan dekat garis tengah. Bagian-bagian kecil ada disebelah kiri, jauh dari garis tengah dan belakang.
Kepala akan teraba sebagai sesuatu yang keras, bundar, dan melenting pada fundus uteri.
Tonjolan kepala tidak ada dan bokong tidak dapat dipantulkan.
Bokong harus dibedakan dari muka karena pada letak muka jika caput succedaneum besar, muka dapat disangka bokong karena kedua tulang pipi dapat menyerupai tubera ossis ischii, dagu menyerupai ujung os sakrum, sedangkan mulut disangka anus. Yang menentukan ialah bentuk os sakrum yang mempunyai deretan prosesus spinosus yang disebut krista sakralis media.
Denyut jantung janin
Bunyi jantung terdengar pada punggung anak setinggi pusat. DJJ terdengar keras pada atau diatas umbilicus dan pada sisi yang sama dengan punggung. Pada RSA (Right Sacrum Anterior) DJJ terdengar paling keras di kuadran kanan atas perut ibu.
Pemerikasaan Vaginal
Bagian terendah teraba tinggi
Tidak teraba kepala yang keras, rata dan teratur dg garis-garis sutura dan frontanella
Bagian terendah teraba lunak dan irregular. Anus dan tuber ischiadicum terletak pada satu garis. Bokong dapat dikira muka
Jika pembukaan sudah besar, pada pemeriksaan dalam dapat teraba 3 tonjolan tulang, yaitu kedua tubera ossis ischii dan ujung os sakrum, sedangkan os sakrum dapat dikenal sebagi tulang yang meruncing dengan deretan prosesus ditengah-tengah tulang tersebut.
Kadang-kadang pada presbo murni sacrum tertarik kebawah dan teraba oleh jari-jari pemeriksa. Ia dapat dikelirukan dengan kepala oleh karena tulang yang keras.
Sacrum ada di kuadran kanan depan panggul, dan diameter bitrochanterica ada pada diameter obliqua kanan.
Kadang-kadang teraba kaki (kecuali presbo murni tdk teraba) dan harus dibedakan dengan tangan
Pemeriksaan sinar-X
Sinar-X berguna baik untuk menegakkan diagnosis maupun untuk memperkirakan ukuran dan konfigurasi panggul ibu. Pemeriksaan sinar-X harus dikerjakan pada semua primigravida dan pada multipara yang mempunyai riwayat persalinan sukar atau bayi-bayi yang dilahirkan sebelumnya kecil semua. Sinar-X menunjukkan dengan tepat sikap dan posisi janin, demikian pula kelainan-kelainan seperti hydrocephalus.
Prognosis PresBo
Ibu
Bila terjadi persalinan spontan prognosis ibu adalah baik. Laserasi tractus genitalis dan perdarahan dapat disebabkan oleh persalinan yang terlalu cepat dan dipaksakan melalui panggul yang terlampau kecil atau melalui bagian-bagian lunak yang belum cukup terbuka.
Janin
Mortalitas kasar janin anatar 10 dan 20 persen. Sebab utama kematian bayi adalah prematuritas (30 persen dibanding dengan 10 persen pada presentasi kepala). Kelainan kongenital dua kali lebih sering pada presbo dibandingkan presentasi kepala dan mempunyai andil dalam kematian janin.apalagi bila ditangani penolong yang belum berpengalaman maka risikonya lebih tinggi.
Sebab-sebab kematian atau perlukaan bayi :
Asphyxsia
Trauma pada tulang kepala dan otak
Kerusakan akibat pertolongan yang kasar pada persalinan
Ukuran bayi
Kelainan kongenital
Pecahnya ketuban (kematian perinatal bayi cukup bulan naik 3 X lipat bila jarak waktu pecahnya ketubang dengan kelahiran anak > dari 24 jam. Jika periode laten antara pcahnya ketuban dengan permulaan persalinan > dari 12 jam, kematian janin naik 3 X utk primigravida dan 5 X untuk multipara. Angka-angka ini tidak berlaku bagi bayi2 prematur)
Klasifikasi Kelahiran Bokong
1. Kelahiran per vaginam
· Persalinan bokong spontan : bayi dikeluarkan dengan tenaga alamiah ibu tanpa bantuan
· Persalinan bokong dengan pertolongan (ekstraksi bokong sebagian) ; bayi dilahirkan sampai pusat dengan tenaga alamiah ibu, bagian lain dikeluarkan oleh penolong
· Ekstraksi bokong total : seluruh badan bayi dikeluarkan oleh penolong
Syarat :
Tidak ada indikasi lain untuk bedah caesarea
Letak presbo sempurna
BB 2500-3800 gr oleh 2 pemeriksa
UK 36 mgg/ >
Tdk ada malformasi/ kemabar
Personalia medik memadai
Pelvimetri sinar X / klinis normal.
