KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, kami masih diberikan kesehatan, kekuatan lahir dan batin sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang kami beri judul “ KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU dan ASUHAN KEBIDANANNYA“.
Dapat selesainya makalah ini tidak lepas dari bantuan semua pihak baik secara moril maupun material. Untuk itu kami mengucapkan terima kasih kepada :
1.dr. Widiyanto, SpOG selaku dokter pembimbing
2.Ibu Siti Syamsiah, Amd. Keb selaku kepala ruang VK/Shinta
3.Seluruh bidan, perawat, serta karyawan RS Medika Mulya yang tidak dapat kami sebutkan satu persatu
Kami menyadari masih banyak kekurangan dan keterbatasan dalam pembuatan makalah ini, maka kami mengharap kritik dan saran yang membangun sehingga kami dapat memperbaiki makalah ini kearah sempurna.
Demikian kata pengantar yang dapat kami sampaikan, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.
Wonogiri, Januari 2009
Penulis
LANDASAN TEORI
KEHAMILAN EKTOPIK
DEFINISI
Kehamilan ektopik merupakan salah satu komplikasi kehamilan dimana ovum yg sudah dibuahi menempel dijaringan yang bukan dinding rahim. Kehamilan ektopik terjadi bila sel telur yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di luar endometrium kavum uteri. Kehamilan ekstrauterin tidak sama dengan kehamilan ektopik karena kehamilan pars interstisialis tuba dan kanalis servikalis masih termasuk dalam uterus, tetapi jelas bersifat ektopik.
Sebagian besar kehamilan ektopik berlokasi pada tuba, sangat jarang terjadi implantasi pada ovarium, rongga perut, kanalis servikalis uteri, tanduk uterus rudimenter, dan diventrikel pada uterus. Berdasarkan implantasi hasil konsepsi pada tuba, terdapat kehamilan pars interstisialis tuba, kehamilan pars ismika tuba, kehamilan pars ampularis tuba, dan kehamilan infundibulum tuba. Implantasi telur bersifat columner ialah pada puncak lipatan selaput tuba atau intercolumner ialah antara lipatan selaput lendir. Setelah telur menembus epitel, maka pada implantasi intercolumner telur masuk ke dalam lapisan otot tuba karena tidak ada desidua ; pada implantasi columner telur terletak pada lipatan selaput lendir.
Walaupun kehamilan terjadi diluar rahim, rahim membesar juga karena hipertrofi dari otot-ototnya yang disebabkan pengaruh hormon-hormon yang dihasilkan trofoblas, begitu pula endometriumnya berubah menjadi desidua vera. Setelah janin mati, desidua ini mengalami degenerasi dan dikeluarkan sepotong demi sepotong, tapi kadang-kadang lahir secara keseluruhan hingga merupakan cetakan dari cavum uteri. Pelepasan desidua ini disertai dengan perdarahan dan kejadian ini menerangkan gejala perdarahan pervaginam pada kehamilan ektopik yang terganggu.
Perkembangan kehamilan tuba biasanya tidak dapat mencapai cukup bulan, biasanya berakhir pada minggu ke-6 sampai minggu ke-12, yang paling sering antara minggu ke-6 sampai minggu ke-8.
Kehamilan di luar tuba ialah kehamilan ovarial, kehamilan intraligamenter, kehamilan servikal, dan kehamilan abdominal primer atau sekunder. Kehamilan intrautein dapat ditemukan bersamaan dengan kehamilan ekstrauterin. Dalam hal ini dibedakan menjadi dua jenis, yaitu combined ectopic pregnancy dimana kehamilan intrauterine terdapat pada waktu yang sama dengan kehamilan ekstrauterin dan compound ectopic pregnancy yang merupakan kehamilan intrauterine pada wanita dengan kehamilan ekstrauterine lebih dahulu dengan janin yang sudah mati menjadi litopedion.
FREKUENSI
Dalam kepustakaan frekuensi kehamilan ektopik dilaporkan antara 1 : 28 sampai 1 : 329 tiap kehamilan. Kejadian kehamilan tuba sebesar 95 % dari kehamilan ektopik. (Helen varney, 2002 )
Gejala kehamilan ektopik terganggu yang dini tidak selalu jelas, sehingga tidak dibuat diagnosisnya. Tidak semua kehamilan ektopik berakhir dengan abortus dalam tuba atau rupture tuba. Sebagian hasil konsepsi mati dan pada umur muda kehamilan diresorbsi. Pada hal yang terakhir ini penderita hanya mengeluh haidnya terlambat untuk beberapa hari.
