Kamis, 08 Oktober 2009

Tiga Aturan Kebahagiaan

Kebahagiaan kadang datang kadang pergi. Bahagia sulit didefinisikan dengan kata-kata. Hanya bagaimana kita merasakan kebahagiaan itu. Arti bahagia, rasa bahagia, kondisi bahagia, dan cara mendapatkan kebahagiaan itu berbeda bagi tiap orang. Maka bila ada yang menyatakan kebahagiaannya adalah jika banyak harta, punya popularitas, ataupun banyak teman, sah-sah saja bagi mereka. Ada pula sebagian yang lain yang menyatakan kebahagiaan itu jika dia mampu berbuat untuk memberikan manfaat terbaik dan untuk memberikan kebahagiaan untuk orang lain. Lebih banyak memberi manfaat maka dia akan semakin berbahagia. Ini pun adalah sebuah ladang kebahagiaan untuknya.
Ada beberapa aturan mengenai kebahagiaan. Salah satu bingkai dari lukisan kebahagiaan dari sekian banyak bingkai. Salah satu rambu, dari seribu rambu kebahagiaan.
1. Ga semua kesenangan adalah kebahagiaan
Sering kita merasa sudah hepy dan bahagia, tapi ternyata berujung duka. Merasa sudah nyaman di situasi yang membuatnya gembira, tapi saat tersadar sebenarnya membawa kesedihan. Banyak contoh yang ditemui. Salah satunya, pacaran, yang dianggap sebagai sebuah pembenaran dari kesalahan. Pacaran, tidak ada dalam syariat Islam. Sebagian ada yang mengatakan, “senang ya, punya pacar?” atau ada lagi yang bilang, “ enak punya pacar, ada yang nemeni kemana pergi”. Apa sih yang dicari dari pacaran? Cuma main-main yang mendatangkan dosa lebih besar. Batasan-batasan sudah dilanggar, aturan sudah diacuhkan, larangan tak diindahkan lagi.
Padahal jika dilihat lebih jauh, pacaran dapat membawa bencana besar. Dosa besar jika sampai terjadi zina. Naudzubillah.
Bersabar untuk tidak pacaran. Menunggu pasangan terbaik di saat yang tepat adalah lebih bijaksana. Tak perlu khawatir pada jodoh seperti apa yang akan datang. Khawatir apakah dia akan sebaik apa yang diinginkan. Yang paling penting adalah memperbaiki diri dulu. Mempercantik hati dulu. Agar jika saatnya tiba nanti kita menjadi pantas untuk takdir yang baik. Memohon pada Allah agar datang dia yang akan menjadi separuh jiwa. Bersabar.
“ Andaikata kebenaran itu mengikuti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada, dan semua yang ada di dalamnya.sebenarnya kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tapi mereka berpaling daari kebanggaan itu” (QS Al Mukmin 71)
2. Jangan berbahagia di atas penderitaan orang lain
Bukan kebahagiaan namanya jika berada di atas penderitaan orang lain. Sikap seorang yang beradab dan beriman saat melihat penderitaan orang lain adalah berempati dan segera memberikan pertolongan. Ia ga tenang jika melihat orang lain kesusahan. Ia akan merasa bahagia jika melihat orang lain bahagia.
3. Kebahagiaan adalah resultan usaha, pikiran, dan perbuatan
Kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya tapi perlu diperjuangkan. Ia adalah resultan dari usaha kita membangun kebahagiaan itu. Siapapun yang tak mampu berpikir bahagia maka selama itu ia tak kan merasakan bahagia. Memikirkan hal-hal positif membuat kita merasakan bahagia. We are what we think. Usaha yang besar untuk mendapatkan kebahagiaan yang besar pula.

2 komentar:

silakan tinggalkan jejak...