2. Sectio caesarea
Insidensinya sekitar 10 %. Dengan indikasi :
Letak bokong sempurna dengan perkiraan BB janin < dari 200 gr / > dari 3800 gr/ UK < dari 36 mgg
Kepala janin dalam sikap hiperekstensi
DM yg tergantung insulin
Bagian terbawah masih melayang
Kesempitan panggul
Riwayat persalinan sukar
Terdapat indikasi obstetrik lain untuk bedah caesarea
PERSALINAN CAESAR
Sebagian besar wanita merencanakan persalinan pervaginam atau normal, tetapi persalinan Caesar selalu menjadi suatu kemungkinan. Dengan bedah Caesar bayi dilahirkan melalui insisi yang dibuat pada dinding perut dan rahim ibu.
Alasan Bedah Caesar
Persalinan Bedah Caesar yang selanjutnya disebut SC, dilakukan karena banyak alasan. Alasan yang paling sering adalah persalinan SC sebelumnya. Akan tetapi beberapa wanita yang pernah menjalani SC dapat menjalani persalinan pervaginam setelah SC.
Terdapat beberapa risiko pada bekas operasi internal dari bedah Caesar sebelumnya yang dapat meregang dan terbuka selama sakit persalinan dan kelahiran berikutnya, dengan konsekuensi yang serius. Akan tetapi jika kehamilan dan sakit persalinan dimonitor dengan teliti, seorang wanita dapat menjalani persalinan pervaginam yang normal.
Persalinan SC diperlukan jika bayi anda terlalu besar untuk melalui jalan lahir. Keadaan ini disebut cephalo-pelvic disproportion (CPD). CPD mungkin diduga selama kehamilan, tetapi biasanya sakit persalinan harus diawali sebelum dapat ditegaskan.
Janin yang tertekan merupakan alasan lain untuk bedah SC. Para dokter menggunakan monitor janin selama sakit persalinan untuk mengamati DJJ dan responnya terhadap sakit persalinan. Jika DJJ mengindikasikan bayi mengalami masalah dengan kontraksi sakit persalinan, bedah SC diperlukan demi kesehatan bayi.
Jika tali pusat tertekan, bedah SC mungkin diperlukan. Tali pusat dapat keluar lebih dulu atau bayi dapat menekan bagian tali pusat. Ini keadaan yang membahayakan karena tali pusat yang tertekan dapat memotong persediaan darah pada bayi.
Tindakan SC diperlukan jika bayi dalam presentasi bokong (breech presentation), yang berarti kaki atau bokong bayi memasuki jalan lahir terlebih dahulu. Melahirkan bahu dan kepala setelah tubuh bayi dapat membahayakan kepala atau leher bayi khususnya pada persalinan anak pertama.
Abrupsi plasanta atau plasenta previa juga merupakan indikasi untuk dilakukannya tindakan SC. Jika plasenta terpisah dari rahim sebelum persalinan (abrupsi plasenta), bayi kehilangan persediaan oksigen dan zat gizi. Hal ini terdiagnosis saat seorang wanita mengalami perdarahan vaginal berat. Jika plasenta menutupi jalan lahir (placenta previa), bayi tidak dapat dilahirkan dengan cara lain.
Cara pembedahan cesar
Sebelum dilakukan pembedahan , pasien diberikan anestesi terlebih dahulu baik secara epidural atau spinal oleh ahli anestesi dan diberikan obat-obat yang diperlukan.
Dengan SC, insisi dibuat melalui kulit dinding perut hingga rahim. Dinding rahim dibedah, kemudian kantong amniotic yang mengandung bayi dan plasenta dibedah dan lahirkan bayi yang kemudian disertai dengan lahirnya plasenta. Rahim ditutup dalam lapisan dengan jahitan yang menyatu dengan kulit itu sendiri.
Sebagian persalinan cesar yang dilakukan sekarang adalah caesar bagian bawah cervik atau caesar transversal rendah.
Dulu, caesar sering dilakukan dengan insisi klasik, yaitu rahim dibedah pada pertengahan. Insisi ini tidak sembuh sebaik insisi serviks-bawah karena insisi ini dilakukan pada bagian otot rahim, sehingga cenderung terbuka karena kontraksi (dalam persalinan pervaginam setelah persalinan cesar) dapat menyebabkan perdarahan hebat dan membahayakan bayi. Jika ibu memiliki riwayat persalinan cesar klasik sebelumnya, maka persalinan cesar merupakan indikasi pula untuk persalinan selanjutnya.
Insisi-T adalah tipe insisi bedah cesar yang lain. Insisi ini membedah rahim seperti membentuk huruf T yang ditujukan untuk memberikan ruang lebih banyak untuk mengeluarkan bayi. Tapi insisi dengan tipe ini lebih mudah pecah daripada tipe insisi lainnya.