Pemakaian antibiotika dapat meningkatkan frekuensi terjadinya kehamilan ektopik. Antibiotic dapat mempertahankan terbukanya tuba yang mengalami infeksi, tetapi perlekatan menyebabkan pergerakan silia dan peristaltis tuba terganggu dan menghambat perjalanan ovum yang dibuahi dari ampulla ke rahim sehingga implantasi terjadi pada tuba.
Kontrasepsi juga dapat mempengaruhi frekuensi kehamilan ektopik terhadap jumlah kelahiran di rumah sakit atau masyarakat. Banyak wanita dalam masa reproduksi tanpa factor predisposisi untuk kehamilan ektopik membatasi kelahiran dengan kontrasepsi, sehingga jumlah kelahiran turun, dan frekuensi kehamilan ektopik terhadap kelahiran secara relative meningkat. Selain itu IUD dapat mencegah secara efektif kehamilan intrauterine tetapi tidak mempengaruhi kejadian kehamilan ektopik.
Sebagian besar wanita yang menga lami kehamilan ektopik berumur antara 20-40 tahun dengan umur rata-rata 30 tahun. Frekuensi kehamilan ektopik yang berulang dilaporkan berkisar antara 0-14,6 %.
1.Kehamilan Tuba
ETIOLOGI
Etiologi kehamilan ektopik telah banyak diselidiki, tetapi sebagian besar penyebabnya tidak diketahui. Tiap kehamilan dimulai dengan pembuahan sel telur di bagian ampulla tuba, dan dalam perjalanan ke uterus, telur mengalami hambatan sehingga pada saat nidasi masih di tuba, atau nidasinya di tuba dipermudah.
Factor-faktor yang mempengaruhi ialah sebagai berikut.
1.Factor dalam lumen tuba
a.Endosalpingitis dapat menyebabkan perlekatan endosalping, sehingga lumen tuba menyempit atau membentuk kantong buntu
b.Pada hipoplasia uteri lumen tuba sempit dan berkelok-kelok dan hal ini sering disertai gangguan fungsi silia endosalping
c.Operasi plastic tuba dan sterilisasi yang tak sempurna dapat menjadi sebab lumen tuba menyempit
2.Factor pada dinding tuba
a.Endometriosis tuba dapat mempermudah implantasi telur yang dibuahi dalam tuba
b.Divertikel tuba congenital atau ostium assesorius tubae dapat menahan telur yang telah dibuahi
3.Factor diluar dinding tuba
a.Perlekatan peritubal dengan distorsi atau lekukan tuba dapat menghambat perjalanan sel telur
b.Tumor yang menekan dinding tuba dapat menyempitkan lumen tuba
4.faktor lain
a.migrasi luar ovum, yaitu perjalanan dari ovarium kanan ke tuba kiri- atau sebaliknya- dapat memperpanjang perjalanan sel telur yang dibuahi ke uterus, pertumbuhan telur yang terlalu cepat dapat menyebabkan implantasi premature
b.fertilisasi in vitro
PATOLOGI
Proses implantasi ovum yang dibuahi, yang terjadi di tuba pada dasarnya sama dengan di kavum uteri. Telur di tuba bernidasi secara kolumner atau interkolumner. Pada yang pertama telur berimplantasi pada ujung atau sisi jonjot endosalping. Perkembangan telur selanjutnya dibatasi oleh kurangnya vaskularisasi dan biasanya telur mati secara dini dan kemudian diresorbsi. Pada nidasi interkolumner telur bernidasi antara 2 jonjot endosalping. Setelah tempat nidasi tertutup maka telur dipisahkan dari lumen tuba oleh lapisan jaringan yang menyerupai desidua dan dinamakan pseudokapsularis. Karena pembentukan desidua di tuba tidak sempurna malahan kadang kadang tidak tampak, dengan mudah vili korialis menembus endosalping dan masuk ke dalam lapisan otot otot tuba dengan merusak jaringan dan pembuluh darah. Perkembangan janin selanjutnya bergantung pada beberapa faktor seperti tempat implantasi, tebalnya dinding tuba, dan banyaknya perdarahan yang terjadi oleh invasi trofoblas.
