Rabu, 02 September 2009

Pembentukan Pribadi Rabbani Masa Embrional

Untuk mewujudkan terbentukna pribadi rabbani metode dan sistem tarbiyah yang komprehensif. Al Qur’an dan sunnah telah memberikan petunjuk dan pedoman yang rinci mengenai cara untuk menjadi pribadi rabbani.
Perkembangan pribadi rabbani sebenarnya tak hanya dimulai setelah manusia terlahir ke dunia. Tapi jauh dari itu adalah pada fase embrional, yaitu masa dimana terjadi pembuahan sel sperma dan ovum kemudian mengalami perkembangan menjadi blastokista, blastula,morula, zigot, lalu menempel pada pada dinding rahim dan menjadi embrio dan selanjutnya berkembang menjadi janin. Perkembangan hasil pembuahan dalam rahim ini dinamakan fase embrional.
Fase embrional adalah fase penentu dan penting karena fase ini merupakan awal terbentuknya eksistensi insan yang akan dipersiapkan untuk terlahir ke bumi. Menurut Al Banjari (2008) ada beberapa kewajiban yang harus dilakukan :

1. Mencari pasangan hidup yang benar
Perlu diketahui bahwa menikah bukan sekedar pelampiasan hasrat sex, namun lebih tinggi dari itu adalah kepatuhan terhadap Allah dan Rasulnya, melaksanakan amanat ketuhanan, yaitu melahirkan calon khalifah yang diharapkan dapat meneruskan pengembangan tugas dan amanat kenabiansecara proporsional dan profesional.
Pasangan yang akan dinikahi harus memilki kualitas agama yang baik.
“ perempuan itu dinikahi karena 4 faktor : karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah yang bagus agamanya” (HR Bukhari Muslim)
Menurut hadits, dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita shalihah. Wanita shalihah adalah untuk laki-laki shalih, dan sebaliknya.
Apabila kehidupan pernikahan seorang laki-laki dan wanita berdasarkan pada pengamalan agama yang baiik dan benar maka eksistensi dan esseni dirinya telah berubah menjadi insan rabbani sehingga benih keturunan (genetika) akan berpadu melalui perkawinan yang akan menghasilkan kemuliaan kebaikan, dan keagungan dihadapan Allah dan hamba-Nya.

2. Niat dan iktikad perkawinan yang lurus karena Allah
Niat perkawinan adalah kesengajaan hati untuk menjalin hubungan kasih sayang dan cinta antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan yang sah menurut syariat Islam, sebagai bukti penghambaan kepada Allah dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad Saw. Perkawinan adalah demi mengharapkan keridhaan, kecintaan, dan perjumpaan dengan Nya. (Al Banjari, 2008)

3. Pelaksanaan pernikahan yang benar
Pelaksanaan pernikahan hendaknya sesuai tuntunan agama agar tidak mengurangi substansi dari pernikahan itu sendiri. Harus ada restu dari orang tua kedua belah pihak. Mahar hendaknya yang bermanfaat untuk kehidupan kelak yang diperoleh secara halal.

4. Kualitas sperma dan ovum yang baik
Makanan yang masuk ke tubuh hendaknya berasal dari harta yang halal, bersih, sehat dan bergizi. Apabila makanan terbuat dari sesuatu yang baik, bersih dan bergizi maka akan menjadikan kesehatan pada gamet (sel kelamin) yang membawa faktor genetik yang baik. Jika terjadi pembuahan maka akan menghasilkan bibit yang baik dan sehat pula.
jika kita memakan makanan haram seperti bangkai, darah, minuman keras, napza, maka akan berdampak buruk bagi kesehatan. Juga merokok meskipun terlihat sepele namun dampak jangka panjangnya dapat mengakibatkan kanker, tidak hanya pada paru-paru tapi dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain. Racun pada rokok juga tidak baik untuk kesehatan sperma karena jelas racun pada rokok akan mempengaruhi pertumbuhan sperma.

5. Memohon perlindungan dari Allah katika melakukan hubungan suami istri
Rasulullah mengajarkan pentingnya memohon perlindungan pada Allah. Hikmahnya setan akan menjauh dari proses hubungan itu baik melalui pikiran, hati, atau pada hasil pembuahan nanti.

6. Saat kehamilan
Pada kehamilan merupakan ujian kesabaran untuk calon ibu dan calon ayah. Karena selama kehamilan akan terjadi banyak perubahan fisik dan psikologis ibu. Pada awal kehamilan ibu akan menjadi sensitif akan dirinya, saat pertengahan si ibu mungkin sudah mampu menerima kehamilannya, dan pada akhir kehamilan maka si ibu akan fokus pada kesehatan bayinya. Hal ini menjadi tanggung jawab suami untuk mengerti keadaan istrinya dan memperlakukan istri dengan baik. Karena kondis emosi ibu mempengaruhi perkembangan janin dalam kandungan.
Pada masa ini suami istri harus selalu mendekatkan diri kepada Allah sehingga pikiran dan tubuh selalu dialiri oleh kebaikan dan ketakwaan. Karena menurut Emoto dalam The Power Of True Water, elemen air dalam diri akan bereaksi menurut pikiran kita. Saat di stimulasi dengan pikiran positif maka akan menghasilkan kristal yang indah. Apalagi jika air dalam tubuh distimulasi oleh kalimat-kalimat Allah yang mulia maka kekuatan Ilahiyah akan masuk ke dalam kandungan dan masuk ke dalam tubuh bayi, masuk ke dalam sel-sel tubuhnya.

Ini adalah proses embrional untuk membentuk pribadi rabbani. Intinya, kualitas spiritual dari kedua orang tuaya yang akan mempengaruhi pembentukan janin dengan energi-energi ke-Ilahi-an. Harus disadari bahwa proses embrional ini penting, maka kedua orang tua harus memperhatikan pemikiran, tindakan, dan juga kebersihan hatinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan tinggalkan jejak...