Keuntungan dan Kerugian SC
Keuntungan
Melahirkan bayi dengan sehat dan selamat
Menghindari rasa sakit pada proses persalinan normal atau persalinan pervaginam
Kerugian
Meningkatkan risiko terjadinya infeksi, perdarahan, syok hipovolemik
Kemungkinan pembekuan darah dan luka pada organ lain, seperti kandung kemih, atau rectum
Waktu pemulihan lebih lama daripada persalinan normal, untuk pemulihan total persalinan cesar dapat mencapai 4 hingga 6 mingggu
Untuk dapat mengetahui apakah tindakan SC diindikasikan dalam persalinan, maka hal yang penting untuk dilakukan bagi ibu hamil adalah memeriksakan kehamilannya secara teratur dan komprehensif, melakukan USG pada trimester akhir kehamilan jika memungkinkan, pada tenaga kesehatan yang berkompeten seperti bidan atau dokter ahli kandungan
ASUHAN KEBIDANAN
ASUHAN KEBIDANAN IBU BERSALIN SECTIO CAESARIA PADA NY. P G1P0A0 ATAS INDIKASI KETUBAN PECAH DINI, PRESENTASI BOKONG
DI RSU ASSALAM
Tanggal Masuk : 31 Desember 2008
Tempat : RSU Assalam
No. register : 027681
PENGKAJIAN
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.15 WIB
DATA SUBYEKTIF
1. Identitas
Nama ibu
Umur
Suku/bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat : Ny. P
: 25 tahun
: Jawa/Indonesia
: Islam
: SMP
: IRT
: kalegan RT 4 Gemolong Nama suami
Umur
Suku/bangsa
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Alamat : Tn. D
: 26 tahun
: Jawa/Indonesia
: Islam
: SMP
: Swasta
: Kalegan RT 4
Gemolong
2. Keluhan utama pada waktu masuk :
Ibu mengatakan merasa kenceng-kenceng sejak pukul 02.00 dan keluar cairan dari vagina sejak pukul 01.00 WIB
3. Data Kebidanan
a. Riwayat menstruasi
Menarche : 15 tahun
Banyaknya : ± 3 kali ganti tela / hari
Siklus : 28 hari
Keluhan : tidak ada
Jenis dan warna : encer dan merah kehitaman
Lamanya : ± 6 hari
b. Status Perkawinan
Kawin / tidak kawin : kawin syah
Usia kawin pertama : 24 tahun
Lam perkawinan : 1 tahun
c. Riwayat kehamilan, persalinan, dan nifas yang lalu
No Kehamilan Umur
kehamilan Tanggal
partus Jenis
partus Tempat
partus Penolong Penyulit
– – – – – – – –
Keadaan anak dan nifas yang lalu
No. Anak Nifas
Jenis
kelamin BB (gram) PB (cm) Keadaan Laktasi Perdarahan Nifas (hari) Keterangan
– – – – – – – – –
d. Riwayat Kehamilan sekarang
HPMT : lupa
Keluhan : ibu mengatakan mengalami mual muntah di awal kehamilan
ANC : 7 kali, di bidan, TT : 2 kali
e. Riwayat KB
Ibu mengatakan belum pernah menjadi akseptor KB jenis apapun
4. Data kesehatan
a. Data kesehatan sekarang
Ibu mengatakan tidak sedang menderita penyakit DM, hipertensi, stroke, jantung, hepatitis B, asma, TBC, dll.
b. Data kesehatan yang lalu
Ibu mengatakan tidak pernah menderita penyakit DM, hipertensi, stroke, jantung, hepatitis B, asma, TBC, dll.
c. Data kesehatan Keluarga
Ibu mengatakan dalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit DM, hipertensi, stroke, jantung, hepatitis B, asma, TBC, dll.
5. Data kebiasaan sehari-hari
No. Sebelum hamil Selama hamil
1. Nutrisi
- Makan
- Minum
- Jenis makanan
-Makanan pantang
- Alergi makanan
± 3 kali / hari
± 7-8 gelas / hari
Nasi, sayur, lauk-pauk, buah
Tidak ada
Tidak ada
± 3-4 kali / hari
± 7-8 gelas / hari
Nasi, sayur, lauk-pauk, buah, susu
Tidak ada
Tidak ada
2. Eliminasi
- BAK
Frekuensi
Warna
Bau
- BAB
Frekuensi
Konsistensi
± 4-5 kali / hari
Kuning jernih
Khas urine
± 1 kali / hari
lunak
± 5 kali / hari
Kuning jernih
Khas urine
± 1 kali / hari
lunak
3. Istirahat
- Tidur siang
- Tidur malam
- Keluhan
± 2 jam
± 6 jam
Tidak ada
± 3 jam
± 7 jam
Tidak ada
4. Personal hygiene
- Mandi
- Keramas
- Gosok gigi
- Ganti baju dan
pakaian dalam
2 kali / hari
3-4 kali / minggu
3 kali / hari
2 kali / hari
2-3 kali / hari
2-3 kali / minggu
3 kali / hari
2-3 kali / hari
5. Seksual
- Frekuensi
- Keluhan
± 2-3 kali / minggu
Tidak ada
± 1-2 kali / minggu
Tidak ada
6. Data psikososial dan agama
a. Hubungan ibu dengan keluarga
Ibu mengatakan hubungannya dengan keluarga baik, keluarganya harmonis.
b. Hubungan dengan masyarakat
Ibu mengatakan hubungannya dengan masyarakat baik, ibu aktif mengikuti kegiatan sosial di desanya.
c. Kegiatan ibadah
Ibu mengatakan bahwa ibu rajin sholat 5 waktu dan sering mengikuti pengajian di desanya.