Di bawah pengaruh hormone esterogen dan progesterone dari korpus luteum graviditatis dan trofoblas, uterus menkjadi besar dan lembek; endometrium dapat pula berubah menjadi desidua. Dapat ditemukan pula perubahan perubahan yang terjadi pada endometrium yang di sebut fenomena Aries-Stella. Sel epitel membesar dengan intinya hipertrofik, hiperkromatik, lobuler, dan berbentuk tak teratur. Sitoplasma sel dapat berlubang-lubang atau berbusa, dan kadang-kadang ditemukan mitosis. Perubahan tersebut hanya ditemukan pada kehamilan ektopik. Setelah janin mati, desidua dalam uterus bernidasi dan kemudian dikeluarkan berkeping-keping, tapi kadang kadang dilepaskan secara utuh. Perdarahan yang dijumpai pada kehamilan ektopik terganggu berasal dari uterus bdan disebabkan oleh pelepasan desidua yang degeneratife.
Mengenai nasib kehamilan dalam tuba terdapat beberapa kemungkinan. Karena tuba bukan tempat untuk pertubbuhan hasil konsepsi, tidak mungkin janin bertumbuh secara utuh seperti dalam uterus. Sebagian besar kehamilan tuba terganggu pada umur kehamilan antara 6-10 minggu.
1.Hasil konsepsi mati dini dan diresorbsi
Pada implantasi secara kolumner, ovum yag dibuahi cepat mati karena vaskularisasi dan dengan mudah terjadi resorbsi total. Dalam keadaan ini tidak mengeluh apa apa, hanya haid terlambat untuk beberapa hari.
2.Abortus ke dalam lumen tuba
Perdarahan yag terjadi karena pembukaan pembuluh-pembuluh darah oleh vili korialis pada dinding tuba oleh tempat implantasi dapat melepaskan mudigah dari dinding tersebut bersama dengan robeknya pseudokapsularis. Pelepasan ini dapat terjadi sebagian atau seluruhnya, tergantung pada derajat perdarahan yang timbul. Bila pelepasan menyeluruh mudigah dengan selaputnya dikeluarkan dalam lumen tuba dann kemudian di dorong oleh darah ke arah ostium tuba abdominale. Frekuensi abortus dalam tuba tergantung pada implantasi telir yang dibuahi. Abortus ke lumen tuba lebih sering terjadi pada kehamilan pars ampullaris, sedangkan penembusan dinding tuba oleh vili korialis kea rah peritoneum biasanya terjadi pada kehamilan pars ismika. Perbedaan ini disebabkan karena pars ampularis lebih luas, sehingga dapat menghikuti lebih mudah pertumbuhan hasil konsepsi dibandingkan deangan bagian ismus dengan lumen sempit.
Pada pelepasan hasil konsepsi yang tak sempurna pada abortus, perdarahan akan terus berlangsung, dari sedikit sedikit oleh darah, sehingga berubah menjadi mola kruenta. Perdarahan yang berlangsung terus menyebabkan tuba membesar dan kebiru-biruan (hematosalping), dan selanjunya darah mengalir ke rongga perut melalui ostium tuba. Darah ini akan berkumpul di kavum Douglas dan akan ,berkumpul membentuk hematokel retrouterina.
3.Ruptur dinding tuba
Ruptur dinding tuba sering terjadi bila ovum berimplantasi pada ismus dan biasanya pada kehamilan muda. Sebaliknya ruptur pada pars interstisialis terjadi pada kehamilan yang lebih lanjut. Faktor utama yang menyebabakan ruptur adalah penembusan vili koriales ke dalam lapisan muskularis tuba terus ke peritoneum. Ruptur dapat terjadi secara spontan, atau karena trauma ringan seperti koitus atau pemeriksaan vaginal. Dalam hal ini akan terjadi perdarahan dalam rongga perut, kadang-kadan g banyak sampai menimbulkan kematian. Bila pseudokapsularis ikut pecah, maka terjadi pula perdarahan dalam lumen tuba. Darah dapat mengalir ke dalam rongga perut melalui ostium tuba abdominale.
Bila pada abortus dalam tuba ostium tuba tersumbat, ruptur sekunder dapat terjadi. Dalam hal ini dinding tuba, yang telah menipis oleh invasi trofioblas, pecah karena tekanan darah dalam tuba. Kadang-kadang ruptur terjadi di arah ligamentum latum dan terbentuk hematoma intraligamenter antar a 2 lapisan ligamentum itu. Janin hidup terus, terdapat kehamilan intraligamenter.
