Senin, 09 November 2009

Belajar dari pohon angsana

Ini adalah sebuah kisah yang telah aku dapatkan dari halaqoh bersama Mb Mega, Angesti, Siwi, Anin, Ina, Anyak pada hari selasa 3 November 2009 di mushola Asy-Syifa FK. Sebuah tausiyah yang memberkan kesan dalam. Dan menjadi cerminan untuk mengingatkan akan sebuah rasa syukur akan nikmat Allah SWT. Cerminan yang membuat aku melihat pada diriku sendiri. Apakah aku telah berusaha untuk bertindak seperti pohon angsana itu??
Mbak Mega, murabbi yang selalu memberikan pencerahan untuk lebih meningkatkan semangat beribadah. Memberikan tausiyah tentang pohon angsana di depan fakultas Pertanian yang mulai berkembang. Selama 2 minggu ini Solo diguyur hujan. Hujan sebagai berkah dari Allah untuk penghuni bumi. Hujan yang dirindukan tanaman sepanjang tengah tahun ini. tanaman yang menunggu karuniaNya dengan senatiasa bertasbih menyucikan namaNya.
“Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun” (QS Al A’raaf : 44)
“Tidakkah kamu tahu bahwasanya Allah: kepada-Nya bertasbih apa yang di langit dan di bumi dan (juga) burung dengan mengembangkan sayapnya. Masing-masing telah mengetahui (cara) shalat dan tasbihnya, dan Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan “ (QS An Nuur : 41).
Setelah dalam penantian panjang maka Allah mengirimkan awan di atas bumi. Dan khususnya di bumi Solo yang panas selama musim kemarau. Menurunkan hujan dari awan itu untuk menyejukkan bumi dan memberi kehidupan untuk tumbuh-tumbuhan.
“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran “ (QS Al A’raaf ; 57).
Lalu setelah penantian itu terjawab. Pohon angsana segera bereaksi untuk menumbuhkan bunganya. Sebagai bentuk rasa syukur atas karunia berupa hujan itu.
“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu,...” (QS Ibrahim : 32).
Aku ingat kemarin ketika aku melewati jalan depan kampus pertanian aku melihat bunga angsana bermekaran. Bunga berwarna kuning cerah. Menghias pohonnya indah. Dan bunga-bunga mungil itu ikhlas berguguran diterpa angin. Menghujani sepanjang jalan dibawah pohon itu. Rasanya seperti suasana jepang dengan bunga sakuranya. Jika benar-benar diresapi, pemandangan itu akan mampu menenangkan perasaan untuk beberapa waktu.
Bunga angsana yang gugur juga jatuh di atas permukaan danau UNS. Menutup air danau untuk memberinya warna kuning cerah. Menjadi view yang indah untuk para pengagum alam. Belum lagi jika angin bertiup menggoyangkan dahannya dan menggugurkan bunga-bunga angsana dan aku berada di bawahnya, huf.... asyik sekali. Hujan bunga kuning.
Ketik turun karunia Allah, pohon angsana itu segera bereaksi menunjukkan rasa syukurnya lewat bunga yang memberikan keindahan untuk dirinya dan untuk manusia yang melihatnya. Saat itu UNS tak hanya hijau tapi juga ada sentuhan warna kuning yang cerah. Mengingatkan pada Allah yang Maha Kuasa atas segala sesuatu yang menciptakan keindahan sesempurna itu.
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman” (QS Al An’aam : 99).
“Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah (menyatakan kebesaran Allah). Dan Dialah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS Al Hadiid ; 1).
Dari pohon angsana itu kita ambil peajaran berharga. Sebuah pelajaran tentang rasa syukur dan upaya untuk memberikan kemanfaatan pada sesama. Pohon angsana menunjukkan rasa syukurnya pada Allah dengan menumbuhkan bunganya untuk mengindahkan dirinya dan selanjutnya mengindahkan lingkungannya. Keindahan yang pada akhirnya dinikmati oleh manusia. Upaya pohon untuk memberikan kemanfaatan dari dirinya untuk lingkungan dan manusia. Subhanallah....
Aku sendiri.. sekarang apa yang telah aku lakukan sebagai bentuk rasa syukur atas kenikmatan yang Allah berikan padaku. Kenikmatan yang tak mampu kuhitung jumlahnya.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS An Nahl : 18).
Allah yang memenuhi segala keperluanku hingga sekarang. Mewujudkan apa yang aku minta dan mencukupkan kekuranganku.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)” (QS Ibrahim : 34).
Apakah aku telah berusaha mengindahkan apa yang ada pada diriku agar aku bisa mengindahkan kehidupan saudara-saudaraku seperti pohon itu? Ataukah aku hanya sibuk untuk mengindahkan diriku untuk aku sendiri? Apakah yang aku lakukan sekarang telah mendukung tujuan untuk mengindahkan diri dengan perbaikan ilmu dan amal yang nyata?
Aku merasa masih harus banyak belajar lagi. Banyak berlatih lagi. Banyak berpikir lagi. Tentang rasa syukur dan kemampuan memberi kemanfaatan. Mengambil pelajaran dari setiap peristiwa untuk meningkatkan pemahaman akan sesuatu.
“Dan Dia menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir” (QS.Al Jaatsiyah :13).
Pemahaman untuk berbuat lebih baik dan lebih bermakna. Berbuat lebih untuk mengindahkan diri sendiri untuk mengindahkan kehidupan orang lain. Sebuah kalimat yang menginspirasi : berikanlah kemanfaatan untuk sebanyak mungkin orang. Karena orang kecil hidup untuk dirinya sendiri dan orang besar hidup untuk umat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silakan tinggalkan jejak...