Sejak pertemuan terakhir di pagi itu aku tak pernah bertemu dia lagi. Kami hanya saling mengirim sms. Aku mendapatkan nomor hp dari temannya. Dan saat iseng aku sms dia. Ternyata sms itu berlanjut. Aku hanya berniat untuk berteman saja. Pada awalnya sebuah kekaguman yang aku salutkan padanya. Selama ini aku tau bahwa dia juga pegiat Islam. Kami sering sharing tentang kegiatan sehari-hari. Saling memberikan dukungan dan nasihat saat ada yang mengalami masalah.
Affan adalah mahasiswa MIPA Fisika yang sangat rendah hati. Dari pembicaraannya tak pernah ada kalimat yang mengunggulkan siapa dirinya. Aku mengetahui siapa sebenarnya dia bukan dari dia tapi dari penuturan teman-temannya. Pernah juga suatu saat aku mendapat surprise tak terduga saat aku tahu dia adalah ketua dari UKM yang baru saja aku ikuti. Dia juga seorang ketua himpunan mahasiswa jurusan yang punya banyak teman. Namun jika aku tanya dia aktif dimana, pasti dia jawab “pelayan masyarakat”.
Selama berteman ini aku mulai mengenal bahwa dia adalah pekerja keras. Dia punya mimpi besar dan target-target yang harus diraihnya. Kadang dia juga berbisnis, aku sendiri tak tahu bisnis apa. Gaya hidupnya biasa, tapi apa yang dilakukannya luar biasa.
Hari hari berlalu, aku menyadari bahwa ada yang salah dalam hubungan kami. Hubungan kami tak hanya sekedar memberi sms motivasi tapi juga mulai mengarah ke perasaan yang lebih dari itu. Suatu ketika dia pernah panik saat jaringan telepon bermasalah sehingga sms yang dia kirimkan pending semua. Keesokan paginya sms yang sempat tertahan di awang-awang itu baru bisa terkirim ke hp-ku. Ada 14 sms darinya. Semua mempertanyakan kenapa aku tidak membalas smsnya. Dia juga mengatakan dalam smsnya bahwa dia mencoba menghubungiku lewat telepon sejak subuh, tapi tidak bisa. Dia mulai menyerah dan mengatakan dalam smsnya untuk pergi dari hidupku.
Aku sendiri kaget membaca smsnya. Aku merasa tak punya masalah apa-apa. Dari semalam memang tak ada sms apapun darinya. Siangnya dia meneleponku. Dia menanyakan kenapa sejak semalam aku tidak membalas smsnya. Aku katakan bahwa jaringan sedang trouble sehingga tak ada sms yang masuk. Ya, hanya itu yang dia tanyakan.
Sms berikutnya membuat aku lebih kaget lagi. Sms itu dikirim tiga jam yang lalu tapi baru masuk.
“Maafin aku, aku sayang kamu karena Allah”.
Ada degup yang tak beraturan dalam dadaku. Kaget, heran, seneng, ragu, bingung. Seperti ada gelombang tsunami dahsyat yang menghantam perasaanku. Aduh, aku terperosok juga!!
Setelah saat itu aku menyadari bahwa hubungan kami sudah tidak selayaknya. Aku ingin melepaskan diri dari situasi ini sebelum semua bertambah parah. Aku menyadari kesalahan ini dan aku ingin berhenti. Aku mulai membaca buku untuk menjawab problem yang aku hadapi. Aku diamkan dia.
Lalu dia mencoba meyakinkan aku bahwa perasaannya tulus dia rasakan sejak awal pertemuan. Dia mengatakan akan membuktikan kata-katanya bahwa dia akan berusaha untuk lulus dan menginginkan untuk menikahiku dengan proses yang baik. Aku semakin dihantam gelombang keras. Aku tidak ingin dia banyak berjanji karena semua berjalan atas kehendak-Nya. Aku pun menjadi protective terhadap hatiku. Aku mengatakan padanya bahwa hal paling logis yang dapat kami lakukan sekarang hanyalah berusaha meraih cita-cita dulu. Dia pun sangat mendukung kata-kataku. Kami berdua sama-sama berprinsip tidak pacaran.
Lebih jauh aku menyadari bahwa aku mulai tidak konsentrasi pada kuliahku. Virus merah jambu ini kadang melemahkan semangat. Memang benar apa kata orang bahwa virus merah jambu semakin didekati maka semakin menjadi. Tak ada yang mampu mengontrol diri jika sudah seperti ini. Dia terlalu baik. Namun aku harus bisa melepaskan diriku. Meskipun dia seperti Fahri-nya Kang Abik tapi aku tetap harus melepasnya. Berat tapi lama-lama pasti terbiasa. Aku yakin itu.
Aku tak mungkin menyimpan rasa ini sendiri. Aku menceritakannya pada Yang Maha Mendengar. Berdoa pada Allah untuk memberikan jalan yang terbaik untuk kami. Agar dia melindungi kami dan meneguhkan kami di jalan Allah. Aku merasa sudah tidak khusyuk dalam ibadah karena ada bayangnya. Allah, aku malu pada-Mu. Aku ikhlas pada takdir-Mu.
Kini sudah 3 bulan kami tidak saling menghubungi. Akhirnya aku bisa fokus pada kuliah dan praktik klinik. Setelah berusaha keras pada bulan pertama. Sedih, tapi aku harus lebih kuat. Aku ingin membuktikan janji pada kedua orang tua agar bisa lulus tepat waktu dan menjadi anak kebanggaan kedua orang tuaku. Aku kembali bersemangat karena aku ingat bahwa ayahku sudah bekerja keras untuk membiayai kuliah yang tidak murah. Ibuku selalu menyebut namaku dalam lirih doanya. Beliau selalu memenuhi kebutuhanku demi proses pencapaian cita-citaku. Ibu dan ayahku yang mendambakan aku menjadi bidan muslimah yang bermanfaat untuk masyarakat. Dan aku bertanggung jawab untuk mewujudkan mimpi ayah dan ibu.
Keyakinanku akan kuasa Allah bahwa Dia lebih tahu apa yang terbaik. Dan aku panjatkan sebuah doa pada-Nya dan aku percaya suatu saat Allah akan menjawab doa itu. Kini aku harus menyibukkan diri dengan berbagai kegiatan yang akan membuatku mengalihkan perhatian pada hal yang lebih penting. Kuliah.
“Ka, di langit bintangnya bagus yah. Cerah banget. Indah. Subhanallah...” Kirana membuyarkan lamunanku. Sejak dua jam yang lalu dia menemaniku duduk di atas balkon.
Aku menoleh dan tersenyum padanya.
“ Setiap malam, kerlipnya indah, Na. Subhanallah...” lirihku dalam hati.
Rabu, 25 November 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
silakan tinggalkan jejak...