Pada ruptur ke rongga perut seluruh janin dapat keluar dari tuba, tetapi robekan tuba kecil, perdarahan terjadi tanpa hasil konsepsi dikeluarkan dari tuba. Bila penderita tidak dioperasi dan tidak meninggal karena perdarahan, nasib janin tergantung pada kerusakan yang diderita dan tuanya kehamilan. Bila janin mati dan masih kecil, dapat diresirbsi seluruhnya; bila besar, kelak dapat berubah menjadi litopedion.
Janin yang dikeluarkan dari tuba dengan masih diselubungi oleh kantong amnion dan dengan plasenta ,masih utuh, kemungkinan rongga perut, sehingga akan terjadi kehamilan abdominal sekunder. Untuk mencukupi kebutuhan makanan bagi janin, plasenta dari tuba akan meluaskan implementasinya ke jaringan sekitarnya, misalnya ke sebagian uterus, ligamentum latum, dasar panggul, dan uterus.
Gambaran klinik
Gambaran klinik kehamilan tuba yang belum terganggu tidak khas, dan penderita maupun dokternya biasanya tidak mengetahui adanya kelainan dalam kehamilan, sampai terjadinya abortus tuba atau rupture tuba. Karena biasanya kehamilan ektopik memberikan gejala-gejala yang jelas dan khas kalau sudah terganggu. Pada umumnya penderita menunjukkan gejala-gejala kehamilan muda, dan mungkin merasa nyeri sedikit diperut bagian bawah yang tidak seberapa dihiraukan. Pada pemeriksaan vaginal uterus membesar dan lembek, walaupun mungkin tidak sebesar tuanya kehamilan. Tuba yang mengandung hasil konsepsi karena lembeknya sukar diraba pada pemeriksaan bimanual.
Gejala dan tanda kehamilan tuba terganggu sangat berbeda-beda, dari perdarahan banyak yang tiba-tiba dalam rongga perut sampai terdapatnya gejala yang tidak jelas, sehingga sukar membuat diagnosisnya. Gejala dan tanda bergantung pada lamanya kehamilan ektopik terganggu, abortus atau rupture tuba, tuanya kehamilan, derajat perdarahan yang terjadi, dan keadaan umum penderita sebelum hamil.
Nyeri merupakan keluhan utama pada kehamilan ektopik terganggu. Pada rupture tuba nyeri perut bagian bawah terjadi secara tiba-tiba dan intensitasnya disertai dengan perdarahan yang menyebabkan penderita pingsan dan masuk kedalam syok. Biasanya pada abortus tuba nyeri tidak seberapa hebat dan tidak terus-menerus. Rasa nyeri mula-mula terdapat pada satu sisi; tetapi, setelah darah masuk kedalam rongga perut, rasa nyeri menjalar kebagian tengah atau ke seluruh perut bawah. Darah dalam rongga perut dapat merangsang diafragma, sehingga menyebabkan nyeri bahu dan bila membentuk hematokel retrouterine, menyebabkan defekasi nyeri.
Perdarahan pervaginam merupakan tanda penting kedua pada kehamilan ektopik terganggu. Hal ini menunjukan kematian janin, dan berasal dari kavum uteri karena pelepasan desisua. Perdarahan yang berasal dari uterus biasanya tidak banyak dan berwarna coklat tua. Frekuensi perdarahan dikemukakandari 51 hingga 93 %. Perdarahan berarti gangguan pembentukan human chorioniuc gonadotropin. Jika plasenta mati, desidua dapat dikeluarkan seluruhnya.
Amenorea juga merupakan tanda penting pada kehamilan ektopik. Lamanya amenorea tergantung pada kehidupan janin, sehingga dapat bervariasi. Sebagian penderita tidak mengalami penderita amenorea karena kematian janin terjadi sebelum haid berikutnya. Hal ini menyebabkan frekuensi amenorea yang dikemukakan berbagai penulis sekitar 23-97 %.