Data Objektif
2. Pemeriksaan Umum
Keadaan umum : Baik
Kesadaran : Composmentis
Vital sign :
Tekanan darah: 120/80 mmHg Respirasi : 20 x/menit
Nadi : 84 x/menit Suhu : 36,5 oC
Tinggi badan : 157 cm
BB sekarang : 65 kg
BB sebelum hamil : 57 kg
LILA : 26 cm
3. Pemeriksaan Fisik
a. Kepala
Rambut : hitam kemerahan, lurus, bersih, tidak berketombe
Muka : tidak oedem, tidak pucat
Mata : conjunctiva merah muda (tidak anemis), sklera putih (tidak ikterik)
Hidung : tidak ada polip, bersih
Telinga : simetris, tidak mengeluarkan serumen
b. Leher
Thyroid : tidak terdapat pembengkakan kelenjar thyroid
Kelenjar getah bening : tidak terdapat pembengkakan kelenjar getah bening
c. Dada
Mammae : simetris, puting susu menonjol, areola hiperpigmentasi
Axilla : tidak ada pembengkakan
d. Abdomen
1. Inspeksi
Pembesaran : memanjang, oblique
Linea alba / nigra : terdapat linea nigra
Striae albican / livide : terdapat striae livide
Bekas operasi : tidak ada bekas luka operasi
2. Palpasi
Kontraksi : kuat, durasi 30”-40”, frekuensi 2 kali / 10 menit
Leopold I : TFU 32 cm, pada fundus teraba bulat melenting (kepala)
Leopold II : dinding perut lateral kiri teraba bagian memanjang (puki)
Leopold III : bagian bawah rahim teraba bulat, lunak, tidak melenting
Leopold IV : bagian terbawah janin belum masuk panggul
3. Auskultasi
DJJ : frekuensi 136 x/menit, teratur ( dopler )
Punctum maximum terdengar jelas di kuadran kiri atas pusat
e. Genital
Pengeluaran : terdapat pengeluaran lendir darah, air ketuban
Inspekulo : tidak dilakukan
VT : Vulva tenang, portio tebal, pembukaan 3 cm, ketuban (-), presentasi bokong, bagian terendah di Hodge II, air ketuban (+)
f. Ekstremitas
Atas : tidak oedem
Bawah : tidak oedem, tidak ada varises
Data Penunjang
4. Laboratorium
Hasil:
Gol darah : A
HbSAg : (-)
HGB : 12,0 g/dL
RBC : 4,16 x 106 /uL
WBC : 8,9 x 103 /uL
HCT : 34,5 %
PLT : 257 x 103 /uL
MCH : 28,8 pg
MCV : 83 EL
MCHC : 34,7 g / dL
INTERPRETASI DATA
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.30 WIB
4. Diagnosa Kebidanan
Ny. P umur 25 tahun G1P0A0 hamil aterm, janin hidup intra uteri, presbo, bagian terendah janin di Hodge II, inpartu kala I fase laten dengan ketuban pecah dini
Dasar :
S :
§ Ibu mengatakan bahwa ini kehamilan yang pertama
§ Ibu mengatakan merasa kenceng-kenceng sejak tanggal 31 desember 2008 pukul 02.00 WIB
§ Ibu mengatakan bahwa air ketuban sudah merembes keluar sejak pukul 01.00 WIB
O :
Keadaan umum baik, kesadaran compos mentis
Vital sign :
Tekanan darah: 120/80 mmhg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 84 kali/menit Respirasi : 20 kali/menit
Palpasi :
Kontraksi : kuat, durasi 30-40 detik, frekuensi 2 kali/10 menit
Leopold I : TFU 32 cm, teraba kepala
Leopold II : puki
Leopold III : teraba bokong
Leopold IV : bagian terendah sudah masuk PAP
Auskultasi :
DJJ : 136 kali/ menit ( dopler )
Punctum maximum : kuadran kiri atas pusat
VT : Vulva tenang, portio tebal, pembukaan 3 jari, selaput ketuban (-), presbo, penurunan bagian terendah di Hodge II, lendir darah (+), air ketuban (+)
5. Masalah
Ibu merasa cemas dan kesakitan
DASAR :
Ibu khawatir terhadap kelainan yang terjadi pada kehamilannya
6. Kebutuhan
KIE tentang tindakan operatif yang akan dilakukan pada ibu
DASAR :
Ibu tidak mengetahui tentang bahaya yang akan terjadi pada dirinya serta bayi bila dilakukan persalinan secara spontan pervaginam
DIAGNOSA POTENSIAL
ACH ( after coming head )
ANTISIPASI TINDAKAN SEGERA
Kolaborasi dengan DSOG untuk dilakukan tindakan SC
PERENCANAAN
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.45 WIB
7. Beritahu ibu dan keluarga tentang kondisi ibu dan janin
8. Inform consent
9. Kolaborasi dengan Dokter Spesialis Obsgyn dan Dokter Spesialis Anestesi
10. Persiapan pasien
11. Persiapan alat
12. Persiapan obat
13. Pelaksanaan tindakan sectio caesaria
IMPLEMENTASI
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 07.50 WIB
14. Memberitahu ibu dan keluarga bahwa ibu mengalami kelainan pada presentasi janin dan ketuban telah pecah sehingga memerlukan tindakan SC
