Matahari di kota Solo terasa berbeda. Musim kemarau tahun ini lebih panas dari tahun lalu. Global warming telah merambah bumi yang kian padat ini. Perindustrian berkembang pesat di mana-mana. Kendaraan bermotor, pendingin udara, gas produk-produk pengharum yang mengandung CFC telah menjadi penyuplai gas rumah kaca yang terakumulasi dalam jumlah besar di atmosfer yang menghalangi panas matahari keluar dari atmosfer bumi. Perusakan hutan dan lingkungan oleh tangan-tangan jahil yang meraup keuntungan milyaran. Disempurnakan oleh lifestyle manusia yang tidak sesuai dengan prinsip ramah lingkungan semakin memperparah kerusakan alam. Ya,inilah pe-er yang harus dikerjakan oleh generasi muda bangsa ini, menyelamatkan bumi ini dari kerusakan dan sekaligus melestarikannya!
Kuliah farmakologi telah selesai. Dr. Sastroatmodjo keluar dari ruang kuliah disusul teman-teman lain yang sudah tidak sabar pengen pulang. Aku dan Kirana keluar paling akhir. Peluh sedikit membasahi dahi saat aku dan Kirana berjalan ke ruang BEM. Aku menyapu peluh dengan tissue yang aku pegang sejak kuliah tadi. Mataku langsung tertuju pada sebuah pamflet yang bertuliskan Training EQM di papan mading. Aku ingin sekali ikut. Karena di sini aku akan belajar mengontrol diri dan emosiku. Dan betapa beruntungnya, Mbak Niar mengajakku dan Kirana mengikuti acara itu sebagai wakil BEM. Ah....alhamdulillah. Langsung saja aku mendaftar ke nomor yang ada di pojok kiri bawah pamflet.
Besok paginya, tepat pukul 8.00 aku dan Kirana sudah ada di Aula MIPA. Masih sepi sekali. Sepertinya acara akan molor sampai jam 9.00. Jam karet sudah sedemikian membudaya negeri ini, terkenal sampai ke luar negeri. Predikat ini memang tak membanggakan. Waktu adalah kesempatan untuk berbuat, meningkatkan kualitas hidup. Tapi tak banyak yang memperhatikannya. Dan waktu berlalu untuk menunggu.
Aku antusias sekali mengikuti acara ini. Pak Budi, seorang dosen Fakultas Agama Islam UMS yang menjadi trainernya. Peserta dilatih untuk peka mengenal kepribadian diri sendiri dan orang lain sehingga peserta mampu berinteraksi dengan orang lain sesuai dengan kepribadiannya.
Ada sesi dimana peserta dibagi dalam beberapa kelompok. Seorang tutor telah mendatangi kelompokku, dia berperawakan sedang, berkulit cokelat dan tersenyum ramah.
“Kelompok 5 ya? Insyaallah saya akan menjadi pendamping di kelompok ini”.
“Iya, benar ini kelompok 5”, jawabku.
Sesaat kemudian teman sekelompokku membuat posisi melingkar. Kami terdiri dari enam orang plus pembimbing yang belum aku tahu namanya itu.
“ Assalamualaikum, nama saya Affan. Di kesempatan kali ini saya akan membantu teman-teman untuk diskusi bareng,” perkenalannya sangat singkat. Dia terlihat sopan, ramah, kalem, dan selalu tersenyum. Perkenalan itu diikuti dengan teman teman lain sekelompok. Kebetulan dia duduk tepat di hadapanku. Aduh, ini posisi yang sulit!
Ada beberapa pertanyaan yang dilontarkan Mas Affan. Kami sekelompok diminta menulis jawabannya di kertas. Lalu nanti dibacakan bergiliran. Pertanyaan pertama, bagaimana sifat yang ada di diri kita. Buat aku ini bukan pertanyaan sulit. Langsung aku tuliskan di selembar kertas tentang sifat apa aja yang melekat padaku. Sekilas aku melirik ke teman-teman lain mereka terlihat masih berpikir. Menggigit pulpen dan pandangan matanya lurus ke lantai. Mungkin di situ ada jawabannya. Lebih lucunya lagi ada yang melirik jawaban temannya. Lalu senyum-senyum sendiri.
Mas Affan juga melihat tingkah kami. Dia nyeletuk, “ Kenapa kok pada diem? Mungkin belum pernah menganalisa sifat yang ada pada diri sendiri ya? Tapi Malika ini lancar banget nulisnya. Mungkin udah kenal karakter diri sendiri ya, Malika?”
Teman-teman yang tadinya melihat lantai, sekarang semua malihat padaku. “Iya... mungkin. Hehehe.. “ jawabku sekenanya.
Setelah makan siang ada satu sesi dimana setiap anak diberi kesempatan untuk saling memberi penilaian pada teman. Disana teman teman lain punya pasangan untuk berbicara. Sedangkan aku tak punya. Akhirnya aku ngobrol sama Mas Affan. Dan menyenangkan ngobrol bareng dia. Dia seorang pendengar yang baik dan memberikan feedback secara tepat.
Saat itu aku memang banyak ngobrol bareng dia, tapi aku tak berani menatap dia lama lama. Aku takut nanti bisa terjadi apa apa. Aku hanya menatapnya sekilas aja saat dia mulai pembicaraannya. Sampai salah satu temanku menganggap aku seorang yang pemalu karena selalu menunduk. Namun yang sebenarnya adalah ‘aku takut’.
Sore acara yang menyenangkan itu selesai. Sebelum pulang Mas Affan sempat menyapaku.
“Malika. Makasih yah. Sambil menelungkupkan tangan di depan dadanya.”
“ Sama-sama, mas”. Jawabku singkat, lalu aku pulang bareng Kirana.
Malamnya aku merasa ada yang sedang menyusup dalam hatiku. Sebuah perasaan yang sedikit demi sedikit mulai mengganggu. Kekaguman. Siang tadi teman-temannya memanggilnya Fahri. Kepribadiannya mungkin mirip Fahri, tokoh dalam buku Ayat-Ayat Cinta yang sangat berkesan. Sampai-sampai aku mengalirkan anak sungai air mata di pipiku saat membaca novel pembangun jiwa itu.
Aku shalat. Aku berdoa dalam sujudku agar Allah senantiasa melindungiku. Agar aku terlindung dari perasaan yang terlarang. Aku menangis karena aku takut aku akan menjadi lemah dengan pertemuan tadi siang. Hingga lama aku menangis, kuluapkan apa yang ingin aku ungkapkan pada Allah agar Dia menenangkan perasaan yang tak tentu ini. Dan Dia mengabulkannya. Dia Maha Menguasai Hati hambanya.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan tinggalkan jejak...