Pada kehamilan ektopik terganggu ditemukan pada pemeriksaan vaginal bahwa usaha menggerakan serviks uteri menimbulkan rasa nyeri, demikian pula kavum douglas menonjol dan nyeri pada perabaan. Pada abortus tuba biasanya teraba dengan jelas suatu tumor di samping uterus dalam berbagai ukuran dengan konsistensi agak lunak. Hematokel retrouterina dapat diraba sebagai tumor dikavum douglas. Pada rupture tuba dengan perdarahan banyak tekanan darah dapat menurun dan nadi meningkat; perdarahan lebih banyak lagi dan menimbulkan syok.
Kehamilan ektopik terganggu sangat bervariasi, dari yang klasik dengan gejala perdarahan mendadak dalam rongga perut dan ditandai oleh abdomen akut sampai gejala –gejala yang samar-samar, sehingga sukar membuat diagnosis.
a.Gambaran gangguan mendadak
Peristiwa ini tidak sering ditemukan. Penderita, setelah mengalami amenorea dengan tiba-tiba, menderita rasa nyeri yang hebat didaerah perut bagian bawah dan sering muntah-muntah. Nyeri dapat demikian hebatnya, sehingga penderita jatuh pingsan. Penderita tak lama kemudian masuk dalam keadaan syok akibat perdarahan dengan tekanan darah menurun, nadi kecil dan cepat, ujung ekstremitas basah, pucat, dan dingin. Seluruh perut agak membesar, nyeri tekan, dan tanda-tanda cairan intraperitoneal mudah ditemukan. Pada pemeriksaan vaginal forniks posterior menonjol dan nyeri raba, pergerakan serviks menyebabkan rasa nyeri. Kadang-kadang uterus teraba sedikit membesar dengan disebelahnya suatu adnex tumor, tetapi biasanya sulit karena dinding abdomen tegang.
b.Gambaran gangguan tidak mendadak
Abortus tuba atau yang terjadi perlahan-lahan
Rasa nyeri yang tidak terus menerus diperut bagian bawah; kadang-kadang rasa nyeri itu hebat pula
Darah dalam rongga perut, rasa nyeri menetap
Anemia terjadi karena perdarahan berulang
Disebelah uterus terdapat tumor (hematosalping)=kadang menjadi satu dengan hematokel retrouterina=kavum douglas sangat menonjol dan nyeri raba
Pergerakan serviks nyeri
Rasa penuh didaerah rectum dan merasa tenesmus
c.Gambaran gangguan atipik
Pada keadaan ini pasien biasanya diobati untuk obat infeksi pelvic selama beberapa minggu sebelum keadaan sebenarnya diketahui. Hal ini dikarenakan gambaran klinik kadang-kadang tidak begitu jelas, sehingga diagnose tidak dibuat.
Jadi, gejala-gejala kehamilan ektopik yang terpenting dapat disimpulkan sebagai berikut:
Nyeri perut
Amenorrhea
Perdarahan pervaginam
Shock hipovolemik
Nyeri bahu dan leher ( iritasi diafragma )
Nyeri pada palpasi
Nyeri pada toucher
Pembesaran uterus
Tumor dalam rongga panggul
Gangguan kencing
Perubahan darah
Diagnosis
Pada kehamilan ektopik belum terganggu cenderung sukar menegakkan diagnose, sehingga sebagian besar penderita mengalami abortus tuba atau rupture tuba sebelum keadaan menjadi jelas. Alat bantu yang dapat digunakan untuk membantu menegakkan diagnose yaitu :
Ultrasonografi, laparoskopi, kuldoskopi
Anamnesa
Pada wanita reproduktis yang mengalami amenorea dengan keluhan nyeri perut bagian bawah atau kelainan haid serta kadang-kadang terdapat gejala subyektif kehamilan muda, kemungkinan kehamilan ektopik dapat dipikirkan.
Pemeriksaan umum
Penderita Nampak kesakitan dan pucat.
Pemeriksaan ginekologi
Tampak tanda-tanda kehamilan muda, pada perabaan uterus teraba membesar dan kadang-kadang teraba tumor di samping uterus, cavum douglas menonjol dan nyeri raba ( menunjukkan hematokel retro uterine ), nyeri pergerakan cervik, kadang suhu naik.
Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan hemoglobin, biasanya ditemukan anemia
Pemeriksaan jumlah sel darah merah membantu menegakkan diagnose terutama bila terjadi perdarahan dalam rongga perut
Pemeriksaan leukosit, bila leukosit meningkat hal ini menunjukkan adanya perdarahan. Tetapi jumlah leukosit tidak lebih dari 20.000, karena hal ini menunjukkan keadaan infeksi pelvic.