15. Meminta keluarga untuk menandatangani lembar inform consent sebagai bukti persetujuan dilakukan rawat inap serta tindakan SC
16. Melakukan kolaborasi dengan Dokter Sp OG dan Dokter SpAn untuk pemberian terapi serta tindakan SC
17. Melakukan persiapan pada pasien, yaitu :
o memasang infus RL 500 ml ( mengguyur ) sebanyak 2 plabot kemudian disambung 1 plabot infuse RL 20 tpm
o memberikan injeksi criax 1 gr/IV
o melakukan sceren ( cukur pubis ) pada ibu
o memasang DC yang disambung urine bag
o mengantar pasien ke kamar operasi
o mengganti baju pasien dengan baju operasi
o memberikan support psikologis pada ibu
18. Melakukan persiapan alat, yaitu :
§1 Operasi set
Incubator
Alat suction
Kain bersih 2 buah
Pembalut
Tempat placenta
Gurita ibu
Pakaian bayi
Underpad
Spuit 3 cc, 5 cc, 10 cc
Spinal needle
Masker
Handscone
Mes
HR 37 S
Kassa
Betadine
Alcohol
Saflon
19. Melakukan persiapan obat yang dibutuhkan, yaitu :
§1 SA
myloz
bucain 10 cc
O2
Myotonic
Induksin
Novalgin
Primperan
Meylon
Kalnex
Al-F
Salticin
Extrace
Xevolac
farnat
7. Melaksanakan SC oleh DSOG dan tim OK
VII. EVALUASI
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 09.15 WIB
Keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis
Vital sign :
Tekanan darah : 110/80 mmhg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 80 kali/menit Respirasi : 20 kali/menit
Perdarahan pervaginam berupa lokhea rubra, warna merah kecoklatan
Ibu dan keluarga telah mengetahui tentang kondisi ibu dan janin
Telah dilakukan inform consent dengan keluarga pasien
Telah dilakukan kolaborasi dengan Dokter Sp OG dan Dokter Sp An
Pasien telah disiapkan pre operasi, yaitu :
o terpasang infuse RL 500 ml
o telah diberikan injeksi criax 1 gr/IV
o telah dilakukan sceren
o terpasang duer cateter yang disambungkan dengan urine bag
o paseien telah dibawa ke ruang operasi
o baju pasien telah diganti dengan baju operasi
o ibu siap menjalani SC
Peralatan telah disiapkan
Obat-obatan telah disiapkan
Telah dilaksanakan SC pada tanggal 31 Desember 2008 jam 08.30-09.15 WIB
Telah lahir bayi dengan jenis kelamin laki-laki pada tanggal 31 Desember 2008 jam 08.45, BB 3200 gram, PB 49 cm, LK/LD : 34 cm/33 cm, A/S : 6, 8, 9. placenta lahir kesan lengkap pada jam 08.50 WIB bentuk cakram, panjang tali pusat ± 45 cm, insersi centralis, berat placenta ± 500 gram.
DATA PERKEMBANGAN KALA IV
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 09.15 WIB
S :
Ibu mengatakan merasa kedinginan
Ibu mengatakan merasa nyeri pada luka post SC
Ibu mengatakan merasa lemas dan pusing
O :
keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis
Vital sign :
Tekanan darah : 110/80 mmhg Suhu : 36,5 ºC
Nadi : 80 kali/menit Respirasi : 20 kali/menit
Perdarahan pervaginam berupa lokhea rubra, warna merah kecoklatan
Telah lahir bayi dengan jenis kelamin laki-laki pada tanggal 31 Desember 2008 jam 08.45, BB 3200 gram, PB 49 cm, LK/LD : 34 cm/33 cm, A/S : 6, 8, 9. Placenta lahir kesan lengkap pada jam 08.50 bentuk cakram, panjang tali pusat ± 45 cm, insersi centralis, berat placenta ± 500 gram.
A : Ny. P umur 25 tahun P1A0 inpartu kala IV
P ; - Observasi KU dan VS
- Observasi perdarahan
- Informasikan tentang keadaan ibu
- KIE tentang nutrisi ibu
Evaluasi
Tanggal : 31 Desember 2008 Jam : 11.15 WIB
Hasil observasi KU, vital sign dan perdarahan, yaitu :
No Waktu TD (mmhg) Nadi (x/mnt) Suhu
(ºC) TFU Kontraksi
uterus Kandung kemih Perdarahan
( cc )
09.30 110/80 80 2 jari ↓pusat keras 300 cc ± 50
09.45 110/80 80 2 jari ↓pusat keras 350 cc ± 30
10.00 120/80 84 2 jari ↓pusat keras 400 cc ± 25
10.15 120/70 80 2 jari ↓pusat keras 430 cc ± 20
10.45 120/70 84 2 jari ↓pusat keras 480 cc ± 10
11.15 120/70 84 2 jari ↓pusat keras 550 cc ± 10
Urine yang tertampung dalam urine bag pada pukul 11.15 sejumlah 550 cc.
Telah dijelaskan pada ibu bahwa rasa dingin dan pusing merupakan pengaruh dari obat anestesi/obat bius yang telah diberikan sebelum operasi
Ibu telah mengetahui kapan ibu boleh mulai minum yaitu ± 6 jam post partum dan ibu tidak merasa mual ataupun muntah.
DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, Rustam. 1998. Sinopsis Obstetri. Jakarta : EGC
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kebidanan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Wiknjosastro, Hanifa. 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Varney, Helen. 2002. Buku Saku Bidan. Jakarta : EGC
Stoppard, Miriam. 2009. Buku Pintar Kehamilan Minggu per Minggu. Jakarta : Mitra Media.
DISUSUN GUNA MEMENUHI TUGAS PRESENTASI DI RSU ASSALAM
OLEH:
ANGESTI NUGRAHENI
ESTININGTYAS
IRSALINA RAHMA
SETIYA H
ANNISAUL KHOIRIYAH
ARVA R
karma
sebuah kata yang terdengar menakutkan. kata yang berarti seseorang akan menuai apa yang pernah dia tanam. dia akan merasakan apa yang pernah dia lakukan pada orang lain.
sebagian orang hanya menganggapnya angin lalu. tapi aku menganggap bahwa karma memang benar benar ada. seseorang yang menanam bibit yang baik maka akan memanen hasil yang baik juga. Allah juga menuangkan dalam AL QUR'AN yang suci bahwa seseorang akan melihat balasan atas baik-buruk amal yang ia kerjakan. Allah itu Maha Adil dan Maha Mengetahui. jadi apapun yang seseorang pikirkan dan lakukan akan diketahui oleh Nya. oleh karenanya, berhati2 adalah cara yang aman. berhati2 untuk selalu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku yang baik pada orang lain agar bibit kebaikan yang ditanam akan berbuah manis di masa yang akan datang. insyaallah.
sebagian orang hanya menganggapnya angin lalu. tapi aku menganggap bahwa karma memang benar benar ada. seseorang yang menanam bibit yang baik maka akan memanen hasil yang baik juga. Allah juga menuangkan dalam AL QUR'AN yang suci bahwa seseorang akan melihat balasan atas baik-buruk amal yang ia kerjakan. Allah itu Maha Adil dan Maha Mengetahui. jadi apapun yang seseorang pikirkan dan lakukan akan diketahui oleh Nya. oleh karenanya, berhati2 adalah cara yang aman. berhati2 untuk selalu berpikir, bersikap, bertindak, dan berperilaku yang baik pada orang lain agar bibit kebaikan yang ditanam akan berbuah manis di masa yang akan datang. insyaallah.
Senin, 09 Februari 2009
Kasus missed abortion
Kemarin siang (9/02/09) saya jumpai ada kasus missed abortion pada Ny F umur 27 tahun di RS Medika Mulya Wonogiri. Dia tidak merasa ada keluhan apapun. Dia menerima kenyataan bahwa janinnya telah mati saat periksa kehamilan di dokter spesialis kandungan. Dari hasil USG ternyata janin telah mati. Kemudian dokter menganjurkannya ke rumah sakit untuk menjalani curetage yaitu untuk membersihkan kandungan.
Apa sebenarnya definisi, etiologi, diagnosis, dan penatalaksaan dari kasus missed abortion??
Abortus adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan secara paksa sebelum janin dapat bertahan hidup,dengan usia kehamilan hingga 20 minggu atau berat janin 500 gram. Abortus spontan yang dikenal dengan istilah keguguran terjadi alami tanpa induksi.
Etiologi abortus adalah:
1. kelainan genetik (75-90% total keguguran).
2. Kadar progesteron tidak normal
3. Kelainan kelenjar thyroid
4. Diabetes tidak terkontrol
5. Kelainan uterus
6. Infeksi
7. Penyakit autoimun lain
Diagnosis aborsi spontan terbagi dalam berbagai bentuk:
1. Abortus imminens (mengancam)
2. Abortus insipiens (tak dapat dihindari)
3. Missed Abortion (janin mati dalam rahim)
4. Abortus inkompletus (sebagian jaringan masih tertinggal dalam rahim)
Pada missed abortion didapatkan bahwa janin telah meninggal dan hasil konsepsi masih ada dalam rahim selama bdberapa jangka waktu (2 minggu atau lebih).
Tanda dan gejala:
1. Kondisi pada awal kehamilan normal
2. Terdapat bercak darah atau perdarahan atau nyeri abdomen atau nyeri punggung pada saat kematian janin (bisa ada bisa tidak)
3. Pembesaran rahim terhenti, kemudian mengecil bebesapa lama kemudian akibat maserasi janin dan penyerapan cairan amnion)
4. Kelenjar susu kembali ke keadaan semula
5. Wanita tertentu mengalami penurunan berat badan
6. Amenore menetap
7. Tidak ada denyut jantung janin setelah usia kehamilan tertentu.
Jika ada tanda tanda di atas maka dilakukan USG untuk memastikan kematian janin. Apabila kematian janin telah terjadi maka akan ada peningkatan resiko mekanisme pembekuan yang abnormal dan potensi disseminated intravascular coagulopathy ( DIC ).
Penatalaksanaan yang didapatkan Ny F di rumah sakit adalah curetage. Persiapannya meliputi
- infus RL + drip syntocinon 10 iu
-pemberian obat oral berupa Gastrul/6 jam sebanyak 4 tablet.
