Takdir adalah sesuatu yang ingin aku capai dalam hidup. Semua orang yang masih muda tahu takdir mereka. Dan mereka mengejarnya di setiap musim. Berjalan terus untuk mewujudkan mimpi mereka. Keran saat muda itu mereka memiliki semangat terbaik untuk terus maju dan mengupayakan terwujudnya mimpi itu.
Takdir adalah ketetapan Allah yang telah tertulis. Takdir adalah sesuatu yang mutlak ketika telah terjadi. Namun ketika belum terjadi maka takdir masih ada dalam masa ketidak pastian yang mungkin berubah. Karena kita sendiri belum tahu bagaimana takdir itu ditetapkan atas kita. Maka menjadi hal wajib bagi kita untuk berupaya membuat kita pantas untuk takdir yang baik.
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar-Ra’d : 11)
Kewajiban manusia adalah berusaha, dan Allah yang menentukan hasilnya. Selalu menyertai setiap usaha dengan doa agar Allah meridhai upaya kita. Lalu berpasrah setelah kita memastikan telah melakukan yang terbaik dari diri kita. Yang terbaik di setiap detiknya. Dan hasilnya kita tunggu dengan sepenuh keyakinan dan setulusnya doa. Agar Allah memberikan yang terbaik sesuai dengan usaha kita.
Jalan menuju takdir itu dirancang dengan perencanaan yang penuh pertimbangan. Ada arahan yang jelas kemana harus berlayar. Agar jelas pula tempat yang dituju. Membuat peta kehidupan membuat kita lebih terkonsentrasi pada apa yang ingin kita capai. Pada suatu saat kita pun akan menjadi jelas tentang posisi dimana kita berada dan memulai setiap tindakan. Hidup terarah, setiap tahun, setiap bulan, setiap harinya. Arah menuju apa yang ingin kita capai.
Sebenarnya merancang jalan menuju takdir bukan sebuah cara yang mutlak akan mendapatkan takdir yang kita inginkan karena semua bergantung bagaimana proses dalam perjalanan menuju takdir itu. Proses yang benar dan tepat sesuai tuntunan Allah adalah satu-satunya pegangan keselamatan. Jika niat benar memohon ridha-Nya semata, cara benar sesuai aturan Allah, dan dilakukan dengan tanggung jawab dan keikhlasan, serta di maksimalkan dengan doa sebelum, selama, dan setelah proses, maka takdir yang baik itu, insyaallah akan kita dapatkan.
Namun, ada kalanya semua usaha yang kita lakukan, meski kita rasa sudah maksimal namun belum membuahkan takdir yang baik menurut pengetahuan kita. Belum tentu takdir yang telah Allah tetapkan itu adalah hal yang buruk. Bisa jadi Allah memiliki rencana lain yang tidak kita tahu. Bisa jadi ada terselip kesalahan dalam prosesnya. Bisa jadi jalan yang kita tempuh keliru. Bisa jadi niat kita salah. Bisa jadi proses yang kita jalani belum tepat. Yang berarti kita harus lebih interospeksi lagi.
Membuat perencanaan baru untuk memperbaiki keadaan atau merencanakan jalan menuju takdir yang lain. Yang jelas, Allah tidak akan menentukan takdir yang buruk untuk umatnya yang telah berusaha. Mungkin Allah menghendaki kita mendapa takdir yang lain. Jadi kita harus terus berharap hanya pada Allah saja.
Sebenarnya dalam proses perjalanan hidup manusia memang sudah tertulis takdirnya. Tapi jelas sekali manusia tidak tahu apa-apa tentang takdir yang akan diterima. Maka wajib baginya berusaha untuk mendapatkan takdir yang baik. Memang, hidup adalah sebuah roda yang berputar. Kadang bahagia, kadang sengsara. Kadang mulus kadang terjal. Kadang tertawa kadang menangis. Itulah hidup. Takdir yang buruk itu, adalah ujian untuk meningkatkan kualitas kita dimata Allah. Dan sesuai janji Allah, jika kita berusaha berubah maka takdir akan berubah. Dan jika takdir yang beik belum kita dapatkan, kita harus tetap berusaha dan berharap pada Allah tanpa putus asa. Allah akan menyediakan jalan yang baik. Yakin. Percaya. Tawakal. Husnudzan pada Allah.
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(QS Al baqoroh 186)
Kita tidak boleh putus asa dan berprasangka buruk pada Allah. Sesuai firman Allah, “Aku akan mengikuti persangkaan hamba-Ku terhadap-Ku. Selalu menyertainya jika ia berdora kepada-Ku”. (HR Bukhari Muslim)
Kamis, 08 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
hhhehehhehe
BalasHapus