PP test, pada kehamilan ektopik tidak selalu hasil test kehamilan menunjukkan positif. Karena kemungkinan pada saat dilakukan PP test telah terjadi kematian hasil konsepsi dan degenerasi trofoblas yang menyebabkan penurunan kadar human chorionic gonadotropin menurun sehingga menyababkan hasil test negative. Pada Kehamilan ektopik kadar hCG rendah untuk usia gestasi.
Reaksi galli mainini, kalau positif maka ada kehamilan. Reaksi yang negative tidak berarti
Douglas punksi, jarum besar yang dihubungkan dengan spuit ditusukkan kedalam cavum douglas di tempat cavum douglas menonjol kedalam fornix posterior. Jika terhisap darah ada 2 kemungkinan, yaitu adanya darah dalam cavum douglas jadi ada perdarahan dalam rongga perut ; tertusuknya vena dan terhisapnya daerah vena dari daerah tersebut. Maka untuk mengatakan douglas punksi positif, darah yang dihisap mempunyai sifat sebagai berikut ; berwarna merah tua, tidak membeku setelah dihisap, biasanya di dalamnya terdapat gumpalan-gumpalan darah yang kecil.
Kuldosintesis
Untuk mengetahui apakah pada cavum douglas terdapat darah.
Ultrasonografi
Diagnosis pasti ialah apabila terlihat kantong gestasi berisi janin hidup yang letaknya di luar cavum uteri, namun gambaran ini hanya dijumpai pada 5-10 % kasus. Sebagian besar kehamilan ektopik tidak memberikan gambaran yang spesifik. Besar uterus kemungkinan normal atau mengalami sedikit pembesaran yang tidak sesuai dengan usia kehamilan. Cavum uteri sering berisi cairan eksudat yang diproduksi oleh sel-sel desidua, yang pada pemeriksaan terlihat sebagai struktur cincin anekhoik yang disebut kantong gestasi palsu ( pseudogestational sac). Perdarahan intraabdominal yang terjadi pada kehamilan ektopik terganggu juga tidak memberikan gambaran spesifik, tergantung dari banyak dan lamanya proses perdarahan. Gambaranyya dapat berupa massa anekhoik di cavum douglas yang mungkin meluas sampai ke bagian atas abdomen. Bila sudah terjadi bekuan darah, gambarannya berupa massa ekhogenik yang tidak homogen.
Laparoskopi
Laparoskopi hanya digunakan sebagai alat bantu diagnostic terakhir untuk kehamilan ektopik, apabila hasil penilaian prosedur diagnostic yang lain meragukan.
Diagnosis diferensial
Infeksi pelvic
Gejala yang menyertai infeksi pelvic biasanya timbul waktu haid dan jarang setelah mengalami amenorea. Nyeri perut bawah dan tahanan yang dapat diraba pada pemeriksaan vaginal pada umumnya bilateral. Perbedaan suhu rectal dan axilla melebihi 0,5 °C. leukositosis lebih tinggi dari kehamilan ektopik, tes kehamilan negative.
Abortus imminens atau insipiens
Perdarahan lebih banyak dan lebih merah sesudah amenorea, rasa nyeri yang yang lebih kurang berlokasi di daerah median dan bersifat mules. Tidak teraba tahanan di samping atau dibelakang uterus, gerakan serviks tidak menimbulkan nyeri.
Rupture korpus luteum
Biasanya terjadi pada pertengahan siklus haid. Perdarahan pervaginam tidak ada dan tes kehamilan negative.
Torsi kista ovarium dan appendicitis
Gejala dan tanda kehamilan muda, amenorea, biasanya tidak ada perdarahan pervaginam. Tumor pada kista ovarium lebih besar dan lebih bulat daripada kehamilan ektopik. Nyeri perut bawah pada appendicitis terletak pada titik McBurney.
Penanganan
Penanganan kehamilan ektopik pada umumnya adalah laparotomi. Pembedahan membutuhkan anastesi umum ( general anastesi ). Dalam tindakan pembedahan, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
Kondisi penderita
Keinginan penderita akan fungsi reproduksinya
Lokasi kehamilan ektopik
Kondisi anatomic organ pelvic
Kemampuan bedah mikro dokter operator
Kemampuan teknologi fertilitas invitro setempat
Hasil pertimbangan tersebut menentukan apakah perlu dilakukan salpingektomi pada kehamilan tuba atau dapat dilakukan pembedakan konservatif dalam arti hanya dilakukan salpingostomi atau renastomosis tuba. Apabila kondisi pasien syok, lebih baik dilakukan salpingektomia.