- observasi pembukaan porsio
- puasa 6 jam pre curetage
- Setelah ada pembukaan porsio maka dilakukan curetage oleh dokter SPOG.
Apa sebenarnya definisi, etiologi, diagnosis, dan penatalaksaan dari kasus missed abortion??
Abortus adalah suatu usaha mengakhiri kehamilan dengan mengeluarkan hasil pembuahan secara paksa sebelum janin dapat bertahan hidup,dengan usia kehamilan hingga 20 minggu atau berat janin 500 gram. Abortus spontan yang dikenal dengan istilah keguguran terjadi alami tanpa induksi.
Etiologi abortus adalah:
1. kelainan genetik (75-90% total keguguran).
2. Kadar progesteron tidak normal
3. Kelainan kelenjar thyroid
4. Diabetes tidak terkontrol
5. Kelainan uterus
6. Infeksi
7. Penyakit autoimun lain
Diagnosis aborsi spontan terbagi dalam berbagai bentuk:
1. Abortus imminens (mengancam)
2. Abortus insipiens (tak dapat dihindari)
3. Missed Abortion (janin mati dalam rahim)
4. Abortus inkompletus (sebagian jaringan masih tertinggal dalam rahim)
Pada missed abortion didapatkan bahwa janin telah meninggal dan hasil konsepsi masih ada dalam rahim selama bdberapa jangka waktu (2 minggu atau lebih).
Tanda dan gejala:
1. Kondisi pada awal kehamilan normal
2. Terdapat bercak darah atau perdarahan atau nyeri abdomen atau nyeri punggung pada saat kematian janin (bisa ada bisa tidak)
3. Pembesaran rahim terhenti, kemudian mengecil bebesapa lama kemudian akibat maserasi janin dan penyerapan cairan amnion)
4. Kelenjar susu kembali ke keadaan semula
5. Wanita tertentu mengalami penurunan berat badan
6. Amenore menetap
7. Tidak ada denyut jantung janin setelah usia kehamilan tertentu.
Jika ada tanda tanda di atas maka dilakukan USG untuk memastikan kematian janin. Apabila kematian janin telah terjadi maka akan ada peningkatan resiko mekanisme pembekuan yang abnormal dan potensi disseminated intravascular coagulopathy ( DIC ).
Penatalaksanaan yang didapatkan Ny F di rumah sakit adalah curetage. Persiapannya meliputi
- infus RL + drip syntocinon 10 iu
-pemberian obat oral berupa Gastrul/6 jam sebanyak 4 tablet.
- observasi pembukaan porsio
- puasa 6 jam pre curetage
- Setelah ada pembukaan porsio maka dilakukan curetage oleh dokter SPOG.
kekuatan kita
ROBERT COLLIER:'kesempatan anda untuk sukses selalu dapat diukur oleh seberapa besar kepercayaan diri yang anda miliki'
masing2 kita punya tujuan dan harapan2 yg akan membuat qt terus berusaha mencpai tjuan itu. selalu ada peluang utk maju saat ada kemauan dan kemampuan yg terus diasah. dan doa pada ALLAH pun menyempurnakan proses pencapaian tjuan itu.
'orang cerdik adalah org yg mempersiapkan dirinya dan beramal utk kebaikan dunia dan akhirat.'
ada 3 kekuatan yg qt punya:
1. kekuatan materi sbg modal yang memudahkan dlm memperjuangkan kbhagiaan
2. kekuatan moral dan mental yg dpt berupa dorongan motivasi dan pujian yg bernilai positif
3. kekuatan ruhiyah yaitu keimanan pd ALLAH SWT yg membuat semangat tak pernah patah meski fisik melemah dan dukungan dari luar tak ada. akan bermakna hidup ini saat kita memiliki tujuan-tujuan hidup yang jelas. SO KEEP ON FIGHTING!
masing2 kita punya tujuan dan harapan2 yg akan membuat qt terus berusaha mencpai tjuan itu. selalu ada peluang utk maju saat ada kemauan dan kemampuan yg terus diasah. dan doa pada ALLAH pun menyempurnakan proses pencapaian tjuan itu.
'orang cerdik adalah org yg mempersiapkan dirinya dan beramal utk kebaikan dunia dan akhirat.'
ada 3 kekuatan yg qt punya:
1. kekuatan materi sbg modal yang memudahkan dlm memperjuangkan kbhagiaan
2. kekuatan moral dan mental yg dpt berupa dorongan motivasi dan pujian yg bernilai positif
3. kekuatan ruhiyah yaitu keimanan pd ALLAH SWT yg membuat semangat tak pernah patah meski fisik melemah dan dukungan dari luar tak ada. akan bermakna hidup ini saat kita memiliki tujuan-tujuan hidup yang jelas. SO KEEP ON FIGHTING!
