Waktu berlalu. Tak terasa telah dua bulan berjalan dari pertemuan yang di Training EQM itu. Aku sekarang sedang menjalani praktek klinik di rumah sakit. Sebagai mahasiswa kebidanan aku sangat bersemangat menjalani every single day dalam hidupku. Karena aku mencintai duniaku sekarang. Aku mencintai dunia kebidanan. Menjadi bidan adalah salah satu profesi mulia karena bidan menolong ibu yang melahirkan. Dengan ijin Allah, seorang bidan menjadi perantara penolong dua nyawa. Itulah kata-kata ayahku yang selalu terngiang dalam benakku dan menjadi penyemangatku dalam setiap proses perkuliahan dan praktek yang aku tekuni. Sebenarnya bidang garap kebidanan tidak cuma menolong persalinan, tapi luas dari dari mulai bayi sampai lanjut usia.
Banyak kasus yang aku temukan di lapangan. Kasus normal maupun tidak normal. Semuanya membuat aku lebih yakin dan takjub pada kuasa Allah. Saat bayi lahir dari rahim ibunya, dia menangis. Dia adalah makhluk mungil yang dipelihara Allah selama 40 minggu dalam kandungan ibunya. Rasa haru selalu saja memenuhi dadaku saat ibu mulai menggendong dan menyusui bayinya. Indah.
Sms masuk ke hp-ku suatu malam setelah aku membantu menolong persalinan. Aku membukanya.
“ I wonder why, I can’t get u out of my mind.”
Aku tersenyum. Aku mengetik balasan untuknya,“I can say nothing”
Aku tunggu lama, tapi tak ada balasan lagi. Lalu dua jam kemudian ada sms masuk.
“ Kenapa kamu cuekin aku?”
Aku balas, ” sorry, aku ada pasien tadi.”
“ Dari tadi kamu ga respons,” balasnya.
Aku enggan membalasnya. Terlalu manja untuk seorang laki-laki. Aku juga tidak mau nantinya terlalu larut dalam kata-katanya.
Malam berikutnya aku baru pulang dari rumah sakit jam 21.30 malam. Inilah yang harus aku jalani tanpa keluh kesah. Memang tidak baik untuk seorang perempuan, tapi inilah yang harus aku jalani untuk menimba ilmu di lahan. Sebuah sms masuk dan aku membukanya.
“Sedang apa?”
“ Baru pulang dari rumah sakit, km?”tanyaku.
“ Kamu baru pulang?? Tadi ada temannya,kan? Aku lagi baca-baca.”
“ Iya ada temannya, Kirana namanya.”
“Ada sebuah cerita. Dulu waktu ketemu kamu di acara training aku ingin minta no hpmu. Tapi aku malu. Lalu aku berdoa semoga kita di pertemukan. Esok paginya kita bertemu lagi. Aku ga nyangka. Aku mau minta no hpmu, masih malu juga. Lalu aku pasrah, InsyaAllah diberikan jalan.”
Aku spontan kaget membaca sms itu. Apa maksudnya??? Seolah dia mengharapkan bertemu lagi. Untuk apa?? Sms Affan yang terakhir itu spontan membuat aku berpikir kenapa dia menceritakan itu. Aku bertanya padanya.
“ Apa yang kamu rasakan sekarang?”
“ Aku bersyukur ”, dia pandai berkata-kata. Kata-kata itu melukiskan senyum di bibirku.
Rabu, 25 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan tinggalkan jejak...