Pada kasus kehamilan ektopik di pars ampularis tuba yang belum pecah pernah dicoba ditangani dengan menggunakan kemoterapi untuk menghindari tindakan pembedahan. Criteria kasus yang diobati dengan cara ini adalah :
Kehamilan di pars ampularis tuba belum pecah
Diameter kantung gestasi ≤ 4 cm
Perdarahan dalam rongga perut kurang dari 100 ml
Tanda vital baik dan stabil
Obat yang digunakan adalah ialah methotrexate 1 mg/kg IV dan citrovorum factor 0,1 mg/kg IM berselang-seling setiap hari selama 8 hari.
Implikasi keperawatan pada kehamilan ektopik, yaitu :
Kaji segera status hemodinamik pasien untuk menentukan banyaknya darah yang hilang
Dapatkan kadar hemoglobin, tipe, dan cocok silang
Dapatkan kadar hCG serum untuk menegaskan kehamilan
Berikan cairan pengganti secara intra vena
Siapkan pasien untuk menjalani laparotomi guna meligasi perdarahan dan memperbaiki tuba yang rusak
Berikan RH0 globulin imun (RHIG) sebagai perlindungan isoimunisasi bagi pasian yang darahnya RH negative
Jika tuba tidak rupture, antisipasi pemakaian methotrexate oral diikuti dengan leucovorin sampai diperoleh titer hCG negative
Tawarkan dukungan emosional pada pasien dan pasangannya, beri kesempatan pada merika untuk berduka atas diakirinya kehamilan dan kemungkinan diangkatnya tuba falopi, beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan masalah kehilangan dan usia subur dimasa mendatang secara verbal.
Prognosis
Kematian karena kehamilan ektopik terganggu cenderung turun dengan diagnosis dini dan persediaan darah yang cukup. Tetapi bila pertolongan terlambat, angka kematian dapat tinggi. Pada umumnya kelainan yang menyebabkan kehamilan ektopik bersifat bilateral. Sebagian wanita menjadi steril setelah mengalami kehamilan ektopik, atau dapat mengalami kehamilan ektopik lagi pada tuba yang lain.
2. Kehamilan Interstisiil
Implantasi telur terjadi dalam pars Interstisialis tuba. Karena lapisan miometrium disini lebih tebal maka rupture terjadi lebih lambat, kira-kira pada bulan ke-3 atau ke-4. Kalau rupture maka akan terjadi perdarahan hebat karena tempat ini banyak pembuluh darahnya sehingga dalam waktu yang singkat dapat menyebabkan kematian. Terapi yaitu histerektomi.
4.Kehamilan Ovarial
Jarang terjadi dan biasanya berakhir dengan rupture pada hamil muda. Perdarahan pada ovarium ini dapat disebabkan bukan saja oleh pecahnya kehamilan ovarium, tetapi bias oleh rupture kista korpus luteum, torsi dan endometriosis. Gejala-gejalanya sama dengan kehamilan tuba. Stux membagi kehamilan ovarial menjadi 3, yaitu : intra folikular (nidasi pada folikel), superficial (implantasi pada permukaan ovarium), interstisial (pada pars interstisialis ovarium). Untuk mendiagnosa kehamilan ovarial harus dipenuhi criteria dari speigelberg.
5.Kehamilan Cervikal
Kehamilan cervical jarang sekali terjadi, nidasi terjadi dalam selaput lendir cervik, dengan tumbuhnya telur servik mengembung. Kehamilan cervik biasanya berakir pada kehamilan muda karena menimbulkan perdarahan hebat yang memaksa pengguguran. Placenta sukar dilepaskan dan pelepasan placenta menimbulkan perdarahan hebat hingga servik perlu ditampon atau kalau ini tidak menolong dilakukan histerektomi.
DISUSUN OLEH TEMAN TEMAN SEPERJUANGAN
ANGESTI NUGRAHENI
ESTININGTYAS
IRSALINA RAHMA
SETIYA H
ANISSAUL K
ARVA R
Rabu, 25 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan tinggalkan jejak...