Minggu, 01 Februari 2009
mereka berkata 'aku melakukannya sebagai ungkapan cinta'
di ruang bersalin ini ada seorang ibu muda yang sudah masuk masa persalinan. ketika di tanya umur dia menjawab 16 tahun. wow! beneran ga tuh??
dia bilang sudah menikah. kapan? dia menjawab 5 bulan yang lalu. lalu dia bertutur bahwa dia menikah karena kecelakaan. naudzubillah..
sayang sekali, perempuan berparas cantik berkulit langsat itu harus terjerumus dalam gaya sex bebas. padahal dia masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk mengejar mimpinya. 16 tahun itu masa belia, seharusnya dia duduk d bangku sekolah mendengarkan penjelasan gurunya, atau mengerjakan soal matematika, atau sedang asyik mengkaji buku buku pelajaran di perpustakaan sekolahnya. dia juga seharusnya dapat menikmati waktunya bersama teman temannya. berbagi bercerita tentang harapan di masa depannya..lalu merencanakan SMA dan kampus mana yang dia inginkan. tapi semua sudah tak mungkin lagi. kini dia terbaring d bed. sebentar lagi dia akan menimang bayi hasil hubungan sex yang tak bertanggung jawab!
dia mungkin pernah memiliki mimpi tapi ia tak punya kesempatan untuk mewujudkannya.
mereka yang menganut free
sex it beranggapan bahwa hubungan badan itu sebagai ungkapan cinta. karena saling mencinta maka seorang perempuan bersedia menyerahkan kehormatannya pada pacarnya. dan si laki laki tega mengambil kehormatannya tanpa tanggung jawab. sesuatu yang berharga yang seharusnya di jaga sampai tiba masanya untuk suami atau istrinya.
fenomena ini sudah tidak jarang di temukan. remaja anak smp hingga kuliah sudah banyak yang terjerumus. akibat dari kurangnya kesadaran diri akan pentingnya menjaga kehormatan, kurang pengetahuan agama, minimnya pedoman hidup ,pergaulan bebas yang tak beretika dan suramnya tujuan hidup yang sebenarnya. selain itu adalah faktor keluarga yang tidak berhasil menjalankan fungsinya membentuk generasi bermartabat.
sekarang apa yang bisa qt lakukan? dari mana membenahi kondisi kerusakan moral yang kronis ini. peran keluargalah yang harus dioptimalkan dalam menanamkan moral dan pengetahuan agama yang kuat dlm diri anak anak sejak dini. orang tua secara intensif memfokuskan pada pembinaan karakter,kepribadian,pola pikir, dan tingkah laku. peran ibu adalah yang utama karena ibu yang mengasuh dan mendidik anak sejak dalam kandungan sampai waktu yg tak berbatas. ibu disini menjadi madrasah kehidupan yang nyata. pendidikan moral dan agama harus ditanamkan sejak dini-agar kuat hingga dia dewasa-sebagai pondasi yang kokoh.
dia bilang sudah menikah. kapan? dia menjawab 5 bulan yang lalu. lalu dia bertutur bahwa dia menikah karena kecelakaan. naudzubillah..
sayang sekali, perempuan berparas cantik berkulit langsat itu harus terjerumus dalam gaya sex bebas. padahal dia masih muda, masih punya banyak kesempatan untuk mengejar mimpinya. 16 tahun itu masa belia, seharusnya dia duduk d bangku sekolah mendengarkan penjelasan gurunya, atau mengerjakan soal matematika, atau sedang asyik mengkaji buku buku pelajaran di perpustakaan sekolahnya. dia juga seharusnya dapat menikmati waktunya bersama teman temannya. berbagi bercerita tentang harapan di masa depannya..lalu merencanakan SMA dan kampus mana yang dia inginkan. tapi semua sudah tak mungkin lagi. kini dia terbaring d bed. sebentar lagi dia akan menimang bayi hasil hubungan sex yang tak bertanggung jawab!
dia mungkin pernah memiliki mimpi tapi ia tak punya kesempatan untuk mewujudkannya.
mereka yang menganut free
sex it beranggapan bahwa hubungan badan itu sebagai ungkapan cinta. karena saling mencinta maka seorang perempuan bersedia menyerahkan kehormatannya pada pacarnya. dan si laki laki tega mengambil kehormatannya tanpa tanggung jawab. sesuatu yang berharga yang seharusnya di jaga sampai tiba masanya untuk suami atau istrinya.
fenomena ini sudah tidak jarang di temukan. remaja anak smp hingga kuliah sudah banyak yang terjerumus. akibat dari kurangnya kesadaran diri akan pentingnya menjaga kehormatan, kurang pengetahuan agama, minimnya pedoman hidup ,pergaulan bebas yang tak beretika dan suramnya tujuan hidup yang sebenarnya. selain itu adalah faktor keluarga yang tidak berhasil menjalankan fungsinya membentuk generasi bermartabat.
sekarang apa yang bisa qt lakukan? dari mana membenahi kondisi kerusakan moral yang kronis ini. peran keluargalah yang harus dioptimalkan dalam menanamkan moral dan pengetahuan agama yang kuat dlm diri anak anak sejak dini. orang tua secara intensif memfokuskan pada pembinaan karakter,kepribadian,pola pikir, dan tingkah laku. peran ibu adalah yang utama karena ibu yang mengasuh dan mendidik anak sejak dalam kandungan sampai waktu yg tak berbatas. ibu disini menjadi madrasah kehidupan yang nyata. pendidikan moral dan agama harus ditanamkan sejak dini-agar kuat hingga dia dewasa-sebagai pondasi yang kokoh.
Langganan:
Komentar (Atom)
.jpg)